Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Perang


__ADS_3

Aku, Alfina, dan Satria tiba di Rumah Meylinda, meski keadaan sangat tak memungkin-mungkin saja, dan beberapa kali Kami kesasar di Jalan karena saking terburu-burunya mencari Rumah Meylinda.


Situasi ini memang darurat. Dan, Kami tiba di Rumah Meylinda tepat jam 6 sore, langit sudah mulai menggelap.


Seperti yang diketahui Rumah Meylinda memang situasi tenang,.nan damai. Akan berbahaya sekali kalau seandainya Sosok setan


serigala itu muncul di sekitar lingkungan Rumah Meylinda.


Kucoba langsung masuk ke dalam Rumah, disusul Alfina dan Satria walaupun Aku juga sebenarnya takut luar biasa, mengingat kasus kematian geng motor itu akibat ulah Allysa.


“Mey, sini menghindar!” Aku masuk ke Kamar Meylinda.


Kulihat muka Allysa sudah rusak parah, Satria, dan juga Alfina pun merasa aneh dengan kejadian ini.


Aku segera selamatkan Meylinda dari atas kasur untuk segera lari ke luar Rumah, dan


kusuruh Alfina untuk membawanya, sedangkan Aku dan Satria berusaha menenangkan Allysa yang kumat.


Masalahnya ini adalah pemukiman warga, jangan sampai suasana sepi ini terusik akibat keramaian suara jeritan Allysa yang menggelegar.


Tubuh Allysa mulai membengkak, wajahnya sudah hilang rupawan, Aku dan Satria tak bisa berbuat apa-apa lagi selain membawanya pergi.


“Don, Saya tutup wajahnya pakai bantal.” Satria langsung menutup wajah Allysa dengan bantal sambil menindihnya di Kasur.


Suara jeritan itu mulai berkurang, tapi masih bisa kudengar, dan parahnya jeritan itu semakin terus dia ulang berkali-kali.


Aku kehabisan akal akhirnya menemukan obat tidur dengan cepat kumasukan obat tidur itu ke mulut Allysa yang terus menjerit.


Allysa sempat terdiam, Satria mulai melepaskan pegangannya tapi dia juga masih ragu-ragu, dan Aku sedikit tenang.


“Kenapa Allysa bisa begini ya?” ucap Satria sambil bingung-bingung.


“Masalahnya Kamu kalau Aku ceritakan, tak mungkin percaya.” Bantahku.


“Bagaimana...” dengan cepat Allysa langsung mendorong Satria lagi sampai Satria menatap tembok, Allysa kembali kumat.


Kali inibsemakin menggila-gila, emosinya semakin dahsyat, dengan cepatbtubuhnya mulai mengembang dan berubah kecoklatan.


Kulihat Bra miliknya lepas dari badan, tapi Aku tak boleh berpikir begitu, Satria bangkit langsung segera membawa Allysa naik ke Kamar atas milik Meylinda.


Aku dan Satria langsung membawa ke kamar atas. Beruntung di Kamar atas terdapat sebuah balkon yang menatap ke Taman kosong,


tapi di sebelah sana terdapat pemukiman warga yang lumayan padat.

__ADS_1


Untuk itu Kami berusaha melemparkan Allysa dari atas balkon ke tempat yang sepi.


Tugasku adalah melemparkan Allysa ke bawah,


dan Satria yang membawa Allysa menjauh dari pemukiman warga.


Kulempar Allysa yang setengah raksasa ke bawah, dengan cepat Satria langsung bergerak menuju pintu belakang Rumah, sambil menerima Allysa untuk dibawa jauh dari pemukiman warga sebelum bertransformasi lebih parah lagi.


Akhirnya Satria pun bisa dengan terus menyeret kakinya.


Tak lama berselang itu, HP ku berbunyi. Aku segera periksa, barang kali ini sangat penting. Ternyata benar, telepon itu urgent dari Alfina. Kalau ada kejadian aneh lagi pada Meylinda. Dan, parahnya lagi, Alfina membawa Meylinda ke Posko Ronda.


Aku sebenarnya sudah tahu apa yang akan terjadi pada Meylinda, tapi Aku enggak memusingkan masalah itu, karena bagiku masalah Allysa saja sudah bikin pusing apalagi ini.


Aku langsung cepat turun, dan segera lari menuju Pos Ronda.


Karena, sering main ke Rumah Meylinda. Aku sudah tahu letak Pos Ronda itu berada, lokasinya tak jauh dari Rumah Meylinda, hanya


saja disitu sering ramai warga. Cara yang dilakukan Alfina memang salah, tapi Aku bisa memakluminya mungkin saja Alfina tidak tahu.


Ku tiba di Pos, kulihat tubuh Meylinda sudah seperti Allysa, tak jauh berbeda, sudah saatnya Aku harus membawa Meylinda, menjauh dari Pos. Keadaan Komplek memang lagi sepi, tapi bukan berarti Aku membiarkan seakan-akan Aku hanya membuat kegaduhan.


“Alfina, bawa Meylinda ke Kebun!” teriakku.


Kebetulan sepanjang larian itu, Meylinda sudah berteriak layaknya orang kesakitan disiksa tujuh pecut sekaligus. Dan, Kita sampai di Kebun itu, minim lampu, agak jauh dari pemukiman warga, maklumlah perbatasan dengan Desa tetangga. Disitu, ada Allysa yang sudah berubah wujud menjadi sosok serigala misterius dengan tubuh Raksasa.


Sejak kejadian waktu itu, Aku jadi takut luar biasa dengan Allysa.


Jangankan Aku, Satria saja sampai pingsan tepat di depan samping Allysa.


Aku tak mampu berbuat apa-apa, tapi terus terang Aku ingin segera menarik Satria sebelum dihabisi oleh Allysa.


Dengan cepat Aku pun langsung berlari kearah Satria yang tertidur. Sontak kali ini, Allysa sangat tak bersahabat denganku, Aku berlari dia juga ikut lari kencang ingin menyergapku.


Terpaksa dengan cepat Aku menunduk, dan Allysa siap menyergapku.


Perasaanku sudah takut, tapi kurasa semua tak ada perubahan.


Ternyata, Allysa baru saja didorong oleh seekor siluman serigala yang lebih kecil dari Allysa. Perubahan wujud Meylinda memang berbeda dengan Allysa. Tubuh Meylinda jauh lebih kecil, dan cara bertarungnya pun masih jago Allysa.


Ini kesempatan hangat buatku untuk menarik Satria, ku berlari kearah Satria, dan akhirnya Aku tiba di samping Satria.


Satria langsung kubawa dia mendekati Alfina. Sedang Alfina sendiri ketakutan parah melihatku suasana mencekam itu.

__ADS_1


Ketika ku sampai di samping Alfina. Tak lama, siluman Meylinda persis menabrak punggungku, Aku merasa kesakitan untuk kali ini, karena kepalaku menatap tanah, kebetulan kencang sekali.


Bibir langsung berdarah, sempat mendengar sebentar teriakkan Alfina.


Dan, Akhirnya kuberusaha lari lagi.


Allysa dengan kencang langsung menerkam, Meylinda dengan mencabik-cabik tubuhnya, Aku dan Allysa lebih memilih lari menjauh karena sudah tidak aman, walaupun akhirnya penglihatanku sedikit kabur. Tak lama, dari arah sebelah barat muncul sebuah motor dengan lampu yang terang mengarah ke wajah Allysa. Teriakkan


Allysa semakin kencang, membuat pengendara itu memutar balik lagi.


Meylinda mendepak Allysa lagi. Aku, Alfina, dan Satria lebih memilih mengungsi di Rumah Meylinda.


Biarkan Mereka bertarung disitu sampai habis waktunya, tapi yang kucemaskan kalau ada warga lewat, dan melaporkan ke pihak keamanan


“Sudah, kalian tenang saja disini! Aku akan kembali kesana.” Ucapku.


“Ini? Ini? Ini asli, kah? Atau, Kenapa Mereka bisa begini? Tolong jelaskan!" marah Alfina padaku.


“Benar, tapi jangan ganggu dulu! Aku ingin kesana.” Ucapku sambil terburu-buru.


Dengan cepat Aku menuju ke TKP lagi.


Baru keluar Rumah Meylinda, sudah kulihat Mereka malah mendekati Komplek.


Perasaanku sudah semakin cemas, bagaimana cara menghentikan Mereka. Aku harus pasrah kalau sewaktu-waktu Aku harus memertanggung jawabkan semua ini. Aku sudah semakin cemas.


Pikiranku sibuk, ide pun hilang, salah satu jalan terbaiknya ialah, cepat Aku harus mendekati Mereka berdua. Allysa memang lebih jago bertarung dibanding Meylinda, mungkin karena dia juga pendekar. Aku tetap mendekati Allysa, dan Meylinda.


Mereka pun langsung melihatku. Aku harus hati-hati karena cakar Mereka itu bisa melubangi tubuh orang.


Aku langsung dekati Mereka dengan hati-hati, ternyata Allysa yang lebih sensitif. Dia mengejarku, dan Meylinda lah yang melindungiku.


Aku terus berlari, menjauh dari Komplek, menuju tempat semakin jauh, semakin gelap, walau di dalam jiwaku ada rasa was-was, kalau seandainya dia muncul tiba-tiba di depanku, nasibku sudah habis sampai disini.


Aku masuk ke dalam kebun pisang, dan Aku masih bisa melihat Allysa terus mengejarku. Beberapa kali, Meylinda dari belakang berusaha menarik badan Allysa, tapi ternyata gagal. Allysa memang berusaha menangkapku, entah mau diapakan. Aku harus segera pindah lokasi, karena Allysa terus mengejarku dan Meylinda belum tentu bisa menghambatnya.


Tubuh, Allysa terus dia tarik dari belakang, Aku terus menjauh. Dan ketika kuberlari, ku baru ingat, disana ada warung kopi.


Kalau Aku berlari ke warung kopi, maka kurasa ini salah kaprah.


Mengingat di Warung Kopi itu banyak orangnya. Kucoba berlari kearah kanan, tapi ada pemukiman warga lagi.


Apa yang harus kulakukan semua akan sia-sia. Tak disangka, Allysa tiba di belakangku,

__ADS_1


mulutnya sudah ingin melahapku. Aku membalikkan wajah ke belakang, dia berdiri di atas pohon, dengan badan menjulur ke bawah. Gawat!!!


__ADS_2