Seven Monster Spirit

Seven Monster Spirit
Chapter 14 - Hilangnya Hal Berharga


__ADS_3

Monster itu melihat orang-orang didepannya sebagai makanan, perasaan lapar diperutnya semakin terasa tapi meskipun makanannya sudah ada didepan mata, monster itu lebih menyukai membunuh semua mangsanya dan memakannya sekaligus daripada memakan mereka satu persatu.


"Graauuuggghh" monster itu mengaum membuat Yulo dan Ronny ketakutan, Jun pun sama tapi didalam dirinya dia berusaha untuk melawan ketakutan itu, sedangkan para orang dewasa sudah mengalahkan rasa takut mereka. Tomas membawa anak-anak itu kabur, meskipun dia mendengar raungan itu, dia tidak menoleh kebelakang dan tetap berusaha menjauh dari asal suara.


Monster itu mulai berlari, Jun berlari kedepan untuk menghentikan makhluk itu, tapi makhluk itu terlalu cepat, Jun yang ingin menebaskan pedangnya malah memotong angin dan makhluk itu juga melakukan serangan yang menyebabkan kaki jun terluka sehingga laki-laki itu terjatuh. Melewati Jun, sekarang Gorgus yang menghadangnya tapi ekor monster itu memotong perut Gorgus dan membuat isinya keluar. Grek juga mencoba menahannya tapi pria tua itu tidak bisa, karena sebuah panah yang terbentuk dari mana mulai muncul dipunggung monster itu, perhatian Grek teralihkan dan tidak melihat ekor setajam pisau mengarah ke lehernya dan membuat kepala dan tubuh pria itu terpisah.


Yang tersisa sekarang tinggal Yulo dan Ronny, mereka berdua sebisa mungkin menghadang monster itu tapi bukan serangan fisik yang datang tapi panah sihir yang datang, karena kedua laki-laki itu belum pernah bertarung dengan monster sekuat ini, jadi mereka belum punya pengalaman. Kedua panah sihir yang meluncur itu menembus tubuh mereka berdua dan menyebabkan mereka langsung mati tanpa bisa menghindar maupun menangkis serangan.


Monster itu dapat mengeluarkan 5 panah, 4 panah sudah menancap ditubuh Yulo dan Ronny dengan masing-masing 2 panah dan panah yang tersisa mengejar 3 orang yang kabur, karena Tomas menyuruh Ryan dan Lyra tidak melihat kebelakang mereka jadi tidak menyadari panah sihir yang meluncur, dan membuat target panah itu terdorong kedepan sehingga membuat orang itu mati seketika dengan badan tertusuk panah sihir.


"RYAAAANN!!"


Tomas tertegun melihat Ryan tertusuk dan mati seketika, sedangkan Lyra Berteriak dan menangis semakin kencang. Jun yang mendengar teriakan Lyra sempat menoleh tapi kakinya tidak bisa digerakkan jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Tomas terus berusaha membawa anaknya berlari menjauh dari monster tapi sebelum pria itu menyadari, sebuah lubang menganga di tubuhnya dengan benda tajam yang tertancap.


"Ayah kenapa berhen-" belum sempat Lyra menyelesaikan kalimatnya dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang akan dia tanyakan.


"AYAAH" Teriak Lyra


"La-larilah" Tomas mengatakan itu sambil batuk darah.


Ekor yang tertancap ditubuh Tomas menarik Tomas keudara, dan saat tubuh pria itu berada di atas, monster itu menarik ekornya dan membuat tebasan secara Horizontal sehingga membuat tubuh Tomas terbelah menjadi dua dan membuat semua isi didalamnya jatuh seperti hujan menimpa anaknya. Sekarang perasaan Lyra jatuh dalam keputusasaan dia melihat teman dan adiknya mati dihadapannya, dan sekarang ayahnya yang harus mati, tapi monster didepannya tidak memikirkan apa pun selain makanan. Monster itu mengibaskan ekornya sehingga Lyra terhempas ke salah satu rumah dan yang terjadi selanjutnya adalah panah sihir yang meluncur menancap ditubuh anak perempuan itu dan membuat dia menempel di dinding dibelakangnya.


Sekarang adalah mangsa yang terakhir, monster itu menyimpannya disaat-saat Terakhir agar bisa menyiksanya. Ekor seperti pisau bersiap menusuk tubuh Jun tapi saat serangan itu meluncur sebuah pedang hitam dengan garis putih menangkis ekor itu.


"Kau baik-baik saja?" Hazel mengatakan itu tapi perasaannya sekarang sedang marah melihat penduduk desa tewas karena monster itu.


"Paman Hazel" Jun yang sedang melemah melihat cahaya harapan.


Hazel dengan pedang Vrodast ditangannya melihat monster itu dengan tatapan tajam, dan monster itu melihat Hazel dengan senang karena ada orang yang lebih kuat daripada Jun.


Hazel menyerang terlebih dahulu dengan melakukan tebasan kearah lawannya, tapi pergerakan monster itu sangat cepat, dia dengan mudah menghindari semua serangan Hazel. Meskipun pedang Dastanisnya memiliki kemampuan tebasan cahaya tapi karena luka yang dia terima pada perburuan terakhir, dan mengakibatkan rusaknya inti mana pada dirinya, sekarang dia tidak bisa menggunakan sihir dan kemampuan penuh dari Vrodast tidak bisa keluar.


Pertarungan semakin berat sebelah, hanya berbekal kemampuan fisik, Hazel kesulitan mengimbangi pergerakan dari makhluk yang ia lawan. Saat Pria itu melakukan tebasan, si monster menangkisnya menggunakan ekornya yang tajam. Pertarungan terus berlanjut dengan tebasan pedang dari Hazel dan serangan ekor dari si monster, monster itu tidak menggunakan sihir panahnya sekarang, karena Hazel bertarung dengan jarak dekat jadi monster itu melakukan hal yang sama.


Ditengah pertarungan Hazel hampir terjatuh karena perutnya terasa sakit, tapi pria itu berhasil mengatasinya, karena hal itu, Hazel mundur kebelakang untuk menjaga jarak dari lawannya. Monster itu menyadari bahwa lawan yang dia lawan memang kuat tapi sekarang lawannya sedang melemah, jadi jika dia tidak segera mengakhirinya, pertarungan ini akan berakhir lama.

__ADS_1


Memusatkan Mana dipunggungnya dan membentuk sebuah panah, monster itu Bersiap untuk meluncurkan serangannya.


"Paman dia akan mengeluarkan sihir" peringat Jun kepada Hazel.


Mendengar peringatan itu Hazel bersiap memotong serangan yang akan datang, 5 panah sihir bersiap untuk meluncur, Hazel memperhatikan kearah mana serangan itu akan mendarat, dan saat dia menyadari bahwa serangan itu bukan mengarah ke dirinya melainkan orang yang ada dibelakangnya, Hazel berdiri didepan Jun untuk melindunginya.


serangan pertama meluncur, Hazel menebasnya dengan mudah tapi serangan kedua Dan ketiga sangat cepat sehingga memotong lengan kiri Hazel dan membuat tangannya jatuh ketanah, serangan keempat dan kelima berhasil membunuh orang yang Hazel lindungi.


Hazel dulunya memiliki sebuah keluarga tapi karena tidak bisa menyelamatkan mereka, Hazel hidup seperti zombie dan berjalan tanpa arah dan tujuan. Pertama kali datang kedesa ini, tidak ada yang dia inginkan dan tidak ada tujuan yang ingin dia capai, tapi lama kelamaan, Hazel mulai bisa menganggap orang-orang didesa ini sebagai keluarganya yang baru. Melihat keluarganya mati tidak ada perasaan selain marah dan sedih, Pria itu kesal kepada dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi keluarganya tapi di dalam hatinya ada rasa syukur karena mungkin satu orang dari desa ini bisa selamat.


...----------------...


"Haaah... Kelihatannya sudah cukup, semoga aku tidak terlambat" kata Neron sambil mengusap keringat didahinya.


Monster dengan banyak bulu di badannya dan taring yang mengarah kedepan dengan kaki pendek terbaring didepan Neron, ada 3 dari mereka, karena monster ini yang Neron butuhkan, jadi sekarang pekerjaannya sudah selesai dan waktunya kembali kedesa.


Memasukkan monster-monster itu kekarung, Neron menggendong mereka kembali kedesa.


"Bau kayu terbakar" kata Neron setelah mencium suatu bau.


Ketika jarak Neron sudah semakin dekat dengan desa, anak itu merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Matanya terbelalak melihat hal didepannya, rumah warga terbakar, darah menutupi tanah dengan para warga yang terbaring diatasnya. Neron meninggalkan hasil buruannya dan berjalan menyusuri mayat-mayat untuk mencari Hazel dan teman-temannya. Neron terkejut melihat orang yang dia Kenal mati dengan benda panjang bersinar. 'Sihir, siapa yang melakukannya' itulah yang Neron pikiran. Gobu, Syla, Paman Henry mereka semua mati, Neron hanya berjalan melewati mereka karena dia tahu tidak ada yang bisa dia lakukan. Setiap Neron berjalan banyak mayat yang dia lewati, ada yang tidak memiliki kepala, ada yang terbelah menjadi dua dan ada juga yang tertusuk dengan sihir.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Mendengar suara itu, Hazel yang dalam keadaan lemah mendongak sedikit melihat asal suara, saat dia tahu orang yang berbicara adalah Neron hatinya merasa bersyukur dan takut.


"Kau seharusnya tidak kembali, ............Aku tidak bisa menepati janjiku, Aku tidak bisa melindungi Desa ini, Maaf." Hazel mengatakan itu kepada penduduk desa yang sudah mati. "Dan Neron, Aku tidak bisa menemanimu lagi, Maafkan aku... aku adalah orang tua yang buruk tapi paling tidak bawalah Benda ini bersamamu, aku yakin pedang ini akan sangat berguna...... uhuk" setelah mengatakan itu Hazel batuk darah.


"Jangan terlalu banyak bicara Hazel, apa kau memiliki kertas penyembuhan itu lagi?" tanya Neron, Melihat keadaan Hazel yang semakin memburuk, Neron berusaha untuk membantunya.


"Itu tidak akan berguna, Aku sudah sampai pada batasku" beritahu Hazel.


"Neron untuk terakhir kalinya bisakah kau memanggilku Ayah?"


Neron yang sekarang dipenuhi dengan perasaan aneh berusaha memenuhi permintaan terakhir Hazel.


"Ayah"

__ADS_1


Itu adalah sebuah kata biasa tapi bagi Hazel mendengar hal itu dari Neron membuatnya bahagia. Menggunakan tangan yang tersisa Hazel mengelus kepala Neron dengan lembut, Hal itu membuat Neron merasa sedikit senang tapi perasaan sedih tetap bisa Neron rasakan.


"Dan juga tetaplah hidup Neron lalu wujudkan impianmu, ini adalah permintaan terakhirku"


"tentu, aku akan melakukannya"


"Terimakasih"


Bersama dengan kata terakhir yang Hazel ucapakan, Nyawa pria itu sekarang sudah meninggalkan tempatnya.


"ksksksksks" Neron mendengar sebuah suara, dia tahu bahwa asal suara itu adalah penyebab hancurnya desa ini, Neron menoleh untuk melihat bentuk makhluk itu, makhluk gelap dengan empat kaki dan ekor panjang yang berayun-ayun, monster itu mengamati Neron.


Neron berbalik untuk melawan makhluk itu dan dengan cepat tubuh Neron tertutupi dengan sisik hitam pekat yang membentuk sebuah zirah, mata birunya berubah menjadi emas dan rambut putihnya berubah menjadi hitam keunguan membuat anak manusia itu terlihat seperti gabungan antara manusia dan monster.


Aura yang dilepaskan Neron sangat kuat membuat Monster itu merasa sedikit takut, tapi sekarang tidak ada tempat bagi monster itu untuk kabur, jadi yang bisa monster itu lakukan sekarang adalah menyerang terlebih dahulu.


Monster itu berlari dengan cepat dan Neron tetap diam ditempatnya, monster itu melompat dan akan menggunakan cakarnya untuk menyerang Neron tapi yang terjadi malah sebaliknya, Cakar yang tumbuh ditangan Neron menembus tubuh monster yang akan menyerangnya dan tidak hanya itu gelombang hitam yang keluar ditangannya membuat monster itu lenyap seketika, pertarungan berakhir dengan satu kali serangan.


Menghadap kelangit malam yang gelap, Neron memenangkan pertarungan tapi tidak ada rasa senang didalam hatinya, yang ada hanya perasaan aneh yang tidak dia ketahui.


Berjalan kearah Hazel, Neron memegang pedang yang sudah Hazel lepaskan.


"Terimakasih atas segalanya, Ayah" Mengambil pedang yang Hazel berikan, tak lama kemudian pedang itu menghilang, itu adalah kekuatan tersembunyi Neron yaitu sihir ruang.


Desa ini sudah hancur jadi Neron harus pergi.


"Dor....Dor"


Suara tembakan diarahkan kepada Neron tapi tidak ada yang berhasil mengenainya.


"Kepung Monster itu"


pasukan berkuda dengan cepat berlari kearah Neron dan orang terdepan dari pasukan itu melakukan tembakan kearahnya.


Tubuh Neron seolah disetrum oleh sesuatu membuat dia kehilangan kesadaran, bukan karena serangan dari luar tapi sesuatu dari dalam. Ada sesuatu yang mengendalikannya dan sekarang dia berlari kearah hutan, untuk menghindari dari kejaran para prajurit, Neron tetap berlari meskipun keadaannya gelap.


'Hanya sampai disini saja ya'

__ADS_1


Akibat kekuatan yang sangat kuat, tubuh Neron pingsan didalam hutan.


Kehidupan damai yang dia jalani sekarang sudah berakhir. Teman, keluarga, dan tempat dia pulang sudah tidak ada tapi dia harus tetap bertahan hidup.


__ADS_2