
...Selamat Membaca...
“Apa? Kamu dikejar Polisi?” Jaki kaget mendengar ucapanku.
“Iya, barusan. Ada 2 Polisi entah berpangkat apa, kurang begitu jelas terus memanggil di depan Rumah.” Sahutku sekaligus menginginkan Jaki memberikan penjelasan.
“Waduh, kalau sudah berhubungan dengan Polisi itu, sebenarnya sudah berat. Dan, Aku pun selama ini sebenarnya takut kalau sudah mendengar kata berurusan dengan Polisi.” Bantah Jaki.
Aku langsung memegang kedua lengan Jaki. “Jak, tolong Aku. Aku dalam keadaan berbahaya ini!” ekspresiku terlihat cemas.
Kebetulan, Aku sendiri sudah menceritakan semua yang sudah terjadi pada Allysa dari awal sampai akhir, dan Jaki sudah paham semua.
“Sudah begini saja, Aku akan tolong Kamu. Tapi, tidak untuk semua masalah ini, ya. Kalau sewaktu-waktu berurusan dengan Polisi,
maka Aku akan angkat tangan. Kamu setuju?” balas Jaki.
“Baik, Aku siap. Tapi, Kamu tolong untuk selalu aktif kalau Aku panggil.” Tambahku.
“Jika bisa, karena Aku tak selalu stand by untukmu. Aku juga ada pekerjaan, dan Aku tidak bisa terus-menerus membantumu.”
Sahutnya.
Aku setujui saja keinginan Jaki, walaupun batinku menyimpan rasa emosi pada Jaki yang tak ikhlas menolongku, tapi ya sudahlah.
Mungkin sewaktu-waktu dia sanggup menolongku. Aku sedikit tenang. Jaki hendak beranjak dari kursi, Aku langsung tarik tangannya.
“Jak.”
“Apa lagi?” bantahnya.
“Untuk sementara ini, Aku akan tidur dan makan di Rumahmu.
Nanti sepulang dari Rumahmu, Aku akan bayar semuanya. Aku berjanji, Aku tak bawa dompet, dan hp sama sekali. Aku datang kemari dengan tangan kosong.” Imbuhku.
Jaki tampak terlihat keberatan, tapi dia masih memikirkan lagi.
“Oke wes, Aku setujui. Nanti makanmu, biar Aku yang bayarkan.”
“Baiklah.” Ucapku sedikit lega, walaupun dalam bayang-bayangku juga ada rasa takut akan Polisi tadi, tapi Aku terus membantahnya, Aku tak boleh pikir panjang.
Aku harus tanggung jawab atas masalah ini.
Malam hari, Aku kordinasikan dengan Jaki, Satria, dan Alfina terkait rencana Kami selanjutnya di Rumah Meylinda. Dan, Aku pun
juga baru ingat, kalau sepanjang hari ini Aku belum membelikan makanan untuk Meylinda. Karena, Aku hanya bermodal tangan kosong di Rumah Jaki, Aku harus meminjam uang pada Jaki.
__ADS_1
Dalam waktu setengah hari saja, hutangku dengan Jaki sudah capai 100 ribu lebih, Jaki memang intoleran denganku terkait masalah keuangan.
Tapi, Akhirnya Aku bisa berjumpa dengan Meylinda malam itu. Kejadian sudah berlangsung 7 hari lalu, tapi tubuh Allysa masih dalam keadaan lemah, begitu juga dengan Meylinda. Tapi, Meylinda masih bisa Kami introgasi terkait banyak hal.
Aku, Satria, Alfina, dan Jaki memutuskan untuk membuat sebuah satuan Tim khusus untuk menyelesaikan masalah ini.
Ditambah lagi hadirnya, Mayang selaku pacarnya Jaki, dan Rama selaku pacar Alfina yang turut membantu Kami. Kini Kami punya
Satuan yang siap menumpaskan masalah ini. Pokok masalah ini, terletak pada Allysa.
Ada beberapa point yang akan Kami selesaikan disini, pertama masalah penjinakkan Allysa, Allysa harus dibuat jinak terlebih dahulu
selama masih menggila sewaktu-waktu. Kedua, Kami terus memikirkan upaya agar Polisi tidak menindaklanjuti masalah berat ini.
Memang kutahu masalah ini berat, tapi jangan sampai dari kasus ini harus ada yang mendekam dalam penjara.
Dan, tentu Tim buatan Kami ini, didukung oleh Meylinda yang akan berusaha menghalau emosi Allysa jika meningkat. Jangan sampai Allysa berubah sebelum waktunya. Tim itu Kami bentuk di malam hari, tepat saat Allysa sedang tidur dan tak mendengar apapun pembicaraan Kami.
Aku putuskan selama kurang lebih 5 hari akan menginap di Rumah Jaki.
Ada satu kamar kosong yang dipakai kakak Jaki yang kosong, kebetulan Kakak Jaki juga sedang merantau ke Negeri tetangga, jadi Kamar itu Kosong. Aku tetap lanjutkan aktivitas,
karena kondisi tubuhku mulai fit. Aku belum bisa putuskan pulang ke Rumah, kondisi masih sangat tak meyakinkan membuat mengungsi
di Rumah Jaki.
curiga. Aku lebih baik diam, untuk sementara waktu daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Selama di Rumah Jaki pendapatanku stabil, Aku bisa membayar separuh hutangku pada Jaki. Setidaknya daripada ku terus
memberatkan Jaki.
Hari demi hari, Kami lalui. Tubuh Allysa mulai mendingin, dan kembali sehat. Aku terus terang bahagia bisa berbicara dengan Allysa yang setengah gila.
Aku merasa nyaman bisa duduk santai dengan Allysa yang membuatkan teh manis ketika ku bermain di Rumah Meylinda.
Aku terus terang bertamu ke Rumah Meylinda di saat Malam tiba, tepat memasukki jam 12 malam. Perlahan kumatikan motorku
dari depan Gang, dan membiarkannya di lapangan.
Lalu Aku berjalan masuk ke dalam Rumah Meylinda. Aku jarang tidur di Rumah Jaki,
tapi lebih sering berlama-lama di Rumah Meylinda. Sikapku terkesan menjadi nakal, bermain sembunyi-sembunyi dalam kegelapan, jika ada tetangga tahu, maka nasibku akan apes sampai disitu.
Baru sebelum adzan shubuh berkumandang, Aku harus segera keluar dari Rumah Meylinda. Tak peduli gelap, ular, setan, atau penjahat yang penting Aku harus hengkang dari Rumah Melinda apapun caranya.
__ADS_1
Aku hanya melihat aktivitas yang dilakukan Allysa dan Meylinda selama di Rumah.
Suatu malam, tepat malam ini adalah malam
keempat Aku di Rumah Jaki, besok Aku sudah harus kembali ke Rumahku. Kebetulan posisiku berada di Rumah Jaki. Dan, Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi, Meylinda tiba-tiba menelponku.
“Hallo, Mey?” tanyaku.
“Hallo, Doni.” Jawab Meylinda panik.
“Ada apa dengan Kamu, Mey. Apa jangan-jagan, ada sesuatu?” tanyaku.
“Perasaanku jadi aneh ya, apa jangan-jangan” Meylinda mulai gelisah entah kenapa.
“Ya sudah Mey, Aku sekarang segera kesana. Bagaimana dengan nasib Allysa?”
“Allysa sedang belanja makan siang di sebelah. Sudah dari tadi”
“Oke, tunggu Aku ya!”
“Baik.”
Dengan cepat, Aku langsung ke Rumah Meylinda. Aku yakin tidak ada apa-apa disana, karena hari juga masih siang,. Tak mungkin
Mereka bisa berubah menjadi aneh.
Akhirnya, satu jam kemudian. Aku tiba di Rumah Meylinda. Kebetulan, Allysa dan Meylinda sedang duduk bersama sambil
menyiapkan makanan kreasi mereka berdua. Tapi, untuk kali ini Meylinda begitu aneh denganku. Dia terus menatap wajahku tak
seperti biasa.
Baru berdiri di depan Rumah Meylinda, tak sampai satu jam akhirnya 7 orang warga sekitar langsung menyergapku.
“Dasar laki-laki hidung belang.”
“Jadi selama ini, pengganggu dua perempuan itu adalah Kamu, ya?” bentak warga.
Aku disalahkan untuk kali ini.
“Ayo sekarang ikut Kami ke Kantor Polisi!” salah satu warga langsung menarik tanganku.
Aku tak bisa melawan sama sekali, kebetulan posisiku berada dalam jalur yang menyeramkan.
Aku lebih memilih takluk dengan warga daripada melawan hanya memperkeruh masalah.
__ADS_1
“Baik pak, Saya ikut Bapak-bapak. Tapi, Bapak-bapak jangan emosi begini!” ucapku
“Sudah, Ayo ikut Kami!” gelagat Bapak itu penuh emosi. Dalam batinku, brengsek sekali Meylinda yang berusaha menjebakku disini. Kini, Aku harus berurusan dengan Polisi.