
"Maudy, ada yang ingin ku katakan padamu" ujar aditya.
Melihat tatapan aditya yang serius, maudy merasakan gejolak yang begitu dahsyat dalam hatinya. "Emm, apakah dia ingin mengungkapkan perasaannya padaku" gumam maudy dalam hati. Maudy balik menatap aditya dengan sangat gugup, hormon bahagia dalam tubuhnya seperti sedang menari-nari kegirangan.
"Dulu saat aku belum menjadi apa-apa, aku bertemu dengan seorang wanita di halte bus, kami berbicara, bertukar fikiran, bahkan dia lah alasan ku saat ini untuk terus maju, melangkah, menakhlukan kerasnya kehidupan, kata-katanya saat itu selalu ku ingat dan menjadi motivasi terbesar di hidupku. Tapi saat bus datang, dia pergi dengan cepat menaiki bus itu, bahkan aku belum mengetahui namanya. Keesokan harinya aku duduk di halte pada jam yang sama tapi wanita itu tak kunjung datang, sampai berminggu-minggu, aku selalu rutin mendatangi halte tersebut, menunggu kehadirannya. Ada satu hal yang ditinggalkannya saat itu, sebelum menaiki bus, dan barang itu masih ku simpan hingga hari ini, dan ada satu hal yang dibawanya pergi saat itu, hatiku. Aku sangat mencintainya, hingga saat ini, perasaan itu tak berubah sedikitpun, bahkan semakin hari aku semakin mencintainya. Setelah sekian lama, akhirnya aku bertemu kembali dengannya, tapi sepertinya dia tak mengenaliku." aditya menatap maudy lebih dalam.
Maudy sedikit kecewa mendengar ucapan aditya, dia belum menyadari, bahwa wanita yang diceritakan aditya adalah dirinya. Maudy menarik dalam nafasnya, dan berusaha menjadi pendengar yang baik untuk aditya. "Hmm, apakah kamu sudah mengungkapkan perasannmu padanya?" tanya maudy, dengan nada kecewa.
"Tidak, aku masih memberikannya waktu untuk menyadarinya sendiri" ujar aditya.
"Bagaimana mungkin dia bisa tau, apa saat ini wanita itu ada di sekitarmu? tanya maudy.
"Sangat dekat." Lalu aditya tersenyum.
Aditya meninggalkan teka-teki besar dalam benak maudy. Walaupun begitu, setidaknya maudy tau bahwa CEO srigala itu ternyata juga punya hati. Tak hanya itu, maudy juga merasa iba kepada aditya, karena dia paham betul, bagaimana posisi aditya sekarang, berharap orang yang dicintai membalas cintanya. Karena itulah yang juga dirasakan oleh maudy, walau setidaknya maudy selangkah lebih maju dari aditya, dia sudah pernah mengungkapkan perasaannya ke orang yang dicintainya.
"Pokoknya aku harus cari tau siapa wanita itu! bukannya takdir itu bisa diubah dengan usaha, aku juga akan berusaha memperbaiki diri agar aditya bisa melupakan wanita itu dan beralih mencintaiku, tapi, mungkin gak ya?" gumam maudy dalam hati.
***
"Maauudyyyyy" teriak diana. Sambil melambaikan tangandan berlari mendekat pada maudy.
"Eh dy, seru banget tau, kita diajarin banyak hal tentang kopi, jenis-jenisnya, kriteria buah layak panen, bahkan tadi kita juga ikut manen kopinya loh, dan masih banyak lagi. Seru banget pokoknya ..." Diana menurunkan nada bicaranya, ketika dia melihat wajah maudy dan aditya yang sangat serius. "Hmm, aku kedalam dulu ya dy, permisi pak" ucapnya
__ADS_1
"Eee-ee, aku aku ikutan na." Sambil berjalan dengan tergesa-gesa menyusul diana.
Setelah istirahat sejenak dan mempelajari sedikit ilmu tentang penggunaan alat pabrik mereka kembali ke kantor. Kali ini mereka kembali kekantor menggunakan mobil.
***
Sesampainya di kantor, shafira langsung bergegas menemui bunga. "Kak, kak sini deh, aku mau cerita." Sambil menarik lengan bunga.
"Hemm, ada cerita apa?" tanya bunga.
"Tadi si gendut itu pingsan lagi kak ditengah jalan, gak lama kemudian pak aditya datang nyusulin kita. Tapi dari sikapnya, kelihatan banget kalau dia panik dan khawatir sama maudy" ujar shafira.
Mendengar cerita dari shafira, bunga semakin kesal, hatinya sangat dongkol, dia tak terima dengan apa yang terjadi. Melihat respon bunga, shafira merasa senang "Heh, liat aja lo maudy, jangan berharap bisa hidup tenang" gumamnya dalam hati.
***
"Hemmm, kenapa ken?" tanya diana
"Gak apa-apa" jawabnya.
"Udah, cerita aja, aku tau kok kamu lagi kesal" ujar diana.
"Tau aja sih lo, paranormal ya? Ya, aku lagi kesel aja sama sahabat lu maudy, dari pagi ngeselin, pake acara pingsan segala, hampir saja meeting tadi berantakan, karena aditya tiba-tiba pergi mendengar kabar kalau maudy pingsan" ujar ken.
__ADS_1
"Hem, udah gue duga, gak mungkin kebetulan aditya datang, pasti memang dia khawatir. Hmm, soal maudy. Maafin ya ken, dia itu emang sedikit teledor, dan juga dia punya sakit magh dan darah rendah. Kalau telat makan, atau kelelahan, bisa-bisa sakitnya kambuh, ya gitu sampe pingsan-pingsan" ujar diana.
"Oh gitu, kamu baik banget sih, udah kayak emaknya maudy, selalu siap sedia, hahahahaha. Yaudah maafin aku juga deh, gak seharusnya kesel berkelanjutan, yang penting urusan kantor udah beres." Suasana pun mencair dan mereka kembali ngobrol seperti biasanya.
Setelah semua urusan beres, mereka melanjutkan perjalanan kembali ke kota. Disepanjang jalan mereka tertidur pulas, karena memang kegiatan hari ini cukup melelahkan.
Sesampainya di mess supir membangunkan mereka. Lalu maudy, diana dan shafira turun dari mobil dan mengambil barang-barang bawaan mereka, dan langsung melanjutkan tidur di dalam mess.
"Hemm, siapa sebenarnya wanita itu? apakah dia cantik? apakah dia bekerja diperusahaan? Hmmm, mulai besok, aku harus mencari tau siapa wanita itu. Dan yang tak kalah penting, mulai besok, aku harus mulai diet lagi, aku yakin bisa buat aditya menyukai ku. Hmmm... tapi apa mungkin ya 😔" gumam maudy dalam hati.
"Bisa, bisa, aku pasti bisa" teriak maudy dengan keras.
Shafira terkejut mendengar teriakan maudy, lalu dia terbangun dari tidurnya, dan melemparkan boneka di genggamannya ke arah maudy. "Diiam! berisik banget sih lo."
"Maaf shafira" bisik maudy. Sambil menutup mulutnya.
"Oke, mulai besok, aku harus berubah, harus bisa, kali ini gak boleh gagal, walau ada martabak, sate, bakso, donat, pizaa, atau makanan enak apapun, gak boleh dimakan. Semangat!" gumamnya dalam hati.
*Tingg tong* handphone maudy berdering. "Hemm, siapa ya yang ngirim pesan malam-malam gini" pikirnya. Dia segera mengambil handphonenya yang ada didalam tas dan membuka pesan whatsapp yang masuk. Betapa terkejutnya maudy melihat pesan itu ternyata dari aditya.
"Selamat beristirahat." isi pesan itu. Sangat singkat, padat, jelas. Seketika maudy memukul pipinya, untuk meyakinkan diri bahwa ini bukanlah mimpi.
*plaakkk* "Aawwww, sakit." Sambil memegang pipinya. Dia refleks tersenyum, dan bahagia, ingin rasanya dia berteriak. "Aaaaaaa, berarti ini bukan mimpi" ucapnya.
__ADS_1
Sangking kegirangannya, maudy membaca pesan itu berkali-kali, sambil senyum-senyum sendiri, hingga akhirnya dia tertidur dengan pulas sambil mengenggam erat ponselnya.