Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Aku Ingin Menikahimu


__ADS_3

“Pahamkah?” tanya Polisi.


“Baik Pak.”


“Baiklah, kalau begitu. Kami izin dulu!” ucap Kedua Polisi itu.


“Baik, Pak. Hati-hati di Jalan.” pungkasku dengan kepala dingin.


Aku langsung menghubungi Seluruh teman lamaku, Jaki, Alfina, Satria, Rama, dan Mayang.


Kelima temanku ini Aku hubungi lagi setelah hampir 6 bulan tak ada kabar. Alfina mungkin akan jarang tampil, karena dia sudah di luar Kota dan akan pulang di waktu yang lama, Satria mungkin akan sulit juga, dan satu-satunya yang lowong hanya Jaki seorang diri saja yang masih disini. Sambil itu Aku juga berulangkali melamar kerja kesana kemari, rasanya ingin sekali melanjutkan desain


grafis yang sudah vakum hampir 6 bulan, namun kekurangan ahli dalam melatih kreativitas.


Akhirnya, pada suatu malam Aku memutuskan untuk bertemu dengan Jaki, dan Meylinda di


suatu Caffe. Namun, di malam ini sepertinya Meylinda tampak tak begitu bersahabat seperti


biasanya, apa karena Aku terlalu membingungkan soal Allysa, tapi hal itu Sudah seharusnya Meylinda sadar kalau Aku melakukan ini semua karena Perintah Polisi.


Ketika ku pandang langit dari Teras Caffe, yang kulihat ialah Bulan Purnama. Sudah seharusnya Meylinda berubah wujud menjadi sosok siluman itu, apalagi ini adalah malam jumat.


Aku terus tatap mata Meylinda, dan Jaki pun sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Meylinda terlihat sedikit gelisah, dia terus memerhatikan punggung tangannya, kalau seandainya Meylinda berubah menjadi makhluk itu, mau tak mau Aku harus bawa dia ke pinggir sungai tak jauh dari belakang Caffe.


“Jangan, Jangan.” Ucap Meylinda sambil memegang tangannya.


“Aku tak mau berubah dalam keadaan seperti ini.” Meylinda terus menepuk punggung


tangannya, tapi bulu itu terus tumbuh. Salah satu cara agar Meylinda tidak berubah ialah jangan membiarkan pikirannya kosong, Meylinda harus banyak memikirkan sesuatu dan jangan sampai emosi.


“Ayo ikut Aku ke Kamar mandi!” Aku ajak Meylinda berjalan ke Toilet.

__ADS_1


“Jaki, Kamu tunggu disini! Aku mau antarkan Meylinda dulu!” ucapku yang sepertinya Jaki


sendiri sudah tahu.


“Baik.”


Kuajak Meylinda ke Kamar mandi, tapi tak kedalam Kamar mandi. Aku berdiri depan pintu


Kamar mandi, biarkan Meylinda meluapkan emosinya. Karena kebetulan Caffe lagi dalam ramai, Aku sendiri bingung akan melakukan apa pada Meylinda.


“Mey, ikuti perintahku!” ucapku agak sedikit cemas.


“baik.” Balas Meylinda, sepertinya Meylinda sendiri tidak mau berubah dalam keadaan


seperti ini.


“Tarik nafas” ucapku sebanyak 5 kali.


“Kamu cantik.” Ucapku yang membuat Meylinda menjadi gairah.


Emosi mungkin akan meletup, tapi ini adalah emosi kebahagiaan jadi kupastikan Meylinda tak akan berubah wujud. Aku sudah melihat aura Meylinda bukan lagi seperti Meylinda melainkan dipenuhi dengan energi negatif dengan tampang mengerikan, tapi Aku berusaha diam saja, Aku terus optimis menenangkan Meylinda.


“Ayo tarik nafas lagi!” pintaku.


Meylinda menarik nafas dalam-dalam. Energi negatif itu pun akhirnya menghilang, Aku


merasa sedikit lega, tangannya kembali memutih seperti semula tanpa ada bulu apapun di tangannya. Aku jadi tenang, dan bahagia.


“Bagaimana, enakkan?”


“Iya.” Jawab Meylinda dengan tenang, sepertinya dia juga tak ingin berubah. Ternyata, caraku memang bisa dibilang manjur dimana cara itu akan ku gunakan bagi siapapun yang mau bertransofrmasi menjadi sosok mengerikan itu.

__ADS_1


Aku kembali ke tempat duduk, Disini Kita mulai rapat kecil-kecilan itu tentang rencana


pencarian Allysa. Aku memulai rapat malam itu, sebenarnya begini Allysa sudah menghilang sejak kebakaran beberapa bulan lalu, kasus ini mendebarkan suasana, karena lapas yang sempat ditinggali mengalami kehancuran, beberapa buronan banyak yang melarikan diri, namun sebagian ada yang sudah ketangkap, sedang Allysa hilang jejak sejak Meylinda bertarung di dalam sebuah Bangunan tua terbengkalai yang angker itu. Namun, keberadaan Allysa entah kemana sangat sulit


dideteksi mengingat begitu lincahnya Allysa melarikan diri.


Akhirnya, Jaki tak bisa membuat keputusan. Semua sudah sibuk diurusan masing-masing,


termasuk Aku sendiri yang sibuk mencari pekerjaan lagi, Meylinda pun belakangan ini akan pergi mencari kerja. Namun, Meylinda untuk kali kusuruh dia untuk bekerja di salah satu Toko Roti atau Rumah Makan. Kenapa Toko Roti atau Rumah Makan? Jawabannya simpel, karena Rumah Makan atau Toko Roti adalah tempat dimana-mana orang singgah, pastinya Allysa mungkin saja akan mampir di Toko Roti atau Rumah makan tempat Meylinda bekerja nanti. Pastinya, tempat kerja Meylinda harus tempat makan yang ramai atau paling laris disitu. Dan, Meylinda melamar kerja


disitu dengan mengambil jam kerja pagi saja, jika malam maka yang terjadi ini akan membahayakan bagi tempat tersebut.


Keesokan harinya tanpa basa-basi atau mengulur waktu, Aku mencari kerja di tempat yang sesuai passion ku tepatnya di Sebuah Bank, mengingat dulu Aku pernah bekerja di Bank. Dan, yang kedua Aku mengantarkan Meylinda mencari pekerjaan, kalau bisa mencari pekerjaan tepat di tengah Kota. Untuk hari pertama, Kita gagal menemukan tempat pekerjaan yang sesuai. Next, tanpa pantang menyerah, Kita mencari lagi di hari berikutnya, hari kedua, ketiga, keempat, dan lain—lain.


Setelah seminggu dengan kerasnya ku mencari Pekerjaan, akhirnya Aku berhasil bekerja di


salah satu Koperasi dengan sistem Gaji bagi hasil, artinya Aku tak mendapatkan Gaji yang tinggi tapi paling tidak Aku ada pemasukkan setiap bulannya, dan enaknya pekerjaan itu hanya membutuhkan waktu selama 6 jam kerja Perhari saja, artinya jika malam hari Aku bisa berada di samping Meylinda.


Tentunya, seminggu kemudian, Aku sudah tak bisa mengantarkan Meylinda lagi, maka kulatih dia agar mencari kerja sendiri. Ku doktrin Meylinda agar semangat mencari kerja seperti Aku, dalam satu hari melamar di 5 tempat kerja sekaligus. Akhirnya, dalam waktu empat hari kemudian, Meylinda berhasil keterima kerja di 2 tempat, satu di Rumah Makan Pak Budi, dan satu lagi Rumah Makan Joki.


Lantas, kusuruh dia memilih salah satu yang sesuai, ternyata Rumah Makan Joki lebih sesuai, karena satu sisi rekan kerjanya memang ramah-ramah, semua mau bersahabat, dan tak ada sikut menyikut antar pegawai. Lalu, kupersilahkan kerja disana, kebetulan Rumah makan ini agak sepi, maklumlah Rumah makan Prasmanan, jam kerja mulai jam 7 pagi sampai jam 7 malam, ini


membuatku harus memikirkan lagi bagaimana caranya agar dia tidak berulah disana. Mungkinkah Aku harus ceritakan pada Bosnya tentang Meylinda yang memiliki penyakit aneh.


Hari demi hari Kami jalani, hampir 4 bulan bekerja dan tak ada kabar satu pun dari Meylinda tentang keberadaan Allysa. Seakan-akan Allysa hilang lenyap di telan Bumi entah Kemana. Tapi, Meylinda semakin kesini semakin terlihat cantik, dan modis, dia sering memakai bedak yang tebal, lipstik yang merah merona, dan kadang sering mencuci rambutnya yang kian makin memanjang.


Tentu ini membuatku semakin ada perasaan cemburu padanya, apalagi saat ku datangi tempat kerjanya mulai menjelang malam, Pria-pria dengan kemeja kantoran yang berlagak parlente, sering sekali makan disitu. Lantas, Aku tak punya pilihan lain pada Meylinda.


Aku tunggu dia di depan Rumah Makan jam 7 malam. Kebetulan, Meylinda masih bersih-


bersih Rumah makan, kebiasaan ini sering dilakukan satu jam sebelum pulang kerja. Aku tunggu di Belakang Rumah makan, tepat di dalam Gang yang sudah sepi. Dalam tasku terdapat sebuah pernak-pernik bersinar yang cantik, dan mahal barusan Aku beli sepulang kerja dengan modal seadanya

__ADS_1


__ADS_2