Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Kebakaran


__ADS_3

Aku pergi menuju lapas malam itu. Jauh sebelum Aku sampai di Lapas. Jalan menuju lapas sudah macet parah entah kenapa? Padahal kalau di analogikakan, jam segini bukan jam orang pulang kantor, atau aktivitas umum, tapi mengapa jalan bisa seramai ini?


Aku salip satu persatu mobil yang ada disitu, rasanya Aku menjadi ghost rider yang baru


mencicipi indahnya naik motor dengan kecepatan tinggi. Dan, akhirnya semakin dekat dengan lapas.


Aku merasa heran begitu banyaknya orang berkeliaran kesana kemari membawa ember berisikan air penuh. Sikap dan emosi Mereka terlihat tinggi beserta panik penuh teriak, ternyata ketika ku sampai cahaya oren terang tinggi di depan mataku. Semua orang tak ada yang berani mendekati tempat itu. Ternyata, si jago merah membakar lapas tempat dimana Allysa dan Meylinda di tahan.


Semua orang bersimbah lari kesana kemari, petugas sipir yang seharusnya hanya 4 orang kini lebih dari 20 orang berlari kesana kemari mengamankan narapidana yang berusaha


menyelamatkan diri. Sumber kebakaran itu memang dari lapas, Aku tak menyangka apa yang terjadi?


“Hey Kamu!” Seorang sipir muncul dari belakangku langsung menegur dengan memukul kepalaku.


“Iya, Pak.”


“Akibat ulah temanmu, lapas ini jadi kebakaran.”


“Hah? Bagaimana bisa?” Aku juga kaget kenapa ini bisa terjadi.


“Temanmu sudah berubah menjadi siluman itu, malah merusaki instalasi listrik disini. Kamu


harus tanggung jawab!” Seorang sipir itu benar-benar marah padaku.


“Baik, Pak. Aku bersedia tanggung jawab.”


“Sekarang.”


Aku langsung cari keberadaan Allysa, dan Meylinda. Aku mengikuti arah Sipir itu


mengevakuasi korban. Motor ku taruh ditengah jalan menambah protes massa dimana Motorku satu-satunya langsung dijatuhkan oleh warga, dan mobil pun baru pada bisa berjalan. Jalan memang macet parah.


“Berhenti disitu!” seorang sipir berteriak dengan gelagat regu tembak menyuruhku berhenti tepat di samping pagar lapas yang tak terkena kebakaran.


“Maaf Pak, ada apa?” tanyaku.

__ADS_1


“Anda adalah teman dari Saudari Allysa?” tanya Seorang sipir itu.


“Betul, Ada apa?” tanyaku balik.


“Kami minta Anda untuk turut aktif, bertanggung jawab, dan mendukung penuh kinerja kepolisian untuk menangkap kembali Allysa.” Jelas seorang sipir itu di tengah kerumunan teman-temannya.


Aku tak berani bertanya lagi, kalau bertanya ini nanti akan memperkeruh kondisi apalagi


gelagat Mereka sekarang lagi dalam membenciku. Aku hanya mengamini saja keinginan Mereka, dan kulangsung putuskan untuk cari keberadaan Meylinda. Meylinda lagi bersembunyi dimana.


Aku mencoba lari ke Gang belakang lapas. Kebetulan area belakang lapas terbilang sepi,


karena daerah ini mengalami sedikit sekali efek kebakaran, bahkan tidak sama sekali.


“Doni.” Seseorang memanggilku dari belakang.


Kubalik ke belakang, ternyata itu Meylinda.


“Meylinda?” ucapku setelah membalik ke belakang. Kulihat Meylinda dalam tubuh yang


“Kamu tahu dimana Allysa sekarang?” ucapku sambil menggenggam erat lengan Meylinda.


Meylinda hanya menatap kosong dan polos saja. Mendengar kegeraman ucapanku. Aku melihat sebuah bulan di atas kepala Meylinda, Aku pun kaget kenapa Meylinda tidak berubah. Seharusnya, Meylinda juga berubah.


“Kamu...Kamu kenapa tidak berubah?” tanyaku dengan nada perlahan.


“Tidak, jangan bilang begitu?” bantah Meylinda.


“Lalu, Kenapa Kamu masih manusia.” Setelah berucap itu, Aku baru menyadari kalau Aku


selama ini terkesan bloon, mengapa? Tidak seharusnya, Aku mengucap begitu. Itu seakan-akan Aku memperkeruh masalah.


“Tidak.” jawab Meylinda dengan tatapan mata yang aneh, tiba-tiba ekspresi Meylinda


berubah menjadi cemas, keringat mulai mengalir deras di pipinya. Dan, Aku mulai sadar ini salahku dalam berucap. Aku rasa cara ini salah sekali untuk masalah ini.

__ADS_1


Dengan kencang, akhirnya Meylinda mendorongku ke samping hingga jatuh, Aku langsung terjatuh. Bokongku ketatap kencang kearah tanah aspal rasanya sakit sekali. Dan, Meylinda berlari kencang lebih kencang dari biasanya. Aku sudah menyadari kalau Meylinda siap berubah.


“Meylinda...” Dengan cepat Aku mengejar Meylinda dari belakang. Walaupun larinya kencang sekali hingga mengaburkan pandanganku, Aku terus mengejarnya entah bagaimana. Aku rasa kecepatan lariku hampir sama dengan seekor Impala di Afrika, belok kesana kemari, mengikuti arah Meylinda berlari.


Kita menyusuri tempat yang semakin sepi jauh dari kerumunan warga, lingkungan sudah tak


lagi bersahabat. Aku mencium bau menyan di sepanjang hidungku, sedang Meylinda berlari ke sebuah jalan yang cukup sepi, tak ada siapapun disana. Namun, kulihat bangunan tua menjulang tinggi, dengan dipenuhi semak belukar tinggi membahana menutupi semua jalur masuk menuju Bangunan tua itu.


Tanpa disadari, Posisiku di Belakang Meylinda. Tiba-tiba Meylinda melempar jaket, mengenai


kepalaku. Brengsek sekali, Aku sedikit geram, karena pandanganku tertutup. Aku tak melihat di bawah ada sebuah selokan. Kakiku langsung terperosok disana, awalnya kaki kiri, selang beberapa menit kemudian baru kaki kanan jatuh. Baru diikuti tubuhku jatuh untuk kedua kalinya.


Saat ku dalam posisi tertidur, Aku mendengar suara auman kuat seperti auman anjing di


dalam Gedung hantu itu. Dengan cepat, Aku segera bangkit dari situ, segera menuju dalam Gedung hantu itu. Perlahan-lahan Aku memasukki bangunan dan bersembunyi di bawah pilar-pilar bangunan, selepas itu langsung perlahan masuk dan bersembunyi dalam sebuah liang yang gelap setinggi 1,2 meter saja.


Namun, karena Gedung itu lama tak terurus, dan atapnya pun sudah tak tertutup lagi, kulihat


bangunan empat lantai ini menjulang keatas dan sudah tak tertutup lagi. Tapi, anehnya ketikabkulihat di atas ada seekor siluman raksasa yang kuduga adalah Meylinda, posisi Meylinda masih di bawah, setahuku. Kapan dia dengan cepat itu naik ke atas.


Tak lama, Meylinda langsung melompati satu persatu tangga iitu dengan cepat gerakkan


bergaya parkour langsung melompati satu persatu lapisan Gedung yang rusak bergerak kearah Serigala siluman yang ada di atas itu.


Dengan cepat, Allysa langsung turun dan menghantam wajah Meylinda hingga Mereka


bertatapan di keramik lantai 2. Suara tatapan jatuh Mereka berdua memang kuat sekali, hingga nyaris menggetarkan kupingku. Selain itu dampaknya juga serpihan atap lantai dua langsung berjatuhan di kepalaku.


Mereka mulai bertarung disana.


Aku dengan cepat langsung menaiki tangga menuju lantai Dua, sepertinya Mereka juga saling


guling-mengguling yang dimana entah Mereka di bawa kemana. Allysa, dan Meylinda begitu cepat menghilangnya, Aku sendiri tak tahu kemana mereka? Aku ingin masuk ke dalam lorong lantai dua yang ada di depanku tapi itu terlihat mengerikan, sangat dalam Maka terpaksa Aku langsung turun kembali ke lantai Dasar. Tak lama kumelangkah kaki di salah satu anak tangga, Seekor siluman itu mendekatiku dengan cepat, posisinya tertidur. Sepertinya dia kalah berantem, Aku sempat kaget.


Kupastikan ini bukan Allysa, namun ternyata kulihat matanya ternyata dialah Allysa. Sontak

__ADS_1


Aku langsung kaget, apalagi dihadapanku mulutnya langsung melebar kuat. Waduh, apes nasibku.


__ADS_2