Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Si Mantan


__ADS_3

“Halo, Doni.” Sapa Alfina.


“Halo, Al.” Doni menegakkan badannya di kursi.


“Bagaimana, Apa yang sebenarnya terjadi?” pungkas Alfina.


“Sebenarnya begini, saat Kita masih SMA, Apa Kamu sering merasa aneh pada diri Allysa?” tanyaku.


Alfina berpikir sebentar. “Tidak, memang kenapa?”


“Waktu itu, Aku dan Allysa sempat menghabiskan waktu menjelang maghrib di sebuah Rumah makan Prasmanan, lalu suatu


ketika ada seekor anjing mencuri makanan milik Allysa. Anjing itu segera melarikan diri, dan anehnya anjing itu bersembunyi di balik semak-semak.


Kita kejar anjing itu sampai mendekati tempat yang menyeramkan, tak lama Allysa berusaha mencari anjing itu dan anjing akhirnya muncul di kaki Allysa lalu menggigitnya hingga luka-luka.


Sejak saat itu, Allysa terkesan aneh. Dia bisa berubah menjadi makhluk raksasa yang menyeramkan, tapi karena saat itu Aku masih terlihat bodoh, jadi Aku tak begitu menghiraukan apa yang sudah terjadi, kalau sesungguhnya Allysa sudah menjadi makhluk itu.” Ceritaku.


“Lalu, setelah sekian lama Aku tak menemui Allysa, sampai akhirnya suatu malam Aku dapat pesanan makanan ke Rumah Allysa.


Karena di waktu itu, Aku begitu apatis dengan Allysa.


Maka dengan cepat, Aku segera pergi meninggalkan Allysa. Tapi, faktanya Allysa


malah malah mengejarku hingga tak sadar Aku menabrak geng motor. Geng motor itu marah, lalu menyiksaku habis-habisan. Tapi,


Allysa muncul dan baku hantam dengan Allysa. Mengingat Allysa sendiri sebenarnya jago silat, membuatku merasa lega dengan kehadiran Allysa. Tapi, semua berubah ketika bulan purnama muncul.


Allysa melarikan diri dari kerumunan itu dan berubah menjadi sosok serigala setan itu di tempat kosong, tanpa disadari Allysa telah


menghabisi semua anggota Geng motor itu dengan cara yang sadis.


Menyadari betapa seramnya itu, Akhirnya Aku lebih memilih menjauh. Saat Allysa mulai sadar dan berubah wujud menjadi manusia, Allysa baru menyadari kalau dirinya sebenarnya dirasuki oleh setan serigala itu yang membuatnya bisa berubah menjadi


sosok itu, setelah kuceritakan semua itu.” Tambahku.


“Berarti selama ini Allysa tak sadar kalau dirinya, bisa berubah wujud menjadi serigala setan itu?” tanya Alfina.


“Betul, Dia tidak tahu sama sekali karena posisi dia sedang tertidur, ataukah memang dibuat bodoh. Tapi, setelah kuceritakan semua.


Allysa baru menyadarinya. Disitu Allysa mulai depresi.” Jelasku.


“Suatu kali, Aku sempat diajak Pihak Kepolisian untuk menyelesaikan kasus masalah terkait Allysa itu di Kantor.


Polisi itu mengajakku ke Rumah Sakit untuk mengindetifikasi terkait kasus itu, berhubung motorku dan motor Allysa berada di TKP, maka Aku terpaksa harus berurusan dengan Polisi. Bahkan, saat Polisi curiga dengan Allysa lewat motornya, Aku berusaha membohongi Polisi


dengan berbagai alasan kalau Allysa memang tidak tahu. Polisi saat ini masih terus mencari korban itu beerada. Nah, saat Aku di Rumah


Sakit, Aku bertemu dengan seorang gadis yang kebetulan merupakan kekasih Korban yang meninggal akibat perbuatan Allysa. Dia adalah


Meylinda.


Kebetulan, sosok Meylinda ini adalah gadis sebatang kara yang akan menikah dengan pemuda itu satu bulan kemudian.


Harapannya adalah agar hidupnya ada yang menemaninya. Tapi, dugaanku itu semua salah, pemuda itu malah tiada. Dan, membuat Meylinda sempat depresi. Hal ini sama terjadi seperti apa yang Allysa


rasakan saat ini.” Jelasku lagi.


“Dan, sekarang mirisnya. Allysa tinggal bersama Meylinda. Aku awalnya tak sempat berpikir, tapi Aku baru sadar sekarang. Aku

__ADS_1


terkesan bodoh jadinya.” Tambahan dari Aku lagi.


“Waduh, Bagaimana ya?” Alfina juga ikut panik.


“Aku hanya khawatir kalau sampai Allysa menceritakan semua apa yang telah terjadi.” Balasku.


“kalau menurutku tidak begitu, sih. Soalnya juga Dia lagi setengah amnesia, tapi yang kutakutkan nanti Dia memperlakukan yang aneh sampai menghilangkan raga dan nyawa Meylinda, itu saja.” Tanggap Alfina.


“Bisa juga ya.”


“Maka dari itu, Kita harus cari solusi untuk masalah ini!”


“Apa kira-kira?” sahutku dengan cemas.


“Oh Aku ada ide. Apa perlu kita cari mantan Allysa?” Alfina memberiku solusi.


“Satria?”


“Betul.”


Sebentar Aku memikirkan solusi Alfina.


“Lalu, Apa yang harus kita lakukan pada Satria?” tanyaku lagi.


“Coba Kita bujuk rayu Satria, agar dia mau melatih ingatan kembali Allysa, dan dia menghilangkan rasa depresi di hati Allysa.”


“Apa Kamu sudah punya channel untuk dapatkan informasi Satria sekarang?Kalau punya, apa perlu Kita temui dia sekarang?”


Aku masih ragu-ragu.


“Sepertinya, Aku masih punya nomor hpnya. Sebentar!” Alfina dengan semangat mencari nomor hp Satria.


“Oh, ini dia!” ucap Alfina dengan semangat, “sebentar biar Aku telepon Dia!” ucap Alfina, Aku merasa senang sekali mendengar


ucapan itu.


Alfina langsung menelpon Satria. Sebenarnya Allysa punya banyak mantan mengingat Allysa sangat familiar dengan siapa saja, tapi yang kukenal hanya Satria saja, mungkin karena Satria bisa bertahan lama dengan Allysa.


Dan, lagipula yang sering muncul disini


ialah Satria.


“Bisa, dia bisa kemari!” Alfina mematikan hpnya setelah menelpon Satria. “Kebetulan posisi Satria sedang berada di Kampung halaman.” Tambahnya.


Aku merasa lega.


“Syukurlah.” Ucapku. Akhirnya, Aku dan Alfina menunggu kedatangan Satria, memang cukup lama sampai menjelang sore, karena kebetulan juga Satria dikenal pemalas, tukang ngaret, tapi diabtetap laksanakan.


Sampai jam setengah 6 sore, baru dia datang.


“Bagaimana kabarnya?” Satria baru sampai di Caffe, dengan penampilan sedikit berbeda, cenderung lebih glamour, sebenarnya


Aku sendiri tidak kenal dengan Satria, hanya sebatas tahu saja.


Justru, Alfina lebih kenal Satria. Karena Alfina bagian dari OSIS dulu.


“Apa kabar?” Satria dengan familiar menyalamiku dan Alfina di kala kian lama Aku menunggunya.


“Baik.” Jawabku.

__ADS_1


“Ada apa kalian memanggilku kemari?” Satria juga memang sesungguhnya suka bercanda.


Panjang sekali apabila kuceritakan semua yang sudah terjadi, dan tak mungkin juga Aku akan ceritakan semua.


Memakan banyak waktu, kusuruh Alfina untuk menceritakan sedikit cerita tentang apa


yang telah terjadi pada mantan kekasih Satria, Allysa.


“Allysa sekarang depresi, entah kenapa Dia bisa menjadi berubah seperti ini.” Ucap Alfina.


“Aku sekarang sudah tidak memikirkan Allysa lagi.


Aku sudah punya pacar lebih cantik dan baik dari Allysa.” Sanggah Satria.


Sontak Aku dan Alfina langsung menyanggah dengan kuat,


“Bukan begitu...”


“Lalu, Kenapa?” Satria mulai emosi.


Kini, Aku harus menjelaskannya dengan ringkas. Kucoba rangkum semua yang sudah ku alami pada Allysa.


“Allysa punya kekuatan supranatural. Dia bisa berubah menjadi serigala setan yang sudah menghilangkan raga dan nyawa orang.


Beberapa waktu lalu, Dia bahkan sampai menghilangkan keluarganya sendiri.


Pernahkah Kamu dengar berita terkait kasus kriminal keluarga di Kota ini beberapa waktu lalu. Nah, itu ada kaitannya dengan Allysa.” Pungkasku.


“Hahahaha....” Satria tertawa.


“Kenapa Kamu tertawa?” Aku mulai geram.


“Tidak kenapa-kenapa. Itu bukan urusanku, hahahaha” Aku dan Alfina sempat terdiam sebentar. Kita saling bertatapan.


Tak lama HP bunyi, telepon dari Meylinda. Aku tinggalkan Mereka berdua duduk bersama, Aku langsung menuju kamar mandi mengangkat telepon Meylinda.


“Halo, Mey. Ada Apa?”


“Doni, bisa kesini sebentar tidak. Tiba-tiba Allysa jadi aneh, mukanya menyeramkan?” suara Meylinda berubah mencemas. Aku


pun jadi ikut cemas, ini kesempatanku buat mengajak Satria agar dia percaya dengan apa yang sudah terjadi pada mantannya.


“Baik, Aku akan kesana. Tunggu disitu, ya! Jangan kabur dulu.


Kebetulan sebentar lagi Aku akan kesana.” Ucapku sekaligus menenangkan Meylinda.


“Iya, hati-hati di Jalan.”


Aku langsung mematikan HP. Segera berlari menuju tempatku tadi duduk.


“Satria, Alfina. Ayo ikut Aku sekarang!”


Alfina mungkin sudah tahu, tapi tidak bagi Satria. Satria malah terlihat bingung di depanku.


“Hah? Pesananku belum datang?” ucap Satria.


“Sudah, Ayo ikut Aku!” kutarik tangan Satria tak peduli Dia mau marah atau tidak.


Satria tak banyak bicara, malah bingung. Dan, akhirnya kubawa dia pergi. Menuju Rumah Meylinda. Aku, Alfina, dan Satria berangkat menuju Rumah Meylinda sekarang.

__ADS_1


__ADS_2