Seven Monster Spirit

Seven Monster Spirit
Chapter 28 - Terkepung


__ADS_3

Kedua laki-laki itu dengan cepat menuruni gunung Volcanes. Ceithrein yang terus memberontak membuat Feit harus menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh, dan dibelakang mereka, sekumpulan monster kadal mengejar dengan cepat, bukan hanya dari arah belakang, para kadal api itu juga merayap ditembok gunung, jadi Feit dan Kiri harus berlari dengan cepat agar mereka tidak terkepung.


"hah...hah.. Kapten Bara kita terkepung" Kiri memberitahu kaptennya tentang situasi saat ini, nafasnya ngos-ngosan karena telah berlari menuruni gunung.


Feit menurunkan Ceithrein, pria itu berharap Anak perempuan itu bisa tenang tapi tidak sesuai dengan harapannya, Ceithrein kembali memberontak sehingga membuat Feit harus menahannya.


"Berhentilah jadi beban tuan putri, Apa kamu ingin membuat kita mati juga seperti Neron" Kiri membentak dengan keras tapi wajahnya sama sekali tidak melihat kearah Ceithrein, matanya terfokus pada sekelompok monster yang sedang mengepung mereka. Pria itu menggeram kesal.


Ceithrein yang mendengar perkataan dari Kiri seperti ditampar keras, dia terduduk dengan lemas dan tatapannya menjadi kosong, sekarang dia semakin menyalahkan dirinya sendiri.


"Hey Kiri itu terlalu berlebihan" Feit juga membentak dengan keras kepada Kiri.


"Kau terlalu lembut kapten" Kiri melirik kearah Feit kemudian kearah Ceithrein, "Hanya karena kita kehilangan 1 orang, jangan sampai perasaanmu menyebabkan banyak orang mati, itu yang harus kau pahami tuan putri".


Feit tahu ini adalah misi pertama Ceithrein dan dia juga berusaha untuk memaklumi kesalahannya, tapi apa yang dikatakan oleh Kiri itu benar. Sekarang dari pada berdebat, hal yang harus dilakukan adalah bertarung dengan para Scietile yang mengepung mereka, meskipun Feit hanya tersisa 1 anak buah yang bisa diandalkan.


"Kiri"


"Aku tau kapten Bara, kau urusi saja tuan putrimu itu" Kiri mengeluarkan belatinya dan bersiap untuk bertarung.


Feit menghela nafas, sudah beberapa kali dia menjadi ketua tim dan beberapa kali juga dia harus kehilangan anak buahnya, dari banyaknya kegagalan seharusnya pria itu belajar untuk lebih bisa melindungi anggota timnya, tapi sekali lagi dia membuat anggota timnya itu kehilangan nyawanya. Perasaan bersalah pasti ada dan yang harusnya dia lakukan sekarang adalah melindungi orang yang masih selamat daripada hanya menyalahkan dirinya terus menerus.


Kiri berlari dengan cepat kearah monster kadal, menebaskan pedang kecilnya itu dengan lincah sehingga membuat beberapa Scietile terkena tebasan dari belati yang dialiri Aura. laki-laki kurus itu tidak berhenti disana, dengan kecepatan dan kelincahannya, Kiri membunuh para Scietile seperti assasin yang sedang menari, meskipun sudah cukup banyak yang dia bunuh tapi kelompok kadal api masih belum terlihat berkurang.


'grrrr...apa aku akan mati disini?, Sialan!!, aku masih belum mau menemui kalian'.


Kiri mengutuk didalam hatinya melihat sekumpulan Scietile yang tidak berkurang, malahan terus bertambah membuat dia semakin kesal.


Mengambil beberapa belati dari sakunya, Kiri bersiap melakukan tekniknya.

__ADS_1


"Dagger technique: First clone wind"


Kiri melemparkan belatinya kedepan, dengan cepat seperti angin serangan kiri menyapu para Scietile didepannya.


'Sepertinya dia sudah tenang' kata batin Feit yang melihat Ceithrein sudah tidak lagi memberontak.


"Baiklah Kiri, aku akan membantumu...Fire Magic: Doom Spear"


Feit juga melancarkan serangannya, dia menciptakan tombak api dan melemparkannya ke udara dan saat tombak itu tertancap ketanah, para Scietile disekitar tombak itu terbakar hingga hangus.


Kiri hanya melirik kearah Feit tanpa mengucapkan apa-apa.


Mereka berdua mengambil sikap saling melindungi dan menghadap kearah musuh.


"Jangan sampai jadi beban" kata Feit dengan nada bercanda.


Feit dan Kiri berdiri membelakangi Ceithrein, mereka berdua berlari kearah gerombolan kadal api untuk melindungi diri mereka sendiri dan anak perempuan dibelakang mereka.


Feit bertarung menggunakan sihir tombak apinya, serangan tombaknya sangat kuat dan teknik tombaknya tak kalah hebat, membuat pria itu dapat membunuh banyak monster api dalam sekali serangan. Sedangkan Kiri, pria kurus itu bertarung menggunakan belati, kecepatan dan kelincahannya membuat dia sulit untuk terkena serangan dari lawan-lawannya itu dan dengan cepat, dia membunuh kadal api yang ia lihat.


"Kriiiiii" Para Scietile berteriak yang membuat para manusia itu harus menutup telinga mereka. Disekitar tubuh setiap Scietile muncul bara api kecil seperti daun yang dibawa angin, bara api kecil itu terbang kearah Feit dan Kiri, meskipun kecil tapi karena banyaknya monster api yang menyerang membuat bara kecil itu menjadi sangat panas.


"Kiri, kita harus berdekatan agar bisa saling melindungi" perintah Feit.


"Cih, jangan memerintahku, aku sudah tau itu" meskipun Kiri berkata seperti itu, dia tetap melakukan apa yang Feit katakan.


Feit memutar tombaknya sebagai penahan dari serangan para kadal api dan Kiri menggunakan sihir anginnya sebagai pelindung.


Banyaknya bara api yang terbang membuat penglihatan semakin berkurang dan hawa panas jadi terasa, Pada saat itu pula Feit dan Kiri menyadari serangan api yang lebih panas, tapi serangan itu tidak mengarah kepada mereka berdua, melainkan orang yang mereka lindungi. Kiri dengan cepat berlari ke arah belakang untuk melindungi anak perempuan itu dan untungnya, dia sempat untuk sampai ke tempat Ceithrein sebelum serangan yang dilancarkan oleh para Scietile itu tiba, tapi serangan itu malah menembus perut Kiri, dan Ceithrein yang dari tadi tertunduk menjadi kaget setelah melihat Kiri yang memiliki luka diperutnya.

__ADS_1


"Apa kau terluka tuan putri?" Kiri menanyakan itu, tapi tidak dengan wajah kesal melainkan tersenyum meskipun sulit melihatnya karena banyak luka diwajahnya.


"Kiri... Kiri" Kiri yang terjatuh membuat Ceithrein panik, anak perempuan itu yang dari tadi hanya menyalahkan diri sendiri, sekali lagi membuat teman satu timnya terkena masalah.


"Perutmu!!" Darah segar mengalir keluar dari perut Kiri.


"Jika kau bisa bertarung, seharusnya kau bertarung bukan melamun tuan putri" kata Kiri lemah, dia berbaring dengan luka diperutnya, "Aku tidak apa-apa"


"Maafkan aku, Aku...aku hanya jadi beban.." Ceithrein menangis, matanya yang tadi menatap kosong sekarang kembali mengeluarkan air mata.


"Jangan dipikirkan, sekarang......aku mengandalkanmu untuk melindungiku tuan putri" sekarang perkataannya lebih lembut dari sebelumnya.


"Itu benar Nona Ceithrein, Lindungilah Kiri dan aku akan fokus pada para Scietile didepan" Kata Feit yang tetap fokus pada musuhnya.


Ceithrein berdiri di dekat Kiri supaya bisa melindunginya dan Feit akan fokus pada para Scietile yang mengepung mereka. Perasaan bersalah masih ada, tapi sekarang dia berusaha untuk menguatkan hatinya agar bisa melakukan apa yang bisa dia lakukan.


Saat Feit berfokus pada monster kadal api yang mengepung mereka, Kiri yang terbaring lemah dan Ceithrein yang siaga melindungi Rekannya, sebuah hawa panas terasa dekat dari arah atas.


Kiri yang kepalanya menghadap kearah atas yang pertama kali melihat sumber hawa panas itu.


'Yang benar saja, datang lagi masalah baru' Kiri melihatnya dengan lemah.


'Apa kami harus melawannya?' Feit semakin waspada.


'Apa itu?' Ceithrein yang penasaran.


Masing-masing dari batin mereka mengatakan itu, mereka ingin tahu apa yang ada diatas sana.


__ADS_1


__ADS_2