Seven Monster Spirit

Seven Monster Spirit
Chapter 04 - Kekuatan Hazel


__ADS_3

"kau semakin hebat saja Neron. Teknik berpedangmu semakin meningkat"


Hazel duduk untuk menghilangkan rasa lelahnya dan menghapus keringat didahinya menggunakan tangannya, Neron yang sudah selesai melakukan latihan duduk disamping Hazel.


"Itu semua berkatmu Hazel kau mengajariku dengan baik"


"kalau begitu aku akan mengajarimu lebih banyak jadi tunggu saja"


Hazel dengan semangat mengatakan hal itu dan tersenyum dengan percaya diri.


Sudah beberapa hari Neron berlatih kemampuannya semakin meningkat. Pertama kali melihat kemampuan pengaliran energi Neron, Hazel terkejut karena dia bisa melakukannya dalam sekali coba dan sekarang mungkin Neron bisa mengalahkan anak yang lima tahun lebih tua darinya.


"Apakah sudah cukup atau kau ingin melanjutkannya lagi?"


"Sepertinya sudah cukup, aku mulai merasa bosan latihan berpedang"


"Padahal baru beberapa hari, kau masih belajar sedikit tentang ilmu pedang"


"Kalau begitu tunjukkan lagi teknik pedang yang lain"


"Hah kau memang tidak sabaran. Tunggu sebentar"


Hazel berdiri dan masuk kedalam rumah setelah beberapa saat Hazel keluar membawa pedang Vrodastnya.


"Apakah kau akan Menggunakan pedang itu?"


"Tentu saja, teknik ini tidak bisa digunakan oleh pedang lain kecuali pedang ini dan satu pedang Hatranis"


Hazel memasang kuda-kuda, vrodast tetap berada di pinggangnya dan sarungnya pun masih belum mengeluarkan pedang itu.


"Lihatlah"


dia memegang pedang itu dan..


"shhuuuuusshh"


taebasan pedang itu merobek udara kosong dengan cepat.


"Apa kau bisa melihatnya?"


"Ya, tebasan itu memang cepat dan mungkin orang biasa tidak akan bisa melihatnya tapi yang lebih mengejutkan adalah gerakanmu, aku hampir tidak bisa melihatnya"


"kupikir kau tidak akan bisa melihatnya kau mungkin memang bukan orang biasa"


"kenapa kau menunjukkan ini kepadaku jika aku tidak bisa menggunakannya?"


"Dengar, aku tidak akan hidup selamanya dan aku juga tidak akan terus bertarung, ada saatnya kau mungkin yang akan melindungiku. Dan suatu hari nanti aku pasti akan mewariskan pedang ini kepadamu. Oh ya kau belum memberitahuku tentang impianmu, jadi apa impianmu?"


"mungkin bukanlah impian yang hebat tapi inilah yang aku inginkan"


"jadi apa itu?"


"Aku ingin mengelilingi dunia ini untuk melihat dan mempelajari banyak hal"


"Itu adalah mimpi yang hebat"


"Kenapa kau bilang begitu? biasanya impian itu terkait dengan pekerjaan atau sesuatu semacamnya, kan?"


"Kau memang masih anak kecil, Tidak peduli impianmu itu besar atau pun kecil selama itu yang kau inginkan kau harus mewujudkannya, aku akan selalu menjadi tempatmu pulang"


Hazel meletakkan tangannya di kepala Neron dan kemudian menggosoknya dengan lembut, meskipun wajah Neron tetap datar tapi dalam hatinya dia merasakan sesuatu mungkin itu yang disebut dengan perasaan bahagia.


" PAMAN HAZEEEL!!!"


Ditengah percakapan mereka berdua seorang remaja berlari kearah mereka dan memanggil nama Hazel.

__ADS_1


Wajah Hazel yang tadi lembut sekarang berubah menjadi keras karena suasananya menjadi serius, dia tahu jika para penduduk desa mengunjunginya dengan keadaan panik pasti telah terjadi sesuatu.


"Ada apa ? apa yang terjadi?"


Hazel bertanya tentang apa yang sedang terjadi dan berusaha untuk menenangkan pemuda itu.


"Go..Goblin, mereka menyerang rumah paman Gorgus".


Goblin adalah monster kecil berwarna hijau yang suka mencuri jadi mereka kadang-kadang datang ke desa terdekat untuk mencuri sesuatu dan juga Goblin adalah monster yang cukup pintar.


"Ada sangat banyak dan juga mereka memiliki pemimpin"


Pemuda itu memberitahu Hazel dengan panik


"Baiklah, Neron kau tetap disini ayo Jun"


Nama pemuda itu adalah Jun dia merupakan anak yang dibesarkan di desa ini tapi kedua orang tuanya meninggal 1 tahun yang lalu dan juga dia merupakan murid pertama Hazel didesa ini. Dia juga bisa menggunakan teknik pedang jadi dia bisa membantu Hazel jika terjadi serangan.


"tunggu, aku ingin ikut"


"Itu berbahaya"


Hazel memperingatkan Neron


"Itu benar adik kecil kau harus tetap disini"


Jun menyetujui peringatan Hazel


"Hazel biarkan aku ikut denganmu aku bisa membantumu"


Melihat kemata Neron, Hazel tahu bahwa Neron sudah membulatkan tekadnya jadi dia mengalah.


"huh....baiklah, tapi kau harus tetap berada di tempat yang aman"


"baik"


"tenang saja dia itu kuat, dia pasti bisa melindungi dirinya sendiri"


Gorgus adalah pandai besi didesa ini. Rumahnya tidak terlalu jauh jadi dalam beberapa menit mereka akan segera sampai. Juga karena mungkin rumahnya dekat dengan tanah lapang maka rumah itu jadi mudah diserang, walaupun sudah ada pembatas, para Goblin itu mungkin sudah merusaknya.


Setelah beberapa menit mereka akhirnya sampai ke rumah Gorgus.


"Akhirnya kau datang juga Hazel"


Seorang pria paruh baya sekitar umur 40 tahun mengatakan itu sambil membunuh goblin yang ada didepannya.


Beberapa pria sedang menahan serangan para Goblin. Mereka bisa melakukan itu jika hanya 1 sampai 3 Goblin tapi itu sekitar dua puluhan dan ada satu Goblin yang ukurannya lebih besar dari goblin lain yang dimana dia adalah hobgoblin yang merupakan pemimpin mereka sedangkan orang-orang desa yang melawan sebanyak 7 orang ditambah Hazel, Jun dan Neron mereka semua ada 10.


"Semuanya aku akan melawan hobgoblin itu sendirian yang lainnya bunuh goblin yang lain"


mereka semua mengikuti perintah dari Hazel dan melakukan tugas yang sudah diberikan.


"dan Neron carilah tempat yang aman"


Neron segera mundur menjauhi tempat pertarungan tapi dia masih bisa melihat mereka.


Para penduduk desa yang lain menyerang para Goblin dan Jun menggunakan pedangnya yang dilapisi Aura dengan terampil satu persatu para Goblin itu terbelah. Sedangkan Hazel berlari kearah Hobgoblin dengan menggunakan Vrodast Swordnya.


Neron melihat pertarungan mereka dari kejauhan dan dia sadar ada sesuatu yang aneh, meskipun rumah itu sudah sedikit hancur tapi hobgoblin itu tidak menghancurkan semuanya dan para goblin kecil juga tidak menyerangnya. Lalu setelah beberapa saat Neron menyadarinya dan kemudian segera melesat kearah rumah itu.


Hazel dan hobgoblin saling bertukar serangan mereka berdua imbang. Hazel menggunakan Vrodastnya dan hobgoblin menggunakan gada yang ia bawa, tapi Hazel belum serius karena dia hanya melakukan teknik pedang biasa bukan teknik spesial dari Vrodast Swordnya. Disaat mereka saling berhadapan Neron melesat kedalam rumah membuat hobgoblin ingin menghentikannya tapi Hazel tidak membiarkannya melakukan apa yang dia inginkan, Hobgoblin itu meraung keras memerintahkan goblin kecil itu menghentikannya.


"GGRAAAUUGHH"


Beberapa goblin yang mendengarnya juga masuk kedalam rumah tapi yang lainnya tidak bisa karena mereka sibuk bertarung dengan penduduk desa.

__ADS_1


"hiik hikk"


Suara tangisan itu berasal dari dalam lemari ada anak yang sedang menangis didalam. seorang anak laki-laki yang seumuran dengan Neron, dia adalah anak Gorgus namanya adalah Gobu. Anak itu tadi ingin keluar tapi dia tidak sempat dan sekarang dia terlalu takut untuk melakukan itu.


Neron yang sudah masuk segera mencarinya dengan kemampuan inderanya dia langsung menemukannya.


"Sekarang kau bisa keluar"


Neron membuka lemari dan membantu anak itu keluar.


"Si... siapa kau?"


anak itu bertanya dengan terisak isak.


"Namaku Neron. Sudah tidak ada waktu ayo"


Neron kemudian menarik tangan anak itu untuk menuruni tangga tapi kemudian ada 3 goblin yang sudah menunggu mereka.


"Tenang saja aku akan melindungmu"


Melihat sekeliling dia mencari senjata yang bisa dia gunakan meskipun Neron bisa mengalahkan mereka dia ingin mencoba hasil latihannya. Neron melihat pedang yang bersandar di dinding dia kemudian melompat untuk mengambilnya. Melihat itu kedua goblin melompat bersamaan untuk menyerang Neron. Neron yang sudah memegang pedang mulai mengalirkan aura dari tubuhnya dan dalam satu kali tebasan tubuh kedua goblin itu terpotong menjadi dua.


Goblin yang terakhir panik dan juga mecari senjata, dia kemudian menemukan beberapa tombak yang ada disebelah pintu, goblin itu mengambilnya dan mengarahkannya pada Neron, yang membuat terkejut adalah Neron menghilang dan muncul di belakang si goblin tapi goblin itu sudah kehilangan kepalanya, dengan darah yang menyelimuti pedang itu Neron membersihkannya dengan 1 kali ayunan.


"Sudah selesai. Kau bisa keluar"


Dengan itu pertarungan Neron sudah selesai.


Sedangkan diluar Hazel ingin cepat menyelesaikan pertarungannya agar dapat melindungi Neron .


Hazel mulai berpikir jika 'aku menggunakan teknik tebasan cepat Neron mungkin akan terkena serangan itu, juga sepertinya aku harus menggunakan teknik itu'


'Vrodast Skill... Second technique... 108 slashes of light'


Hazel berjalan dengan pelan dan saat dia sudah sampai dibelakang hobgoblin


"dhuar"


Tubuh besar itu hancur sampai tidak berbentuk. Hazel segera pergi untuk melindungi Neron tapi saat dia masuk kedalam rumah grogus para Goblin itu sudah mati dengan badan terpotong dan kepala yang dipenggal.


Neron memegang pedang dan membawa Gobu untuk keluar dari rumah.


"Neron kau yang melakukan ini?"


"Ya"


Neron menjawab dengan singkat. Hazel merasa senang tapi disaat yang bersamaan dia juga merasa takut, Neron seperti orang yang berbeda.


Neron keluar dari rumah diikuti oleh Gobu dan Hazel. pertarungan sudah berakhir para penduduk desa tidak ada yang mati hanya luka-luka dan para Goblin mereka semua terbantai.


Gobu kemudian memeluk ayahnya. Para penduduk terduduk dan tertawa bersama karena sudah berhasil mengalahkan para Goblin.


"Dimana Hobgoblin itu ? apa kau berhasil mengalahkannya Hazel?"


Hazel yang sedikit bengong tersadar dari lamunannya.


"tentu saja"


dia tersenyum pahit


"Ternyata kau benar-benar hebat"


Mendengar pujian itu membuat Hazel sedikit mengembalikan semangatnya


"Tidak, banyak orang yang lebih hebat dariku"

__ADS_1


"Siapa?"


"Orang itu mungkin akan datang 3 hari lagi"


__ADS_2