Serigala Cinta Segitiga

Serigala Cinta Segitiga
Nasib Sial


__ADS_3

Dengan cepat Aku langsung turun menjajaki anak tangga satu persatu, tapi apa yang terjadi,


bukannya turun. Baju belakangku sebelah kiri, langsung Allysa tarik. Aku menjerit kuat, dan tetap berupaya turun, karena turun dengan kecepatan tinggi. Aku langsung kepleset terperosok dari anak tangga, tapi Aku terus lanjutkan.


Allysa langsung menarikku dengan kedua tangan lalu, dia membawaku terbang.


Aku tidak terbang, tapi Aku dibawa ke atas Gedung melalui rangka-rangka gedung yang sudah rapuh, dengan cepat Aku sudah sampai tepat di rangka paling atas. Tapi, Aku masih berteriak karena sebenarnya Aku sendiri takut ketinggian, apalagi Allysa membawaku dengan gerakkan yang cepat meloncati satu persatu rangka Gedung.


Dari bawah kulihat Meylinda ternyata ikut mengejar Allysa dengan lompat satu persatu


rangka Gedung yang rapuh, sepertinya dia ingin menolongku, tapi dari cepatnya perpindahan dari satu titik ke titik lain dengan gerakkan yang meliuk-liuk membuatku jadi takut seakan-akan ingin menerkamku juga.


Aku kehabisan akal, Sedang Allysa terus menyeretku dengan bajuku entah mau di bawa


kemana, lalu tiba di ujung bangunan dan Kita melompat ke bawah, dari lantai 4. Aku merasakan dorongan angin kuat melintas badanku, dengan sepintas. Sungguh betapa indahnya malam hari, sebelum entah Aku dilahap ataukah Aku akan dilepaskan, Aku sudah tak bisa berpikir apa-apa lagi.


Kutatap ke bawah dari belakang punggungku, Aku lihat tanah sudah dekat. Aku sudah siap tak bawa apa-apa jika terjadi sesuatu. Dan, akhrinya Allysa mengenduskan tenaga. Jatuhlah Aku ke dasar tanah, rasanya tubuh ini seperti dihantam batu rakasasa hingga Aku berdarah.


Aku sudah tak berdaya, mataku mulai mengantuk, sudah tak bisa melawan lagi dengan rasa semangat. Aku mulai melihat kegelapan, tak ada langit lagi di mataku. Aku akan tertidur dan tak tahu kapan akan bangun.


Lima jam kemudian, Aku terbangun dengan tangan kiri ku terdapat sebuah jarum, dengan


selang memanjang ke atas. Aku terbaring di atas Rumah Sakit. Aku pun terkejut mengapa Aku bisa disini, tiba-tiba seorang suster dengan pakaian khasnya berwarna biru telur datang


membawakanku sebuah sup kacang dan air putih segelas ditaruh meja ruanganku.


“Sus, Ada apa dengan Saya?” tanyaku.


“Bapak semalam dibawa warga kemari akibat terjadi pecahnya pada bagian kepala depan,


jadi Bapak mengalami pembocoran kepala.” Jelas Suster dengan santai.


“Hah? Masa, sus?” Aku masih belum percaya.


“Iya, Pak. Saat dibawa kemari pun tubuh Bapak sudah tidak lagi dalam keadaan drop.”


“Lalu, sudah ada rekan Saya yang kesini belum, Sus?” Aku penasaran siapakah yang temanku


yang sudah kesini.


“Sudah, Dia seorang Gadis dengan jaket hitam, berambut panjang, bertubuh agak kecil, tapi


Saya tidak tahu namanya.” Jelas Suster itu membuatku penasaran.


“Siapakah Sus?”

__ADS_1


“Kan, sudah Saya bilang. Saya tidak tahu namanya.” Ucap Suster.


Aku langsung diam. Usai menaruh sup kacang dan air putih, Suster itu tanpa cakap sedikitpun langsung pergi meninggalku di Ruangan. Suster itu keluar, seorang Gadis muda langsung datang yang wajahnya tak asing bagiku. Dialah Meylinda.


“Meylinda?” tanyaku.


Kulihat Meylinda membawa sebuah kresek putih berisi nasi putih dan sebungkus ikan bakar, tapi Aku tak tahu Aku hanya mencium dari baunya yang khas, kalau bau ini sudah seperti bau ikan bakar. Kira-kira buat siapa?


“Hay.” Meylinda dengan ramahnya melambaikan tangan di depanku.


“Kepala Kamu bocor ya?” tanya Meylinda.


“Iya, sepertinya. Aku tahu dari Suster yang barusan.”


Meylinda tak bergumam langsung mengambil sebuah kursi di ujung Ruangan, kebetulan


Ruangan itu hanya ada Aku seorang diri sebagai pasien, jadi banyak kursi kosong disitu. Lalu, Dia membuka bungkus nasi itu, kutatap betapa enaknya makanan itu, mungkin karena Aku lapar, sedang Aku tak suka sup kacang, melihat enaknya makanan dari Meylinda. Dia duduk dengan melipat satu kakinya di atas kursi, untuk menyangga makannya.


Kuterus tatap makanannya, betapa enak sekali makanan itu. Rasanya Aku ingin juga makan


itu, tapi Aku tak mungkin makan.


“Aduh, AC ini dingin banget.” Ucap Meylinda.


“Hah?Perasaan Aku biasa saja.” Aku langsung kaget mendengar ucapan Meylinda itu, kenapa


“Kamu jangan bodoh!” bentak Meylinda memberitahu isyarat.


Mendengar ucapan itu, Aku langsung sadar ternyata seperti biasa Meylinda jika habis


bertransformasi menjadi manusia serigala akan berubah wujud menjadi manusia dengan keadaan tidak senonoh (tanpa busana), dan Aku ingat kalau tadi malam Meylinda sempat berubah dan pastinya dia tak pakaian busana sedikit pun ketika kembqali menjadi manusia.


“Ohhh...Aku paham.” Aku sedikit senyum.


Meylinda menunjukkan sikap tak suka denganku.


“By the way, seharusnya Kamu masih dipenjara?” tanyaku lagi.


“Tidaklah.”


“Bagaimana bisa?” pungkasku.


“Iya dong”


Aku masih penasaran.

__ADS_1


“Saat Lapas kebakaran. Aku langsung cepat menemui Pak Saridi. Pak Saridi adalah petugas


Sipir yang mengurusku dari awal, Aku membuat sebuah perjanjian, kalau disitu Aku boleh lepas


dengan catatan Aku harus mau bertanggung jawab mengejar Allysa yang statusnya sebagai


buronan disitu. Aku akan kerjasama dengan pihak Kepolisian terkait masalah.” Jelas Meylinda.


“Hahahah mencari kesempatan dalam kesempitan.” Singgung Aku.


“Memang kenapa?”


“Enggak, Cuma bercanda. Begitu saja sudah emosi.”


Meylinda kembali melanjutkan makan.


Kejadian itu membuatku harus keluar dari Kantor, akibat waktu yang kutempuh di Rumah


Sakit selama 2 minggu membuatku harus mau tak mau tak bekerja lagi di Kantor Bank itu. Aku


menyesali besar dengan kejadian kemarin.


Aku keluar dari Rumah Sakit dapat biaya pesangon dari Perusahaan, sebagian besar uang pesangon itu Aku gunakan untuk bayar semua biaya Rumah Sakit. Rasanya sedih juga, tragedi malam itu mampu mengubah profesiku dari karyawan kembali lagi menjadi pengangguran.


Tapi sejak saat itu, Aku tak menemukan lagi keberadaan Allysa usai kejadian itu. Mungkin


karena statusnya dia sebagai buronan membuatnya hilang tanpa kabar.


Beberapa kali Polisi sempat datang ke Rumahku menanyakan keberadaan Allysa sebagai pelaku kebakaran dari Lapas itu. Meski tak ada korban dari pihak manapun, tapi untuk masalah itu membuang uang negara terutama dalam anggaran keamanan. Kerugian yang ditaksir mencapai 15 miliar Rupiah, dan belum lagi upaya pengejaran buronan yang melarikan diri usai peristiwa itu.


“Permisi?” Polisi mengetuk pintu Rumahku di Sore hari. Dengan cepat Aku langsung bergerak


menuju Pintu Ruang Tamu, sudah biasa kurasakan kehadiran Polisi, jadi tak perlu grogi lagi.


“Iya, Pak.”


“Apakah ada keterangan lebih lanjut dari Allysa?”


“Belum ada, Pak.”


Dua polisi itu langsung menyelinap masuk ke dalam Ruang Tamu Rumahku.


“Kami meminta Anda untuk turut aktif dalam pencarian keberadaan Allysa. Jika mungkin ada


kendala apapun, entah itu merasa kesulitan, anggaran/biaya, pemberangkatan, dan lain-lain. Kami siap membantu Anda menjalankan operasional ini. Karena, jika ini dibiarkan bebas, maka ini akan berdampak pada masyarakat umum.” Terang Polisi.

__ADS_1


“Tapi, tidak semudah itu Pak.” bantahku


“Anda belum mencobanya kenapa Anda sudah mencobanya.” Aku terdiam.


__ADS_2