
Aku ingat, Allysa itu manusia serigala. Dia bisa berubah menjadi manusia serigala dengan otot yang besar. Tapi, kini ku tak merasakan
lagi betapa sakittnya bogem mentah, tapi Aku masih merasakan kecemasan di jiwa melihat Allysa melawan 15 lelaki sekaligus. Tapi,
Aku ingat Allysa adalah atlet silat wanita, mungkin dia sudah paham teknik bertarung yang sesungguhnya.
Kelima belas lelaki itu memukul Allysa secara bergantian, tapi Allysa tidak tinggal diam, berulangkali Allysa mengarahkan itu semua
ke ******** laki-laki itu, satu persatu akhirnya kian lumpuh.
Punggung Allysa ditonjok, kakinya ditendang, tapi Allysa masih terus memukul semua lelaki disitu, sampai akhirnya satu orang Pria
memukul Allysa dengan helm tepat di kepala belakang Allysa. Ini yang parah, Aku tak bisa tinggal diam.
Allysa langsung jatuh setelah ditepak helm motor cross milik pembalap anggota Geng itu. Sepertinya Allysa kesakitan.
“Allysa!” Aku teriakki nama Allysa.
Semua Geng motor itu langsung menolehku lagi.
Allysa tak menjawab ucapanku, tapi sepertinya dia melihat sebuah bulan purnama. Dan, entah tiba-tiba Allysa terbangun, dan mengambil Helm di jok salah satu motor disitu. Dia berlari kencang, sepertinya Allysa mengambil Helm yang paling mahal disitu. Semua kaget, dan anehnya Allysa berlari ke tempat sepi dengan kecepatan yang tak wajar sekali kulihat. Dia berlari seperti seekor impala liar yang begitu kencang, sambil membawa helm itu. Sontak semua lelaki langsung mengejarnya.
Aku pun terpaksa ikut-ikutan walaupun sebagian tubuhku masih ada yang lecet bekas sayatan pisau anak-anak itu.
Aku tuturi dari belakang, Allysa berlari kencang kearah tempat yang sangat sepi dan minim Perumahan. Semua mengejarnya termasuk Aku di paling belakang. Aku tak pedulikan di semak-semak terdapat ular, tikus, ataupun ranjau yang penting Aku terus berlari sampai menemukan Allysa.
Sampai Akhirnya tepat di sebuah lapangan yang luas, namun jauh dari pemukiman, kanan kiri terdapat sawah yang luas. Akhirnya
kumendengar suara auman anjing yang sangat kuat.
Auman itu membuat semua berhenti berlari termasuk Pasukan Geng Motor itu.
Tapi, akhirnya beberapa diantara Mereka memutuskan berjalan secara perlahan mendekati sebuah lapangan yang gelap itu.
__ADS_1
Mereka tidak melihat keberadaan Allysa yang katanya dia lari ke lapangan, tiba-tiba salah satu anak geng itu berteriak kesakitan
dengan suara yang sangat mengharukan, baru kali ini Aku mendengar jeritan merintih kesakitan seperti siksaan neraka saja.
Ternyata sumber suara itu dari belakang, seorang anak geng itu ternyata dicakar hidup tepat di bagian punggung, hingga membuat
punggungnya mengalir darah deras, tanpa disadari tubuhnya langsung berlumuran darah.
Semua anggota Geng kaget, termasuk Aku. Posisiku tepat yang di pinggir lapang, segera berlari kejajaran pohon pisang tepat di
samping kananku.
Disitu Aku sendiri merinding ketakutan, mendengar jeritan anak geng itu, walaupun Aku sendiri sempat dipukul oleh dia, tapi mendengar anak itu menjerit seperti tikus
kejepit rasanya sangat tak manusiawi sekali.
Tak lama, setelah Aku pindah posisi. Aku mendengar jeritan lagi, namun ada 3 suara sekaligus. Mereka meneriaki nama “Abun...”
Salah satu ketua geng itu diminta untuk tanggung jawab.
Abun dan teman-temannya segera mendatangi tiga sahabatnya yang merintih kesakitan, tak lama Aku seperti mendengar suara gesekan pedang tepat di depanku, langsung kompak 7 suara dari mulut Mereka berdenyit kesakitan. Tinggal Abun selaku pimpinannya.
“Abun, Bagaimana ini?” tanya temannya.
Setelah itu, dua diantara 9 orang yang menjerit terluka itu akhirnya tak bersuara lagi, mungkin Mereka sudah mati karena darah Mereka mengalir terus, dan tinggal 7 orang lagi merasakan kesakitan. Aku tak berani mendekati.
Jangankan Aku, Mereka yang dekat pun tak berani mendekati sesama rekannya sendiri.
Aku kehabisan akal, Aku terus bersembunyi dengan jongkok di bawah pohon pisang
malam itu tak peduli, pohon itu angker atau tidak, yang penting nasibku tak sesial Mereka.
Suara pedang itu muncul lagi tepat di lapangan.
__ADS_1
“Semuanya Lari!!!” teriak Abun marah.
Akhirnya hanya tersisa 5 orang masih utuh, termasuk Abun akhirnya melarikan diri. Mereka tak mungkin membawa beberapa temannya yang sudah kritis itu. Niat ingin mengejar Allysa, namun nasibnya nahas dikejar Allysa. Mereka meninggalkan lapangan, dan
meninggalkanku di Pinggir lapangan itu, tapi Aku tak berani menatap beberapa temannya yang sudah sekarat itu. Perlahan kudekati dia,
satu persatu dari Mereka berhenti menjerit, matanya melotot ke langit, dengan paras wajah yang sangat ketakutan, ditambah lagi
lidah Mereka menjulur keluar hingga mengenai pipi.
Betapa mengerikannya kematian.
“Tolong-tolong!!!!” kudengar suara salah satu anak Geng itu yang masih berteriak ketakutan, sekalipun Aku sendiri bingung harus berbuat apa. Aku dekati, dia terus berteriak tolong dengan ekspresi yang cemas.
“Tolong-tolong, perutku.” Dia menunjuk kearah perutnya, kulihat aliran darah mengalir dari perutnya turun ke celana, dan sedikit mengerikannya lagi ketika kulihat sebuah benda putih penuh darah yang tak lain adalah usus besarnya menonjol ke lapisan Perut, Aku merasa geli. Aku lebih baik lari menjauh darinya. Aku sudah tak mampu berbuat apa-apa.
Tapi, ketika kuberlari menjauh. Aku mendengar jeritan dia semakin kuat, seakan-akan menginginkanku untuk membawanya
Pulang, karena ini darurat sekali. Aku akhirnya berhenti lari, kebetulan sisa suara tinggal suara pria itu, yang lain mungkin sudah mati. Aku membalikkan badanku, dan segera kembali ke pria yang menjerit kesakitan itu. Aku memberanikan diri jangan sampai Aku menoleh ke perutnya.
“Sini, Aku gendong.” Aku angkat ketiaknya dari belakang, tanpa menatap perutnya. Dia masih cemas, tapi tidak separah tadi, kini cenderung lebih tenang. Aku melihat sosok pria ini, yang tadi sempat ikut memukulku hingga terjatuh, tapi kini nasibnya nahas dengan usus yang keluar dari perutnya.
“Terima kasih, Terima kasih.” Ucpanya dia dengan suara bengkok-bengkok seperti orang yang terkena penyakit stroke, dia seperti merasakan kesedihan yang mendalam sebagai penyesalan ikut memukulku tadi. Matanya terus melirik kepadaku, Aku pun tak berani menoleh kebawah pandanganku tetap ke atas sampai menemukan tempat yang nyaman untuknya berbaring, walaupun kulihat ke belakangku, darahnya terus mengalir seketika Aku membawanya.
Akhirnya dengan terpaksa Aku baringkan lagi di tanah lapangan. Dia diam sebentar, lalu berteriak lagi, kesakitan. Disini Aku cemas banget, terpaksa kulihat perutnya, wajahnya sudah pucat, ekspresi menatap ke langit dengan mata melotot, rasa ketakutan
luar biasa hadir di wajahnya, Aku berusaha menenangkannya.
“Mas, tenang. Tenang saja!” ucapku berulangkali, sekalipun Aku sendiri enggak tenang sama sekali. Matanya melotot, nafasnya
sesak, dan tak lama barulah dia menutup matanya. Dia sudah meninggal. Aku langsung trauma luar biasa. Aku segera pergi
meninggalkan TKP menuju tempat dimana Abun dan sisa kawan-kawannya berlari barusan.
__ADS_1
Setelah berlari kembali menuju Parkiran titik awal, tubuhku langsung membatu, kaki dan tangan kian kaku, mataku melotot, rasanya ingin menangis dahsyat melihat situasi ini.