Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Sosok Raksasa


__ADS_3

Anjing itu berlari menuju pedalaman kebun itu, sepertinya kebun itu liar yang lama tidak diurus oleh warga Kampung. Banyak sekali pepohonan di Kebun itu, dan Aku pun langsung merinding betapa sepinya kebun itu. Dan, tak lama mataku tertuju kearah sebuah nisan tua berjumlah banyak sekali tepat di depanku, dan kusadari disini adalah pemakaman. Sedangkan, depan nisan itu adalah aliran sungai entah kemana.


“Alysa, Apa Kamu enggak takut disini Kuburan?” Aku mengeluhkan situasi ini, karena Aku tak biasa berada di tempat gelap seperti ini.


“Sudah, Kamu tunggu sini saja! Biar Aku yang masuk ke tempat ini.” Allysa kini bernada sedikit serius, Ku berdoa semoga saja Allysa


dalam keadaan baik-baik saja hingga nanti.


Dan, Allysa pun berjalan mengikuti arah anjing tadi berlari, sepertinya anjing-anjing berlari kearah tempat gelap dengan langkah perlahan, tapi entah kenapa malah Aku yang takut.


Tiba-tiba muncul anjing raksasa seukuran anjing herder lebih besar dikit, sepertinya seukuran serigala, tapi Aku melihat dari


kejauhan bukan seekor serigala. Dia segera menggigit kaki Allysa, dan Aku pun sontak langsung kaget.


Aku tak biasa berbuat dalam mengambil tindakan, Aku terbiasa dalam zona nyaman, menyadari hal seperti ini Aku malah bingung


sendiri. Tapi, anehnya Anjing itu langsung berlari meninggalkan Allysa yang terus memegang kakinya sambil perlahan turun kesakitan.


“Ahhh....”Allysa berteriak kesakitan, mau tak mau Aku yang dalam kondisi bingung langsung lari kearah dia.


“Allysa, Kamu kenapa?” gumamku.


“Aduh, Aduh...” Allysa dengan cepat langsung menggenggam telapak tanganku, ketika dia sudah duduk sambil memegang betisnya


yang terkena gigitan itu.


“Doni....Doni...Kenapa tiba-tiba kepalaku pusing?” Allysa dengan cepat memegang kepalanya, sepertinya Allysa benar-benar


tidak berdaya untuk kali ini, matanya perlahan seperti kelelahan dan memaksa untuk tertutup. Allysa akhirnya melemah, dan pingsan di

__ADS_1


kakiku. Sosok gadis yang baru ku kenal hari ini, ternyata mengalami nasib nahas di depanku.


Kini ku sendirian di kuburan itu, ditambah situasi gelap dan sepi lagi. Aku takut anjing, setan, ataupun penjahat. Ku coba buka saku


celana Allysa untuk mengambil sebuah Handphone, tapi sayang Allysa mengunci handphonenya, kepalaku langsung membatu. Aku bingung mau berbuat apa, salah satunya adalah memanggil warga sekitar untuk membantunya, tapi karena ini masih dalam posisi maghrib, apalagi situasi di kuburan lagi, mana mungkin ada orang disini pikirku.


Terpaksa, akhirnya Aku menggendong Allysa. Tapi untungnya Allysa tidak terlalu berat bagiku, mungkin karena dia atlet. Dia harus jaga stamina berat badan, mau tak mau tuubhnya pun terasa langsing. Badannya langsung hangat, sebelum anjing itu balik lagi dan menggigitku, Aku harus segera hengkang dari tanah kuburan ini.


Beruntungnya motor Allysa adalah matic, Aku bisa membawa motor matic daripada motor gigi. Allysa tertidur di belakangku, tapi


Aku tak tahu Rumah Allysa. Sebelum jalan, kupastikan dompet Allysa sudah kulihat, kubuka dompet itu tanpa mengambil uang di dalam, sebuah KTP berwaarna biru muda, kulihat alamatnya.


Alamat Rumah Allysa memang kutahu persis, tapi sayangnya jauh dari lokasi kuburan saat ini, dan itu pun ditempuh lewat jalan besar. Bagaimana ini jika Aku membawa Allysa dalam posisi tidur seperti ini? Ya sudah akhirnya, mau tak mau, bisa atau tidak bisa, Akhirnya mesin kunyalakan, motor ku kemudikan dengan kecepatan sangat lambat sekali, begitu juga ketika keluar dari Gang. Aku hanya mampu membawa sekitar 30 km/jam saja.


Allysa memang pingsan tak berdaya, beberapa kali Aku bawa rasanya Aku ingin terjatuh bersamanya. Ternyata ini tidak seperti yang dipikirkanku tadi, terasa ringan. Ini malah terasa berat sekali, pundak Aku terasa seperti membawa beban lebih dari 60 kg.


Setelah empat menit berkendara, karena Aku lambat membawa motor itu. Aku merasa seperti banyaknya serpihan bulu jatuh ke celanaku, semua ini membuat Aku enggak fokus, dan akhirnya ku tengok lama, ternyata seperti serpihan bulu anjing.


Tapi, Akhirnya kucoba tarungkan dengan logika berpikir sehatku. Mana mungkin, bulu dari kaki bisa sampai ke tangan, kalaupun ketiup angin dia pasti akan terbang. Lalu, kulihat lagi dan


ternyata....


Tangan itu berubah dipenuhi bulu, mendadak motor itu pun juga menjadi berat parah, perasaanku berubah drastis seperti adanya


kejanggalan dari Allysa, mana jalan sekitar sepi sekali. Dan, Aku pun terus melajukan motor itu, Aku tahu situasi mendadak menjadi tidak


nyaman tapi bukan berarti Aku berhenti.


Tanpa sengaja, Aku lihat dalam kaca spion samping kiri. Astaga.

__ADS_1


Sontak pikiranku terlempar jauh, seekor serigala berbadan kekar menatap wajahku. Bentuk matanya memang tajam, berwarna polos merah, bentuk wajahnya seperti anjing herder, dipenuhi bulu warna hitam, dan harus diakui memang bentuknya sangat menyeramkan.


Kupikir jangan-jangan, sejak awal bertemu itu adalah siluman Allysa, dan bukan Allysa asli. Aku harus berbuat apa sekarang, satu-satu jalannya adalah lompat dari motor. Tangan raksasa dengan penuh kuku yang panjang, segera menyentuh bahuku. Air keringat


mengalir deru di wajahku.


Tak lama, tubuhku terlempar kencang, Aku terlepas dari motor.


Dengan cepat, Aku langsung menutup mukaku dengan tangan agar tak mengenai aspal dan sudut trotoar, untungnya Aku masih pakai


helm, kepalaku masih terselamatkan. Rasanya sakit sekali, seperti ditusuk pisau langsung tembus ke organ tubuh. Memang sakit parah,


tak lama Saya dengar suara motor terjatuh dengan dentuman yang kuat tepat di depanku.


Aku tak berani melihat kanan kiri, makhluk itu memang besar sekali, ditambah lagi ada banyak rambut, seperti halnya rambut Allysa yang panjang, Cuma bedanya Allysa mengikat rambutnya, dan ini tidak, rambut itu terurai panjang.


Tak lama, kerah bajuku terangkat naik, sepertinya Aku diangkat oleh monster itu. Aku harus pasrah akan diperlakukan seperti apa oleh Allysa. Aku tak berani menoleh ke belakangku, karena monster itu sepertinya mengincar Aku.


Tubuhku terlempar lagi untuk kedua kalinya, kali ini jatuh tepat di rerumputan yang basah, mengenai daguku. Rasanya sakit sekali,


dengan berani akhirnya kubalikkan wajahku ke belakang, karena kalau kubiarkan menyerah dalam kesakitan, maka nanti monster itu


akan memerlakukanku terus-terusan.


Monster itu besar sekali, tubuhnya setinggi dua meter lebih menjulang dengan postur yang kekar, berambut panjang, berbulu gelap, dan berotot tangan dan dada. Sepertinya, monster ini adalah wujud dari Allysa. Kalau begini, lebih baik Aku panggil nama Allysa saja, barangkali dia paham dengan sebutan itu.


Tapi sayang, Allysa tak mengenalku. Dia malah menghampiriku, Aku langsung berdiri. Tak ada pilihan lagi selain lari menjauh, kulawan


rasa sakit itu, dengan larian kencangku meninggalkann Area. Aku pun berlari.

__ADS_1


Namun, Allysa juga bisa lari lebih kencang dariku. Allysa lompat di atas kepalaku, dan turun di depanku. Aku tak mampu berbuat apa-apa lagi, mana kacamataku jatuh lagi. Monster Serigala itu benar-benar ingin menerkamku, dengan cepat berlari kearahku tepat di depannya. Ibarat ingin singa kelaparan, Aku adalah sasaran empuknya.


Tapi, keajaiban tiba ketika Monster itu berada sekitar 10 senti depanku. Matanya tiba-tiba melotot, dan tangan kanannya memegang dada kirinya. Sepertinya dia terkena serangan Jantung, Dia akhirnya mundur dari depan wajahku, mundur perlahan hingga akhirnya terjatuh, tubuhnya langsung mengecil lagi, dan terus memegang dada kirinya. Monster itu berubah wujud menjadi sosok Allysa lagi dengan mengeluarkan banyak asap di tubuhnya, posisi tangan Allysa memegang dada kirinya dengan tertidur.


__ADS_2