
Sejak kejadian itu, Aku akhirnya tak begitu respek dengannya. Walaupun terkadang jiwa ragaku selalu berdebat dengan diriku kalau
Dia sudah begitu peduli denganku, tapi Aku terkesan egois. Aku sebenarnya sangat menyukai Allysa, tapi entah sejak kejadian itu Aku jadi tak respek dengannya.
Tapi, Aku tak boleh berlebihan menjadi ‘haters’ bagi Allysa. Aku tetap menyapa dia walaupun, Aku sudah jarang dekat dengannya.
Terkadang Aku berpikir diriku terkesan egois. Tapi, Aku menolak terus mengingatkannya. Bahkan sejak saat itu, Sekolahku sering mendengarkan mitos terkait sosok manusia serigala yang konon sering kluyuran malam-malam di Sekolahku. Tapi, Aku mengabaikan semua berita itu, karena Aku sudah tahu pasti dengan apa yang sudah terjadi selama ini, kalau pelakunya adalah Allysa seorang manusia serigala.
Akhirnya waktu terus bergulir silih berganti. Hari sudah memasuki masa kelulusan, Rencanaku tak ingin melanjutkan kuliah lagi. Aku akan menggarap bisnis desain grafis, di Rumahku. Setelah Aku mengikuti pelatihan intensif di sebuah komunitas, akhirnya kuputuskan untuk membuka desain grafis di Rumahku. Aku tahu
desain grafis adalah pekerjaan dengan upah tak konsisten, seperti halnya karyawan kantoran. Tapi, penghasilan desain grafis tentunya dua kali atau tiga kali lebih menakutkan dari karyawan.
Disatu sisi, Aku juga menyambi pekerjaanku sebagai tukang ojek online. Biarkan teman-temanku menikmati masa-masa indah di Kampusnya masing-masing, sedang Aku disini duduk manis bekerja, menikmati pundi-pundi yang tak pasti. Aku sangat menyanyangkan nasibku, tapi Aku tak boleh larut dalam kesedihanku. Allysa mungkin bisa kuliah di salah satu Kampus di Kota Solo.
Dia kuliah di jurusan Ilmu sosial politik, bagian administrasi publik.
Aku sebagai anak IPA dari jurusan Ilmu fisika, seharusnya Aku masih ada kesempatan untuk Teknik mesin, ataupun pendidikan fisika. Tapi, Aku tak punya kesempatan lagi selain karena keterbatasan ekonomi keluarga, maka Aku harus mengurungkan niat untuk kuliah.
Tak terasa pula hampir 8 bulan sejak Aku lulus SMA, Aku tak pernah melihat wajah Allysa lagi. Walaupun semasa SMA juga Aku tak pernah melihat wajah Allysa, yang hanya seminggu sekali. Kini, Aku tak melihatnya sama sekali. Aku juga lupa alamat Rumahnya.
Satu kali entah kenapa, dikala musim panas bulan Mei tepat pada pertengahannya, Aku tak mendapatkan orderan ojek sama sekali. Aku biasanya hanya mendapatkan 1 atau 2 orderan, kini Aku tak mendapatkannya sama sekali. Aku mengeluhkan nasibku, yang tak ada bandingnya. Hingga waktu malam tiba, tak lama HP-ku menyala dengan sendirinya, Aku bingung perasaan Aku tak pasang alarm di hpku, kenapa bisa menyala sendiri?
Lalu, kubuka Hpku dan batinku berubah bahagia. Aku dapat orderan di malam hari, tepat satu bungkus ayam geprek yang beli di Restoran Prasmanan. Aku dengan cepat segera keluar Rumah, dengan jaket dinasku dan Aku langsung pergi menuju tempat itu.
Seperti biasa, Aku harus membeli makanan itu, lalu jika sudah sampai Aku wajib menagih ke pembeli di Rumahnya. Namanya tidak disebutkan siapa yang memesan, hanya saja memberikan alamatkhusus yang tak asing di kupingku.
Rumah makan itu memang lagi sepi, wajarlah bukan awal bulan.
Proses pembuatannya pun juga tidak memakan waktu banyak, Aku bisa segera menuju TKP, tempat dimana pemesananku berada. Dan Aku melintasi gang yang pernah kulewati bersama Allysa. Tapi, Aku
lupa Rumah Allysa.
‘ Akhirnya, Aku berhenti di Rumah putih tinggi megah, dengan
pagar yang tertutup rapat. Kuteriaki dari luar, dengan mengucap
“Permisi...” berulang kali. Tak ada satu pun yang menjawab sampai
lima belas kali kuteriakan permisi namun tak ada satupun yang
menanggapinya. Aku malah berpikir negatif, seakan-akan Aku telah
di-PHP in pembeli.
Aku ingin kembali pergi dengan pasrah, tak lama kudengar
suara teriakan “Iya.” Dari dalam Rumah dengan nada yang kuat. Aku
langsung mengurungkan niat untuk membatalkan pesanan ini.
Akhirnya wanita itu membukakan pintu, muncul seorang wanita
dengan celana hotpants, dengan krim wajah yang tebal di wajahnya.
__ADS_1
Aku terus memerhatikan wanita itu, sepertinya wanita itu tak asing
di mataku. Siapakah dia?
“Doni...” Wanita itu kaget dengan kehadiranku, walaupun
sejujurnya Aku sendiri lupa siapa perempuan ini.
“Aku, Allysa.” Gumam Wanita itu.
Aku langsung kaget, jiwa ragaku langsung lemas, benarkan?
Sosok yang kudatangi Rumahnya, ialah Allysa. Menyadari itu jiwa
ragaku langsung lesu. Aku tak mampu berkata apa-apa, sudut
wajahku kian membeku, Aku hanya bisa dengan ikhlas memberikan
sebungkus paket itu sebelum akhirnya tiba di tangan kanan Allysa.
“Doni, Kenapa Kamu jadi begini padaku?” sepertinya Allysa
mulai menyadari kalau Aku sudah tak suka dengannya. Aku tak
menerima uang dari Allysa, dan Aku putuskan segera lari dari TKP
dengan motor sekencang-kencangnya, dari jauh kudengar suara Allysa terus meneriaki namaku berualng kali dengan nada yang
kencang.
kaca spionku yang kanan, Seorang wanita mengendarai motor tepat
di belakangku dengan kencang, terus menuturiku dari belakang. Aku
percaya 100% kalau itu adalah Allysa yang berusaha meminta
kejelasan dariku. Semua wajahnya ditutup oleh gemerlap kaca helm,
tapi Aku terus kemudikan motorku, hari sudah semakin malam.
Mungkin saja dia akan berhenti mengejarku kalau Aku tak berhenti.
Dan, ternyata benar, Aku kian menjauh dari Allysa yang mengejarku,
Kukira Aku akan aman setelah jauh dari kejaran Allysa, tapi semua itu
berubah. Batinku, tiba-tiba gemerlap, keringatku bercucuran seperti
darah yang mengalir usai terluka, Aku tiba-tiba menabrak motor
bodong yang mangkring tepat di pinggir jalan, walaupun tak begitu
keras. Tapi, setelah kulihat, Mereka yang sengaja memarkirkan
__ADS_1
motor disitu adalah anak-anak berandal alias geng motor.
Sejak dulu, Aku memang anak kuper, anti terhadap anak-anak
berandal, jangankan anak berandal temanku sekelas saja yang
notabene bukan apa-apa Aku sudah takut apalagi Mereka adalah
anak geng motor, dengan pakaian serbak kumel, tatapan wajahnya
sangat tidak bersahabat, ada sekitar 15 orang.
Mereka berjalan kearahku, kalau Aku kabur mungkin nasibku
akan nahas. Satu-satu jalannya, adalah Aku pasrah berdiri di hadapan
Mereka. Kelima belas lelaki itu menghampiriku.
“Mau apa Kamu? Nabrak motorku?” pungkas pria dengan suara
nada yang terkesan aneh, tapi sangat keras.
“Ehh..Aku minta maaf.” Gumamku.
“Maaf, Maaf.” Lelaki itu dengan cepat, langsung membogem
kearah perutku. Rasanya sakit sekali, semua temannya langsung
berbondong-bondong menarik bajuku ke depan, ke belakang, ada
pun juga yang seakan-akan ingin melepas pakaianku, ada sebagian
lagi yang membogem kepalaku.
Gempalan tangan terus melintasi
tubuhku. Aku ditarik dari motor, Mereka membuatku terjatuh dan
menepis seluruh tubuhku dengan injakan kaki, dan tangan. Sekitar 8
orang memukulku selebihnya hanya memukul saja.
Kututup wajahku dengan tanganku agar Mereka tidak memukul
kepalaku, dan ternyata salah satu pelaku pemukul itu ada yang jatuh
tepat menutup badanku. Aku bingung sendiri, suasana semakin
ramai. Suara seperti ultras yang berteriak menyoraki di dalam
Stadion, tapi Aku tak melihatnya apa yang terjadi. Namun, anehnya
satu persatu gempalan tangan tak terasa di badanku lagi, lalu kucoba buka wajahku dan Aku lihat ternyata seorang wanita tengah sibuk
__ADS_1
berkelahi dengan lelaki yang memukulku. Dia jago bertarung sama
sekali, tapi setelah kuperhatikan ternyata dia Allysa.