Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Susunan


__ADS_3

Aku tiba di Kantor Polisi bersama 7 warga itu. Rasanya sudah tak nyaman sekali dalam ragaku, apalagi kedatanganku ke Kantor


Polisi dan disambut dengan beberapa pria berseragam yang sangat tak bersahabat denganku membuatku jadi geram.


“Selamat siang, Bapak-bapak. Ada apa ini?” ucap Polisi itu.


“Selamat siang juga pak, disini Kami akan membawakan seorang Pria yang kemarin tega menelanjangi dua perempuan di sekitar Rumah Kami!” ucap salah satu perwakilan warga.


Aku terus memaki nama Allysa dan Meylinda dalam batin, kenapa Mereka tega menjebakku walaupun pikiranku masih terus berlawan, mungkin Meylinda ingin memberi tahu kalau Aku sudah ketahuan. Tapi, Aku tetap harus mengunci siapa sebenarnya yang sudah menghabisi nyawa beberapa pemuda waktu lalu, mengingat sampai saat ini Polisi masih memburu pelakunya.


Polisi itu sempat bingung, “Oh ya ya, betul. Aku ingat siapa pelaku dibalik kasus kemarin. Sebentar, silahkan masuk!” Polisi itu langsung menyuruh Aku dan Perwkailan warga untuk masuk sebentar ke dalam Ruangan.


Oke, akhrinya Aku masuk.


“Pak, anak ini sudah sering berulangkali masuk ke Rumah dua perempuan itu, awalnya Kami maklumin. Tapi, belakangan ini Kami tidak bisa menolerir akibat ulahnya dia yang sering keluar masuk Rumah 2 gadis itu tengah malam. Kami curiga, pak.” Ungkap salah satu tetangga Meylinda.


“Betul itu, Pak.” Semua langsung bersorak seakan-akan mefitnahku disitu.


“Baik, semua tenang. Silahkan semua pulang, dan biarkan Kami yang menentukkan dia apakah dia harus mendekap dalam kurungan


atau tidak.


Semua pulang!” ucap Polisi itu dengan nada keras.


“Baik, pak.” Semua warga Pulang.


Anehnya, Mereka yang terlihat garang bisa tunduk dengan ucapan Polsi yang hanya mematahkan dengan beberapa kata saja.


Aku merasa lega, tapi dalam batin kecilku juga ada rasa cemas jangan sampai Aku harus mendekam dalam penjara.


Aku ceritakan semua apa yang sudah terjadi, sosok manusia serigala yang sering muncul kala itu, Polisi sedikit tak percaya dengan


ucapanku, tapi Aku terus bersikeras bagaimana agar Polisi yakin


dengan ucapanku. Aku tak pandai bicara, tapi untuk kali ini Aku coba


untuk menjadi sedikit tukang marketing yang pandai bicara.


Setelah kuceritakan semua itu, terpaksa Aku harus menyebut nama Allysa sebagai pelaku dibalik kasus beberapa bulan itu yang menewaskan 15 pemuda geng motor itu, agar Aku tidak mendekam dipenjara.

__ADS_1


Polisi dengan santainya mnecatat nama Allysa yang dimasukkan dalam hipotesis tersangka sementara sebelum menindaklanjuti kasus


tersebut. Tapi, Pak Polisi sedikit tenang dengan adanya hipotesis masuk, selama ini Mereka terus mencari siapa pelaku dibalik kasus


ini yang nyaris hilang kabar selama berbulan-bulan, sedang beberapa keluarga Korban masih menuntut pihak kepolisian agar terus mengindetifikasi pelaku.


Kuserahkan foto Allysa seketika masih dalam keadaan sehat dan waras, mungkin saja kalau Polisi mau menindaklanjuti dan memenjarakannya ketika dia dalam keadaan tak waras, ini tak akan sulit dilawan. Masalahnya dia sendiri dalam keadaan tidak sehat


“Baiklah, Kami terima masukkan Anda. Dan, untuk sementara Kami belum bisa memutuskan Anda untuk masuk kurungan atau


tidak. Dan, sekarang Anda bisa beraktivitas seperti biasa. Untuk informasi lebih lanjut tentang gadis bernama Allysa, akan segera


Kami investigasi.” Ucap Polisi itu dengan santai.


Aku merasa lega, kini bayang-bayangku tak dihantui rasa takut lagi akan Polisi. Bahkan, Polisi pun sudah siap kerjasama dengan


Kami lagi. Berarti, kini Aku harus memutar balik rencana timku bersama Alfina, Satria, Jaki, dan para kawan-kawan akan segera menyusun strategi baru lagi untuk mengalahkan Allysa.


Malam itu, Aku jemput Alfina, Satria, dan Jaki bersama-sama.


Aku segera hubungi Mereka untuk kumpul di Caffe terkait penyusunan rencana baru kami.


“Ada apa Kamu memanggil Kami?” ucap Alfina.


“Kalau Polisi sudah tahu atas kasus ini, pelakunya adalah Allysa.” lanjutku


“Hah?” semua kaget.


“Betul, dan Aku sendiri yang menceritakan itu.”


“Apa Dony? Itu sama saja, Kamu sudah bunuh diri di hadapan


Allysa.” Bantah Jaki.


“Tidak apa-apa. Ini semua untuk membentengiku agar Aku tak jadi dipenjara.” Bantahku.


“Hah?” Mereka semakin panik.


“Dan, sekarang....Aku ingin kalian semua menyusun rencana baru lagi terkait masalah ini.” Gumamku.

__ADS_1


“Apa rencananya?”


“Kitsa tetap berusaha menangkap Allysa agar dia didekam penjara, tapi jangan pernah sekali sekali memberitahukan kepada Meylinda, kalau kekasihnya ialah Allysa yang menghabisi nyawanya, paham?” jelasku.


“Kalau Kamu membawa dia ke penjara ini sepertinya, akan menjadi masalah serius, kesannya kemungkinan besar dia akan


berubah menjadi sosok setan serigala itu, dikhawatirkan nanti. Pihak kepolisian akan kewalahan ketika berusaha menanganinya.” Sanggah Satria.


“Kalau mau, kita Kordinasikan dengan pihak Kepolisian bahwa gadis yang bernama Allysa itu perlu dipenjara dengan keadaan isolatif, dikarenakan dia tidak bisa dipenjara di tempat umum.” Jelas Alfina.


Aku menerima masukkan semua temanku, Aku memejamkan mata dan Aku semakin yakin langkah ini memang benar, daripada Aku cemas terus-menerus memikirkan jika nanti Allysa menceritakan semua terkait kejadian itu, maka Meylinda akan membenciku dan


Allysa.


Tapi, Aku kini tak berani datang lagi ke Rumah Meylinda untuk sementara waktu, mengingat kejadian kemarin yang penuh dengan


kecemasan membuatku harus menjauh dari lingkungan Meylinda sementara waktu, sampai masalah ini selesai ditumpaskan.


Bip...Bip...Bip...Ponsel Hpku berbunyi, dan ternyata ada telepon dari Meylinda kalau Allysa kumat lagi, Meylinda tak bisa menangananinya sendirian.


“Apa Kumat lagi?” tanyaku


“Iya, cepat kesini! Sepertinya dia mau melarikan diri.” Ungkap panik Meylinda.


Sebenarnya, Aku masih kesal dengan sikap Meylinda kemarin yang seakan-akan menjebakku, tapi mengingat Aku sudah berjanji akan berkomitmen selamanya dengannya maka Aku harus bertanggung jawab terkait keputusanku yang akan terus melindungi


Meylinda. Aku tak berani masuk komplek, lantas kusuruh Alfina, Satria, Jaki, Mayang dan Rama untuk menyusurinya. Aku ikuti


Mereka dari belakang. Ketika Motorku sampai di Komplek sekitar arah Rumah Meylinda, kulihat sosok raksasa hitam dengan tubuh gempal berlari menjauh dari Perumahan, dan dikejar oleh warga. Aku tiba-tiba cemas, ada dua sebab yang membuatku cemas. Pertama, Aku takut semua warga itu dihabisi oleh Allysa walaupun posisinya sekarang sedang mengejar, kedua Aku takut ketahuan lagi untuk kedua kalinya oleh Warga dan Aku akan dilaporkan oleh pihak kepolisian untuk


masalah ini.


Lantas Aku memilih jalur sebelah, lewat kebun pisang yang cukup besar. Perasaan memang agak takut, dikarenakan hari juga sudah malam. Jangan sampai Aku yang akhirnya berhadapan dengan Allysa.


Jaki, Satria, Alfina, Mayang, dan Rama bergerak menuju Rumah Meylinda.


Para warga masih mengejar Allysa, sekalipun kecepatan lari Allysa tak tertandingi, Allysa terus menyusuri tempat yang sepi dan


gelap, sedang Aku masih bisa melihat dia lari kemana.

__ADS_1


Aku kejar terus sampai ketemu. Kebetulan tempat yang dituju memang gelap sekali, hari sudah malam pula. Sambil berjalan, Aku segera menghubungi pihak Kepolisian, mungkinkah pihak Kepolisian mampu menangani masalah ini.


Aku terus mengejar Allysa dalam kesepian dan gelap, tak ada siapa-siapa di kanan kiri, karena Aku beda jalur, tapi Aku terus mengejar Allysa. Aku masih bisa mendeteksi keberadaan Allysa.


__ADS_2