
Disepanjang jalan pulang, menuju mess karyawan Maudy terlihat sangat murung dan lesu. Dia berjalan, sambil melamun, meratapi nasibnya yang sangat memilukan.
"Apa aditya benar-benar sudah lupa ya sama aku? kenapa sih, harus bertemu dia lagi, padahal sudah lama aku menghindarinya. Sialnya rasa ini malah semakin tumbuh subur, dipupuk dengan khayalan-khayalan bersamanya. Nyatanya---" Maudy bergumam dalam hati. Renungannya terhenti karena mendengar suara klakson mobil yang hendak melintas.
*Piiiimm ...ppimm* "wooy, kalau nyebrang pake mata!" ucap pengendara itu. Hampir saja maudy terserempet mobil karena kecerobohannya.
Diana merespon ucapan pengendara itu. "Wooii, dimana-mana nyebrang tu pake kaki! gilak lo. Hmm ... lu kenapa sih Dy!" ucap Diana dengan sangat khawatir.
"Maaf Na, aku lagi gak fokus" jawab Maudy.
"Mikirin apaan sih Dy? Masalah dikantor? Alah, udah jangan dipikirin banget. Inget, kita ini cuma sementara kok disini" ujar Diana.
Mereka pun melanjutkan perjalanannya, dengan sangat erat Diana memegang tangan sahabatnya Maudy. Sesampainya di mes, air mata Maudy terjatuh, menghujani pipi chubbynya.
"Lah, kenapa dy? kok nangis sih?" tanya Diana.
Maudy reflek memeluk Diana, lalu dia menangis dipundaknya. "Na, makasih ya, aku ga tau apa yang terjadi kalau ga ada kami, maafin aku selalu merepotkan dan menjadi beban dihidup kamu ðŸ˜." Maudy menangis terisak-isak. Diana pun balik memeluk Maudy, dan tak berkata apa-apa dia ingin memberi waktu pada Maudy untuk menenangkan diri.
*Tok ... tokk ... tokk*
"Heey, Maudy! Diana! buka pintu" teriak Shafira. Dari luar terdengar suara gedoran pintu dari Shafira. Maudy bergegaa menghapus air matanya, dia tak ingi terlihat lemah dihadapan orang lain, apalagi orangnya adalah Shafira. Bukan malah empati, malah jadi materi bullyan yang ada.
"Iya, sabar" jawab Diana. Diana segera membuka pintu dan melihat Shafira pulang membawa banyak sekali makanan.
"Eh dah, Lama banget, buka pintu aja! " jawab Shafira.
"Ya sabar, mending besok lu bawa kunci sendiri deh, nyebelin banget! Itu, makanan, untuk kita ya?" tanya Diana dengan nada bercanda.
__ADS_1
"Duuuhh, jangan ngarep ya. Ini makanan khusus untuk aku sendirilah. Mau? beli sana" jawab Shafira.
Didalam kamar Maudy, Diana dan Shafira sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Shafira sibuk dengan fil drakornya, Diana sibuk dengan bukunya dan Maudy ... sibuk dengan khayalannya. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari sudah semakin gelap.
"Na, gak laper ya?" tanya Maudy.
"Duh, iya ni Dy, laper, perut udah krucuk-krucuk. dah demo kayaknya cacing diperut ku" jawab Diana.
"Sama, yok cari makan, Shafira ikutan gak?" ajak Maudy.
Shafira tak menghiraukan ucapan Maudy, dan menaikkan volume laptopnya.
"Yaampun, ngapain sih nenek sihir itu diajak-ajak. Udah kita aja" ujar Diana. Maudy dan Diana pun mengganti pakaiannya dan bersiap untuk membeli makanan diluar.
Karena mereka baru kali ini ke Jambi, mereka tidak mengetahui jalan ataupun penjual makanan di daerah sekitar mess mereka. Sehingga mereka berjalan ke sembarang arah, berharap menemukan tempat makan disekitar sana.
"Ehh, Dy. kok sepi amet ya. Kayaknya kita salah jalan" ucap Diana.
Tak lama kemudian, terlihat sebuah mobil berhenti menghampiri mereka. Kaca mobil itu perlahan turun dan terlihat pengemudi didalamnya.
"Hmm, Ken" ucap Maudy pelan.
"Maudy, Diana. Kalian ngapain malam-malam berkeliaran dijalan?" ujar Ken.
"Kami sedang mencari tempat makan Ken, apakah didekat sini ada tempat yang bisa kami datangi?" tanya Maudy.
Tiba-tiba kaca belakang, mobil itu, turun perlahan. Terlihat seseorang yang sangat tak asing duduk dibelakang. Ya, itu Aditya. "Kebetulan, kami juga sedang mencari makan, ayo naik, tidak baik wanita berkeliaran malam-malam" ucap Aditya.
__ADS_1
"Tapi pak, bukannya kita barusan maa--" ucapan Ken terpotong, karena aditya tiba-tiba batuk tersedak.
"Tunggu apa lagi? ayo naik" ucap Aditya.
"Eeee ... maaf pak. Ini Maudy duduk disamping bapak, saya duduk disamping Ken, gitu ya? tanya Diana terbata-bata.
Aditya merasa salah tingkah."Ee ... aaaa ...oh iya, saya pindah kedepan saja" jawabnya.
Dengan perasaan sungkan, Maudy dan Diana pun naik ke mobil itu.
"Ken, ke tempat biasa" ucap Aditya.
Setelah beberapa lama diperjalanan akhirnya mereka sampai ditujuan. Yaap, Rumah makan padang, makanan ter laziz dengan cita rasa minang dan mengenyangkan. Mereka pun duduk di salah satu meja. Aditya memanggil pelayang untuk menghidangkan makanan di meja itu.
"Ndeh, uda ko, yang sabanta ko, datang kamari kan?" ucap salah satu pelayan.
Ken reflek menatap pelayan itu, memberi isyarat agar dia diam dan tak berkata apapun.
"Hmm, bapak tadi ngomong sama siapa ya?" tanya Diana.
Aditya terlihat sangat grogi, karena khawatir mereka mengerti ucapan pelayan tadi. Melihat Aditya yang kebingungan, Ken segera mengalihkan pembicaraan.
"Eh, kalian kenapa cuma berdua? mana teman kalian yang satunya? siapa itu namanya? si nenek sihir" tanya Ken.
"Shafira" ucap Maudy pelan.
"Nah, iya dia" ucap Ken.
__ADS_1
"Tadi sudah diajak sih, tapi dia gak mau, yaudah kita jalan berdua. Pasti nyesel deh dia gak ikutan, kalau tau kita dapat makan malam gratis malam ini" ucap Diana.
"Diana" ucap Maudy. Dia melirik Diana, mengingatkan bahwa Aditya ada didepannya, dengan memberikan isyarat. Diana pun mengerti maksud Maudy, dia menjadi sungkan dan menundukkan kepalanya.