
Aku adalah seorang pemuda kurus kering, tubuh aku kecil, punggung Aku sedikit bungkuk, tampan Aku terlihat seperti anak udik yang kuper, pakaianku juga tak pernah ganti, dan terkadang hidupku juga sangat kesepian.
Aku berkacamata bundar seperti Harry Potter, terkadang jika disapa oleh wanita, Aku langsung berpaling wajah darinya, semakin tidak beraninya Aku kepada Mereka, Aku terkadang menjadi bahan bullyan teman laki-laki, dan menjadi bahan gosip temanku perempuan. Tapi, ada satu orang wanita yang sangat cantik di mataku, Aku menyebutnya si kelinci kekar, unik sekali bagiku menyebutnya kelinci kekar. Istilah yang tak pernah orang lain sebutkan di dunia ini, sepertinya baru Aku yang menyebutkannya untuk pertama kali.
Kenapa Aku menyebutnya, si kelinci kekar? Karena dia memang imut, cantik, dan penurut seperti kelinci, sedangkan kekar melambangkan dirinya memang jago bertarung, wajarlah dia atlet silat wanita.
Sikapnya pun familiar, dia mudah berbaur dengan siapa saja, memiliki banyak teman, bahkan di story whatsapp nya pun dia sering menunjukkan kebersamaannya. Dia memang baik, suka menolong orang yang lebih tua, bahkan setiap hari jumat dan rabu pun dia sering mengangendakan berbagi makanan kepada masyarakat yang tidak mampu, dialah bernama Allysa.
Aku sudah mengenal Allysa sejak masuk kelas 1 SMA, namun Aku hanya sebatas mengetahuinya saja, tanpa mengenali. Barulah di suatu hari, entah mengapa Aku tiba-tiba diberikan kesempatan untuk mengenalinya.
“Druakkk...” di suatu sore, Aku menabrak sebuah seorang wanita, sejenak kurasakan kehangatan tubuhnya karena tubuh Aku menempel pada tubuhnya.
“Aduhh...” sepertinya dia pun juga terkejut.
“Maaf...” kacamataku terjatuh, dan Aku pura-pura menatap putihnya lantai Ruangan sore itu, sepertinya gadis itu melihat wajahku.
“Kenapa?” balasnya.
“Kacamataku...Jatuh.” balasku tanpa menatap wajahnya.
“Mana? sini, biar kubantu.” Dia menawarkan bantuan kepadaku, ini yang buatku malu-malu.
“Sudah, tidak usah.” Aku melihat kacamataku tepat di belakang kakiku. Aku sudah malu sampai Aku tak mengucapkan terima kasih kepadanya, kalau dia sudah berniat bantu Aku.
“Oh, sudah?” tanyanya, Aku tak membalas.
Kupakai kacamata itu, dan kulihat seorang gadis itu. Apakah ini sebuah anugrah, tepat di depanku, Allysa seorang gadis yang selama ini kubilang kelinci kekar ada di depanku. Sontak, Aku langsung malu sekali.
“Kenapa Kamu kelihatan bingung begitu, Apa kamu lapar?” gumamnya.
Lantas, ucapan ini membuatku bingung. Aku seperti mati kutu berdiri dihadapan musuh di medan perang, mau berbuat apalagi Aku untuk seperti ini.
“Oh...Tidak, terima kasih.” Terangku.
“Sudah, Ayo. Aku juga mau mampir ke Warung makan, kok.”
Allysa masih terus memaksaku. Ternyata benar juga, seperti Apa yang kukatakan, dia adalah gadis yang peduli, familiar, seperti yang Kulihat selama ini.
__ADS_1
Mau tak mau, Akhirnya Aku pun ikut. Tangan kananku ditarik olehnya dan diajak ke sebuah motor bebek, berwarna putih. Motor itu memang sudah tua, tapi masih juara untuk dipakai balapan, kecepatannya seketika membuatku kaget. Aku bisa naik motor, tapi Aku tidak berani sekencang Allysa.
Motor itu berlari kencang, hingga angin pun menabrak wajahku. Tak terasa helm ku pun, juga ingin terlempar dari kerasnya angin hantaman itu. Untung sudah kuikat, jadi kupastikan helmku tak akan lepas dari kepalaku. Aku selama ini tak pernah naik motor sekencang ini, apalagi yang bawa adalah perempuan lagi. Kurasa saatnya Aku untuk mundur dari perempuan bandel seperti Allysa ini.
Namun, tiba-tiba badanku dengan cepat langsung mengenai punggung Allysa, wajahku juga ingin menabrak helm belakang Allysa.
Motor itu tepat berhenti di sebuah trotoar depan Rumah makan nasi Padang. Dalam batinku, apakah ini bayar sendiri, atau ada yang membayarkan?
“Ayo turun!” gumamnya.
“Hah? Aku...Aku kalau kesini sepertinya tak punya dana.”
Pungkasku dengan nada sedikit takut.
“Sudah, lupakan saja. Biar Aku yang bayar.” Jawab Allysa dengan santai.
Aku bukan merasa lega, tapi malah jadi tak enak hati. Kenapa bisa begini? Apa akibat Aku sering memikirkannya.
Allysa masuk dan memesan dua nasi bungkus, satu pakai daging sapi, satu lagi pakai telur. Aku tak sempat meminta sesukaku, Aku takut kalau dia menilaiku tak tahu diri, yang jelas menu ini tidak sesuai dengan selera lidahku.
kepercayaan Kakekku, bahaya apabila terlalu lama di luar Ruangan saat maghrib. Lantas, mau tak mau Aku duduk di depan Allysa, tapi perasaanku merasakan sedikit kenyamanan duduk di sampingnya.
“Kenapa?” Dia bertanya padaku.
“Hah? Tidak.” sanggahku.
“Kamu dari tadi kelihatan kaku begitu.” Allysa menyinggungku membuatku semakin pesimis.
“ehh...Sulit kujelaskan.”
Aku rasa sepertinya tipe laki-laki sesuai Allysa adalah Aku. Memang benar, Allysa adalah wanita ekstrovert yang pandai bergaul,
sedang Aku hanya lelaki pendiam, kesepian, tak punya teman. Kurasa cocok sekali, apabila kudekat dengan Allysa.
“Namamu siapa?” Allysa menjulurkan tangannya di depanku. Tanganku secara refleks akhirnya menerima saja,
“Oh..Namaku Doni.” Balasku sambil malu-malu.
__ADS_1
“Doni?” Allysa ingin tertawa, “iya.” Jawabku.
“Namamu sama seperti Adikku yang kecil, dia memang lucu, gemuk, dan terkadang suka ngoceh-ngoceh tidak jelas.” Ungkapnya
sambil tertawa.
Aku pun hanya balas dengan senyuman menghargai ucapannya. Jujur, Aku sendiri ada rasa minder dengan Allysa yang cenderung
tampil superior di depan siapapun. Kurasa dirinya memang wanita yang berasal dari keluarga yang bahagia, bukan seperti Aku yang
anak broken home. Tapi, Aku tak boleh larut dalam rasa iri itu, Aku adalah laki-laki, tunjukkan jati diri sebagai lelaki yang mapan dan tahan dari berbagai cemohan.
Tak lama berselang satu menit, penjual nasi itu memberikan dua bungkus nasi berukuran besar di dalam kresek hitam tepat di depan kita berdua. Allysa segera membuka dompetnya, dan Aku rasa jadi malu sendiri kenapa bisa begini?
Allysa memberikan satu lembar uang kertas berwarna biru dengan jumlah 50 ribu, Aku tak berani memandang lama ke dompet itu, ku tahu sendiri Allysa memang sebenarnya agak sensitif, tapi Aku coba untuk menahan emosinya saja.
“Sudah, Ayo kita pulang.” Pungkas Allysa.
“Terima kasih, Bu.” Ucapnya sambil jalan.
“Oh ya sama-sama.” Sahut penjual nasi.
Aku dan Allysa akhirnya pulang juga.
Tapi....
Tiba-tiba, muncul seekor anjing mengigit kresek yang Allysa pegang. Aku tak berani berurusan dengan anjing, seumur hidupku
Aku tak pernah menghadapi Anjing. Apalagi anjing ini berukuran besar sekali. Aku hanya bisa panik di depan Allysa.
Allysa mengeluarkan jurusnya sebagai pendekar wanita, Allysa menendang tubuh Anjing itu walaupun tidak begitu kuat, dan anjing itu menarik nasi yang berisi daging, kurasa anjing ini bisa juga jadi copet.
Allysa mengejar anjing itu, tapi anehnya Anjing itu berlari sangat kencang seperti halnya macan tutul, padahal dia sebatas anjing pitbull. Karena tak mampu mengejarnya, Allysa segera menyuruhku naik motor itu,
“Ayo ikut Aku!”
Lantas Aku bergerak cepat seperti yang dia suruh, ku pergi bersamanya mengejar anjing itu, berlari kencang menyusuri gemerlapnya kebun yang tak kukenal daerah mana itu.
__ADS_1