
Allysa bak kuntilanak, Rambutnya yang panjang melungkar hingga ke pinggang, wajahnya yang tampak tak bersahabat lagi, dia melihatku dan berkata “Pergi.” Dengan nada yang kencang, Aku masih membantah ucapan Allysa.
Allysa sebenarnya memang gadis yang baru kukenal, Aku tak begitu dekat dengan Allysa, tapi sikap Allysa yang familiar dan bersahabat membuatku merasa lebih kenal Dia bukan sekedar teman tapi sahabat.
“Mau Apa Kamu kesini?” tanya Allysa dengan nada tinggi.
“Aku Doni sahabatmu, dan ini ada Alfina sahabatmu juga.”
Alfina mendekatiku. Allysa mulai diam dan terus memerhatikan wajahku bersama Alfina.
“Kenapa Kamu jadi begini, ceritakan padaku kalau Kamu terjadi sesuatu?” Tanyaku karena Aku tak tahu apa yang terjadi, Aku tak menyangka empat bulan lebih kita hilang komunikasi lagi, Allysa jadi berubah seperti ini. Kalau seandainya, Allysa memang begini karena ulahku, maka Aku akan menyesali diriku seumur hidup.
Akhirnya, Aku, Allysa, dan Alfina duduk bersama dalam kamar yang gelap itu. Rumah itu seperti sudah tak layak lagi, Allysa memang
sudah seperti orang gila dimana hidup dalam kegelapan, tapi masih bisa diajak berbicara denganku, walaupun sesungguhnya nasib
panjang yang dialami membuatku ikut sedih.
Sejak Dia menyadari kalau dirinya bisa menjadi sosok yang misterius, Allysa tak pernah mau bersosialisasi dengan kedua orangtuanya lagi dan semua saudaranya. Sampai-sampai semua
pihak keluarga curiga dengan perubahan sikap Allysa.
Allysa menjadi sosok yang tertutup, berdosa, penuh penyesalan dalam menjalani hidup. Hingga suatu waktu dirinya sempat melakukan aksi coba pembunuhan orangtuanya, dan upaya itu gagal karena adiknya. Akhirnya Allysa terus melakukan serangkaian perbuatan yang tak
pantas hingga membuat orangtuanya merasa curiga dengan sikap Allysa yang berubah drastis.
Sikapnya berubah menjadi psikopat,
sampai akhirnya di ujung waktu Allysa menghilangkan raga dan nyawa kedua orangtuanya dan saudaranya.
Menyadari hal itu, Allysa tidak lagi bisa keluar Rumah, dan tetangga tak ada yang berani menyentuh Rumah itu. Allysa sempat
kabur dari Rumah beberapa waktu setelah menghilangkan raga dan nyawa dari orangtuanya, lalu Polisi sempat menetapkan Allysa sebagai buronan. Lalu, ketika Allysa berhasil ditemukan lagi di Rumahnya sendiri yang sudah disegel Polisi, Polisi jadi enggan
menangkapnya dengan alasan Allysa adalah orang gila.
Tapi, Allysa masih bisa diajak bicara walaupun cara bicaranya sudah kabur, Allysa sudah tak ada lagi Tuan saat ini.. Allysa hanya
tinggal hidup sebatang kara, terkadang apabila dia ingin berubah menjadi sosok itu, Dia sengaja melarikan diri dari belakang Rumah,
__ADS_1
hingga masuk ke tempat yang sepi, lalu berulah dengan memakan ayam hidup milik warga, lalu kembali lagi tertidur menjadi gadis yang
cantik lagi.
Tubuhnya kian kurus mengering, Aku merasa berdosa ketika tahu semua ini, Dia terlalu banyak membuang energi untuk bertransofrmasi menjadi sesosok monster yang menyeramkan itu.
Allysa sudah berulangkali ingin menghilangkan raga dan nyawanya sendiri, tapi Dia gagal. Sehari-hari dia hanya makan sehari-hari
dengan serabut kayu yang berhamparan di lantai Rumahnya.
Akhirnya Aku membelikannya nasi goreng, Kita makan bersama-sama dengan juga Alfina. Uang yang kudapat dari Alfina,
terpaksa kuhabiskan untuk membeli makan Alfina dan Allysa. Sampai Aku lupa kalau, Meylinda belum Aku kasih makan.
Kutelepon Meylinda, tapi tidak dia angkat. Mungkin saja dia sudah tidur, tapi Aku sudah berikan dia uang untuk beli makan tadi siang sepulang dari Rumah Sakit. Aku terus menatap wajah Allysa yang memang tak begitu bersahabat denganku, Dia tampak tak
seperti biasa, dia masih setengah gila. Aku tak boleh merusak jati dirinya, sangat disayangkan gadis yang dulu kukenal sebagai wanita
pendekar, berani, cantik, kini berubah nahas karena ulahnya anjing itu, tidak seharusnya kuceritakan kalau dalam dirinya terdapat
kekuatan paranormal.
“Kamu mau tidak, temani Aku disini?” tawar Allysa.
Sebenarnya, Aku masih merasa keberatan. Ada beberapa sebab yang membuatku keberatan. Satu, Aku harus menanggung Meylinda
yang hidupnya sebatang kara, kedua, Aku takut nanti akan jadi fitnah tetangga kalau Aku berada di Rumah Allysa. Karena, Aku tidak
mengenal sama sekali tetangga Allysa berbeda dengan tetangga Meylinda yang sudah kukenal bahkan akrab.
“Ehh...” Aku berpikir dengan wajah terus menoleh kearah Alfina.
“Sebenarnya, Aku keberatan. Tapi...” gumamku agak ragu.
“Alfina saja yang tinggal denganmu.” Ucapku pada Allysa. Alfina sontak kaget.
“Enggak, Aku tak mengenal Alfina. Aku ingin sama Kamu saja.”
Bantah Allysa. Dalam batinku, mungkin saja Allysa sudah tak mengenali lagi Alfina. Alfina sontak kaget.
__ADS_1
“Jadi, Kamu enggak kenal Aku?” ucap Alfina pada Allysa.
“Siapa Kamu, dari tadi disini terus? Kamu pacarnya Doni, kan?” bantah Allysa.
Alfina malah kaget, begitu juga denganku. Berarti dia amnesia, tapi yang anehnya dia lupa pada Alfina tapi masih ingat padaku.
Lalu, kucoba bujuk dengan lelaki bernama Satria, sosok lelaki yang dulu merupakan kekasih hati Allysa.
“Apa Kamu kenal Satria?” ucapku.
“Satria? Bukannya dia pahlawan?” Dia bertanya balik yang membuatku geleng-geleng kepala. Aku merasa aneh, dia bisa menceritakan semua kejadian yang terjadi setelah malam itu baik itu kematian orangtuannya hingga kasus dia menjadi buronan polisi, tapi Kenapa dia benar-benar lupa dengan nama temannya.
“Ayolah, temani Aku saja malam ini?” ucapnya.
Aku tak bisa berbuat, akhirnya ku punya ide. Salah satu caranya, ialah menitipkan di Rumah Alfina. Tapi, sepertinya Allysa tak begitu
tertarik tinggal dengan Alfina, apa jangan-jangan dia punya maslaah dengan Alfina. Akhirnya kutemukan ide, lebih baik dia ditaruh di Rumah Meylinda saja.
Lantas menjelang larut malam kubawa dia ke Rumah Meylinda. Sepanjang perjalanan Aku terus menatap langit, jangan sampai ada
bulan purnama. Namun, kenyataannya ada bulan purnama. Sontak Aku langsung cemas, dia akan berubah kalau ada bulan purnama.
Menaruh Allysa di Rumah Meylinda sama saja seperti menaruh serigala di dalam kandang kelinci. Aku hanya menyiksa Meylinda saja
yang sudah sendiri. Tapi, Aku harus taruh dimana, Mungkinkah di Rumah Alfina, ataukah di Rumah kosong. Akhirnya dengan keputusan
cepat ku sebelum dia bertrasnformasi menjadi manusia serigala.
Oke, jam sepuluh. Aku tiba di Rumah Meylinda. Aku masih menatap langit, syukurlah rembulan purnama tertutup oleh gemerlapnya awan hitam. Aku merasa lega.
“Dia siapa?” ucap Meylinda.
“Oh kenalin, Dia Allysa. Dia teman lamaku.” Gumamku.
Meylinda dengan sedikit terpaksa akhirnya menyalimi tangan Allysa. Begitu juga dengan Allysa yang sedikit terpaksa dengan wajah Meylinda. Sepertinya Allysa terkesan tertutup saat ini.
“Terus maksud Kamu, Ada apa membawa dia kemari?” ucap Meylinda.
“Orangtua dia pergi, dia tinggal sendiri di Rumah. Jadi, Kamu mau enggak temani dia sendiri disini. Maksudnya dia ini juga Perempuan, tak mungkin ada pelecahan disini.” tawarku. Meylinda terus memerhatikan wajah Allysa. Seperti menyimpan sedikit keraguan di kepalanya, tapi Meylinda terlihat terpaksa.
__ADS_1