Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Dihantui


__ADS_3

Harapanku musnah sudah disini. Dalam hitungan detik, nasibku sudah siap nahas ditelan Allysa. Tapi, dengan cepat. Semua berubah, Meylinda datang dari atas kepala Allysa, langsung menepuk dengan


tangannya tepat di kepala belakang Allysa. Allysa kesakitan, dan jatuh.


Ini kesempatanku buat lari, menjauh. Kuputuskan kembali, dan ternyata semua orang yang ada di Warung Kopi itu melihatku.


Kok bisa? Waduh sudah cemas, melihat pemandangan ini. Semua mata tertuju kearah tempatku berdiri. Aku tak bisa berbuat apa-apa,


melarikan diri pun pasti, Mereka akan terus mencari tahu siapa dibalik dalang ini.


Aku tak bisa menjinakkan Mereka berdua agar kembali menjadi manusia Aku terpaksa melarikan diri menjauh dari mereka, bodo


amat dengan apa yang telah terjadi, jika seandainya Aku diciduk mungkin Aku siap terima kenyataan kalau Aku telah mendalangi


semua ini.


Aku kembali ke Kampung, sedang Mereka dalam hiruk pikuk berkelahi satu sama lain, tak ada jalan keluar selain kabur dari sini.


Aku masuk ke dalam Rumah Meylinda. Ada, Pak Agus jalan menggunakan Sarung, Aku sudah mengenali sosok Pak Agus sebagai


mantan RT disitu. Sosoknya yang ramah, bersahabat, setia, itulah yang kutahui.


“Doni?” dia melihatku yang begitu cemas.


“Pak, iya.” Jawabku dengan sedikit cemas.


Aku tak banyak bicara, satu cara lain ialah cepat masuk ke dalam Rumah Meylinda. Tanpa berkata apa-apa kepada Pak Agus.


Pasti Pak Agus juga keheranan melihatku yang begitu cemas.


Kebetulan di dalam Rumah, tepatnya di Kamar Meylinda ada Satria dan Alfina. Aku suruh Mereka berdua cepat kabur dari sini sebelum


masyarakat semakin tahu.


“Satria, Alfina. Ayo Kita kabur sekarang! Situasi disini sudah tidak memungkinkan.” Pintaku dengan cepat seraya menarik tangan Satria.


“Tapi, ini...” bantah Alfina.


“Sudah, nanti Aku jelaskan!” Aku dengan cepat menarik tangan Satria dan Alfina menuju motor tepat di Teras Rumah Meylinda.


Posisi Satria yang baru sadar setelah pingsan, terpaksa kugendong.

__ADS_1


Satria tertidur lelap di Pundakku, dan Aku membawa Motor milikku sendiri.


Alfina pulang sendiri. Tak jauh dari kediaman Meylinda, tepat masih di depan Gang Perumahan, Aku baru sadar, kalau Motor milik


Satria masih disitu. Astaga, Aku baru sadar, waduh bagaimana ini? Ungkap cemasku.


Aku terpaksa tancap gas menuju Rumah Satria, dan Alfina jelas meninggalkanku.


Aku tak punya jalan lain selain menyuruh Satria


untuk pulang.


Aku tak meneruskan lagi perjalananku ke Rumah Meylinda, situasi sangat tidak aman, Aku sendiri dihantui rasa takut, kenapa


bisa begini? Aku memutuskan untuk pulang ke Rumah, masuk pukul 9 malam Aku pun tiba di Rumah dengan selamat.


Aku berbaring di atas kasur, tak menyapa Ibuku disitu.


Aku langsung masuk kamar, mengunci kamarku. Mataku terus terarah ke langit-langit Kamar, perasaan panatku dihantui oleh rasa takut luar biasa, kenapa bisa begini? Aku terus terang tak menyangka akan terjadi seperti ini.


Aku terus memikirkan nasib Allysa dan Meylinda disana, paling Mereka sudah diciduk warga, dan warga telah melapor kepolisi.


Tubuhku mulai sakit, Aku terus kepikiran akan dua gadis itu. Bukannya apa, tapi saat


ini Polisi juga sedang mengindetifikasi sosok makhluk menyerupai wujud Serigala itu yang telah menghilangkan nyawa pemuda


beberapa waktu lalu.


Aku tak berani keluar Rumah selama beberapa hari, orderan ojek pun sudah beberapa kali sempat kubatalkan karena banyak alasan, Aku juga lagi dalam tidak sehat, tubuhku sudah panas sejak beberapa hari lalu, usai kejadian itu. Aku terus dihantui rasa takut akan Polisi, Maagku kambuh lagi, rasanya sesak di bagian perut terus menghantui ragaku.


Suatu siang, jam 2. Kala itu Rumahku sedang kosong, hanya Aku berbaring diatas kasur, Ibu pergi ke Rumah Temannya di komplek yang berbeda, sebenarnya Ibu juga sudah geram melihatku yang lebih dari 7 hari tidak kerja. Bahkan, Ibu pun juga sempat


memarahiku beberapa kali.


“Permisi?” teriak suara pria tua dari pagar Rumahku.


Kebetulan jendela kamarku tepat berhadapan dengan pagar


luar Rumah, jadi Aku bisa lihat siapa yang memanggil kami dari luar.


Astaga, dua orang berseragam polisi tepat berada di depan

__ADS_1


Pagar, terus mengintip Kami dari luar. Aku langsung bersembunyi,


mendadak perasaanku berubah jadi cemas, Aku bingung harus berbuat apa selain keluar dari Pintu Kamar dengan perlahan.


Jika kubiarkan ini akan semakin parah, Aku harus menuju belakang Rumah. Rasanya tubuh juga dalam keadaan tidak fit, membuatku sedikit susah berjalan, ada rasa pusing juga ketika Aku berjalan. Tapi, Aku terus menyosor ke atas Rumah menuju lantai atas yang dulu sering digunakan Ayahku sebagai tempat ternak burung.


Aku masuk ke dalam lorong yang terdapat sebuah kamar mandi kecil lantai atas. Tidak ada pilihan lain, selain keluar dari belakang lewat balkon belakang Rumah, dan itu pun Aku juga harus siap menerima kenyataan kalau tidak masuk Rumah sakit atau kuburan.


Polisi terus menyebut kata “Permisi” dari depan Rumah, sedang Aku terus berdoa jangan sampai Polisi itu bisa masuk kemari. Tapi,


yang namanya Polisi pasti tahu banyak cara agar bisa menggeledah Rumah Orang.


“Ada apa ini, pak?” kudengar suara perempuan dari luar Rumah, sepertinya itu Ibuku.


Rasa cemasku semakin meninggi, semakin berlapis. Sejak kudengar suara polisi, rasa cemasku mulai tumbuh. Tapi, ketika


kudengar suara Ibuku yang berbicara dengan Polisi, semakin parah sudah rasa cemasku. Aku tak punya cara lain, kalau Ibu yang


berurusan dengan polisi sudah pasti, Aku ketahuan Polisi.


Karena, sejak pagi sampai Siang, Ibuku masih di Rumah bersamaku.


Aku segera keluar dari Kamar mandi, langsung nekat lompat dari Balkon, tak peduli tulangku patah, atau Aku masuk Rumah Sakit yang penting Aku tak ketahuan Polisi. Dalam hitungan satu, dua, dan tiga.


Aku pun lompat, mataku terpejam pandanganku kosong, Aku tak berani melihat sesuatu yang di bawah, kebetulan lantai bawah


memang basah kuyup akibat lembab hujan semalam.


“Druakkkk.” Rasanya sakit sekali menghantam badanku, tapi Aku masih bisa berdiri, artinya tak ada patah tulang dalam diriku. Aku


langsung lari kabur lewat Gang belakang Rumah menuju jalan besar lewat Gang kecil.


Aku lupa bawa HP. Ada untungnya, ada ruginya juga.


Untungnya, mungkin Ibu tak akan bisa menghubungi keberadaanku, tapi ruginya, Aku tak bisa komunikasi dengan temanku terkait


rencanaku singgah sementara waktu di Rumah temanku.


Kalau mungkin sewaktu-waktu, Aku pulang ke Rumah dan bertemu dengan Ibu, maka Aku tegaskan, baru pulang dari Teman.


Untuk sementara waktu, Aku tenangkan diriku sebentar di Rumah Teman. Aku segera berjalan menuju Rumah Jaki yang tak jauh dari Rumahku, hanya butuh waktu 5 menit perjalanan saja.

__ADS_1


__ADS_2