Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Sosok Gadis


__ADS_3

“Permisi, Kak.” Ungkapku sambil menepuk bahunya perlahan.


Dia membalikkan wajahnya ke belakang. Aku malah kaget, Akumelihat dia tampil dengan muka yang penuh memerah, wajahnya memang cantik, tapi cantik itu pudar gara-gara air mata memenuhi pipinya, sebuah krim wajah tipis yang kulihat perlahan luntur, dengan parasnya yang terkesan mengharukan di mataku.


Tapi, Aku langsung mengambilkan sebuah tisu di dalam tasku.


“Ini, pakailah.” Aku berikan dia sebuah tissu basah, dan dia langsung mencomotnya, membuatku merasa lega. Satu sisi memang


pikirku dia terkesan tidak sopan.


“Maaf, kalau boleh tahu. Apakah Anda adalah kerabat dari orang yang bersangkutan?” Aku sambil menunjuk kearah belakangku tepat di daerah belakang Ruang Jenazah itu.


“Dia, Dia...Kekasihku. Aku sudah mau menikah dengannya, hanya tinggal menunggu waktu saja.” Jawabnya dengan nada yang terkesan galak.


“Ohh..itu kekasihmu?” balasku singkat, Aku tak ingin memperpanjang ucapan lagi, Aku bingung ingin bilang Apa.


Nanti disangkanya, Aku terlalu sibuk mengurus hidupnya.


“Ya sudah kalau begitu. Aku turut berduka cita.” Gumamku lagi.


“Terima kasih.” Ucapnya dia sambil mendekatiku perlahan.


Tak sampai dua detik, tubuhnya sudah menempel dibadanku. Aku merasakan kehangatan tubuhnya, dengan tetesan air mata


turun membasahi bajuku. Dia memelukku dengan erat-erat, membuatku menggeleng-geleng kepala, kenapa bisa begini?


“Maaf, Ada apa ini ya?” jawabku dengan gelagat tak peka.


“Mau enggak, Kita nikah?” ucapnya yang membuat tubuhku membeku.


Aku bingung, tumben sekali ada wanita yang ingin melamarku.


Dasarnya Aku memang selalu bimbang, kaku dalam setiap urusan, Mengapa tiba-tiba Aku harus begini?


“Maaf, bukannya Aku menolak...”


“Sudah cukup, Aku ingin menikah denganmu.” Sahutnya dia dengan cepat.


Aku sangat tak menyangka, Kenapa bisa begini? Aku sendiri bingung dengan apa yang telah terjadi, entah dia memang tak waras, atau bagaimana. Tapi, batinku terus mengamini keinginan wanita itu, percuma saja selama ini Allysa sudah punya pacar.


Maka, sudah seharusnya Aku menyetujui keinginan Dia kalau begini, sanggahku.


“Eeh..Namamu siapa?” tanyaku lagi.


“Meylinda.”


“Namaku Doni.”


Keesokan harinya, Meylinda mulai rajin menghubungiku.


Meskipun, Aku sendiri masih kurang peka, tapi Aku berusaha menghibur hatinya agar Dia tak merasakan kepedihan dirinya sendiri ketika tak ada siapapun yang menemaninya. Meylinda sering menelponku berkali-kali, Aku pun terima. Terkadang batinku merasa tak betah berada di samping Meylinda, mungkin karena Aku kurang peka.


Aku sampai melupakan sosok Allysa yang sudah sekian lama kukenal. Meylinda menjadikanku sebagai ladang curhatnya, tapi kuterus layani sekalipun berat batinku rasanya. Banyak sekali yang dia pertanyakan dimulai rencana nikah, status hubunganku, keluargaku, aibku, sampai minatku. Namun, suatu kali hampir 3 dia tak menghubungiku, Aku yang selama ini tampak tak peka dengannya, tiba-tiba merasakan saja rasa kangen yang hebat di batinku, walaupun sebenarnya Aku tak begitu peka dengannya, mungkinkah ini definisi dari cinta dalam diam yang sesungguhnya?


Kucoba hubungi dia, apalagi posisinya sedang hari minggu.

__ADS_1


Kutelepon empat sampai lima kali, namun tak dianggap sampai akhirnya kuputuskan untuk larut dalam pikiran, mungkinkah Aku selama ini


tak begitu peka di mata dia sehingga dia jadi tak menghiraukanku lagi.


Selang beberapa menit kemudian, Akhirnya ponselku di atas meja kian berbunyi.


Aku langsung penasaran, ternyata benar.


Meylinda menelponku, lantas dengan cepat Aku langsung mengangkatnya.


“Hallo, Mey. Bagaimana kabarnya?” tanyaku.


“Tumben perhatian? biasanya cuek?” balasnya dengan ketus.


“Ohh maaf, Aku kepikiran dengan nasibmu.” Sahutku.


“Dasar munafik.” Balas Meylinda yang menyakitkan.


“Kamu, Kenapa begitu? Apa Kamu lagi PMS?” Tanyaku dengan sedikit tertawa.


“Bukan Cuma PMS saja, Aku ini habis digigit anjing kuat banget tahu.” Bentaknya.


Mendengar gigitan anjing, Aku jadi keingat dengan Allysa yang digigit anjing. Aku pun langsung bercucuran keringat dingin.


“Memang kemana Anjing itu?” balasku.


“Entah, tapi dia melarikan diri ketika Aku ingin mengejarnya, anjing itu sepertinya misterius banget, dan itu pun malam pula.”


Singkat curhatnya yang membuatku cemas.


“Enggah usah repot-repot, terima kasih. Aku sudah mengobatinya dengan antiseptic.” Balas dia.


“Jangan, Aku ingin tahu persis apa pelik masalahnya.” Ucapku meyakinkan dia.


“Kenapa? Semalam setelah digigit, tubuhku langsung menggigil kuat, jantung berdebar kencang, nafas tiba-tiba sesak, telapak


tangan dan kaki keringat dingin. Tapi, setelah kuberi antiseptic.” Jelas Meylinda.


“Jangan, Kamu harus ke dokter denganku sekarang. Aku takut Kamu terjadi sesuatu.” Balas Aku.


“Tidak, tidak usah.” Bantah Meylinda dengan nada tinggi saking geramnya dia padaku.


“Oke, ya sudah. Cepat sembuh ya!” gumamku.


Dia tak menjawab ucapanku.


Panggilan itu langsung mati, Aku merasa lega ketika ternyata baik-baik saja meskipun di batin kecilku merasa tak nyaman.


Jangan-jangan, Dia akan bernasib sama seperti Allysa yang akan berubah menjadi monster menyeramkan itu.


Pikiranku terus dihantui akan Meylinda yang digigit anjing, Kepalaku malah pusing, kukalahkan pikiranku dengan segera


mengambil jaket lalu pergi menuju Rumah Meylinda. Tiba-tiba perasaanku berubah tak nyaman sama sekali dengan Meylinda. Apa


jangan-jangan Meylinda Cuma bohong agar Dia mau Aku lebih perhatian lagi. Rumahku dengan Meylinda lebih dekat jika dibanding

__ADS_1


Rumahku dengan Allysa. Itu sebabnya, Aku lebih sering ke Rumah Meylinda jika dibanding Rumah Allysa. Tapi, Aku tak tahu bagaimana


kelanjutan Allysa sekarang, setelah kukembalikan motornya yang telah disita Polisi beberapa waktu lalu.


Aku tiba di Rumah Meylinda. Meylinda memiliki nasib sama seperti Aku, hidup sebatang kara. Ayah sudah meninggal, dan Ibunya


pergi ke luar negeri, tak pernah pulang ke Rumah lagi.


Meylinda diurus oleh neneknya yang sudah cukup sepuh. Namun, untuk kali ini Meylinda sudah menjalani hidup sendiri, Dia tinggal sendiri di Rumah pembelian Ibunya.


Aku mencoba masuk ke Rumah Meylinda yang dua tingkat.


Kuteriaki nama Meylinda, tapi tak ada yang menjawab sama sekali.


Kucoba intip dari balik Jendela, ternyata Meylinda terbaring di lantai dengan kondisi tubuh yang pucat. Aku langsung kaget melihat ini, Aku segera dobrak pintu itu, dan segera membawa Meylinda menuju Rumah Sakit.


“Dia hanya kelelahan, dan sedikit depresi.” Gumam dokter itu dengan nada yang tenang.


Ketika kulihat dia terbaring di atas kasur sofa, milik Rumah Sakit.


Aku tak percaya apa kata Dokter, sekalipun yang dikatakan Dokter ialah benar.


“Lalu, Dia tidak apa-apa kan, Dokter?” tanyaku dengan gelagat tak percaya.


“Semua baik—baik saja, Dia mungkin hanya depresi, sedih, ataupun juga kelelahan.” Ungkap Dokter dengan tenang.


Aku masih tak percaya dengan ucapan Dokter, apa hanya karena Dokter melihatku yang begitu cemas saja, jadi dia membuat alasan sendiri kalau Meylinda baik-baik saja, walaupun ada sesuatu yang tak diduga ditubuhnya.


“Coba Kamu minta dia ceritakan apa yang dia rasakan? Jangan biarkan dia memendam sendiri rasa kesedihan, dan kekesalannya di


hati!” Lanjut Dokter.


Aku dengan watak polos langsung menganggukan kepala di


hadapan Dokter. “Baik, Dok.”


“Ya sudah, kalau begitu. Aku ke Ruang sebelah dulu ya, mau ada yang diurus lagi di Ruang Sebelah, kalau ada sesuatu, silahkan


panggil Saya di sebelah, ya!” ungkap Dokter


“Baik, Dok.”


Dokter itu pun akhirnya meninggalkan Ruangan dan menyisakan Aku berdua dengan Meylinda di`dalam. Sebenarnya, Ruang prakter dokter itu hanya di Ruangan itu saja, tapi berhubung


ini adalah hari minggu, dan pasien pun banyak yang datang mau tak mau, sedangkan Dokter yang lain tidak datang, maka mau tak mau


Dokter itulah yang terpaksa melayani begitu banyaknya pasien.


Aku masih duduk di depan meja Dokter, dan terus melihat kesana kemari, sesekali kulihat Meylinda yang tertidur tepat di sampingku dengan membelakangiku, kuterus tatap langsing tubuhnya, anggun tubuhnya, dan berbentuknya bokong yang sehat.


Tapi, Aku tak mau berpikir yang aneh-aneh, ku segera balik pandangkan wajahku ke arah sekumpulan kertas yang ada di meja


Dokter, dan melihat data sekaligus keluhan pasien yang sudah mampir kemari.


Sontak bola mataku ingin lepas dari lubang mata ketika melihat satu hal yang aneh tak lain adalah banyaknya nama Allysa dalam kunjungan Dokter ini. Apa ada yang aneh pada Allysa.

__ADS_1


Tapi, Akhirnya kucoba untuk berpikir positif, mungkin Allysa yang dimaksud merupakan Allysa orang lain yang tak kukenal, dengan penasaran kucoba balik kertas itu, dan ternyata Allysa yang dimaksud adalah Allysa yang kukenal selama ini. Aku langsung kaget.


__ADS_2