
"Maudy--"
*Tok-tok-tok* Ucapan Aditya terputus, karena ada seseorang yang mengetok kaca mobil. Aditya pun menurunkan kaca mobilnya.
"Dit, dit, sorry gak sopan. Itu ada orang datang marah-marah, nyariin kamu" ucap Ken.
Aditya menghela nafas, merapikan kemejanya dan turun dari mobil. "Huh, nyaris banget. Maaf Maudy" gumamnya dalam hati. Maudy pun mengikuti Aditya dan Ken berjalan ke dalam kantor, dengan perasaan bingung serta bertanya-tanya. "Sebenarnya apa yang mau diucapkan Aditya? dengan tatapan yang amat dalam" gumamnya dalam hati.
Sesampainya di depan pintu kantor, Aditya membalikkan badan dan berkata. "Sini tas saya, kamu silahkan tunggu diruangan magang."
"Hmm, baik pak." Maudy berjalan mendahului Aditya dan Ken, menuju ruang magang.
"Maudy, tolong, jangan sebut pria lain dihadapanku, hatiku sakit" gumam Aditya dalam hati. Sambil melihat Maudy.
Lalu Aditya melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan. Betapa terkejutnya dia, melihat sosok yang sedang menunggunya. Sontak tubuhnya menjadi kaku, tak sanggup rasanya bertemu orang itu lagi. Setelah sekian duka dan luka, kini dia hadir kembali di hadapannya.
"Kenapa kamu diam disana? Sini masuk" ucap Pria itu.
"Pak tolong yang sopan, ini ruangan Pak Aditya" ucap Ken. Kesal melihat sikap pria tua itu.
__ADS_1
Aditya memegang pundak Ken. "Sudah, Ken."
"Kenapa? kamu tidak suka melihat kehadiranku disini? apa kamu sudah lupa dengan jasa-jasa keluarga kami? Merasa sudah hebat kamu?" ucap pria tua itu.
Ken semakin meradang melihat tingkah pria tua itu. Sedangkan Aditya, masih diam membisu serta terbujur kaku. Perlahan Aditya melangkah dan duduk di bangku nya.
"Apa kabar. Paman!" ucap Aditya, dingin.
"Oh, syukurlah, kau masih mengingatku." Dengan nada angkuh.
Aditya tersenyum sinis. "Setelah sekian lama, kenapa sekarang kau kembali hadir dihadapanku!" tegas Aditya.
"Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting, amanat dari mendiang orang tuamu. Tapi sepertinya momennya tidak pas. Baiklah, saya akan kembali lain kali." Berdiri dari duduknya, merapikan jas dan meninggalkan ruangan Aditya.
"Aarrrrrggggghhhh!!!!!" teriak Aditya. Sambil menghempaskan semua barang yang ada di atas mejanya.
Ken terkejut, dan segera menenangkan Aditya. "Dit, dit, sabar dit. Udah dit, jangan rugiin diri kamu sendiri, tenangin diri kamu" ucap Ken.
Aditya menangis tersedak-sedak, mengingat masa lalunya yang begitu menyakitkan. Beberapa lama kemudian, Aditya sudah merasa sedikit tenang dan mampu mengontrol emosinya.
__ADS_1
"Ini minum dulu." Memberikan segelas air pada Aditya. "Udah tenang?". Aditya mengangguk. "Dit, ada apa sebenarnya? Aku benar-benar bingung, dengan kondisi ini" ucap Ken.
"Ceritanya panjang, Ken. Dia adalah pamanku, dia orang yang sangat jahat. Setelah orang tua ku meninggal karena kecelakaan, seluruh harta orang tua ku dialihkan ke tangannya, yang paling menyakitkan, dia menelantarkan aku dan adikku, hingga akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan rumah ku sendiri karena perlakuan buruknya. Setelah kami pergi, sekalipun dia tak pernah mencari atau mengkhawatirkan kami. Aaahhh! aku tak mau mengingatnya lagi." ucap Aditya.
"Maaf, Dit. Aku tak bermaksud."
Menepuk pundak Ken. "Gak apa-apa, Ken. Tolong, jangan sampai orang itu masuk kesini lagi."
"Baik, Dit" ucap Ken.
"Sebaiknya hari ini kamu gak usah ngantor dulu, Dit. Tenangkan pikiranmu" ucap Ken.
Aditya mengangguk. Lalu dia mengambil handphonenya dan menghubungi seseorang. "Keruanganku sekarang" ucap Ken.
*Tok-tok* "Permisi, Pak" ucap Maudy. Maudy pun membuka pintu dan terkejut melihat ruangan Aditya yang sudah berantakan.
"Ayo, ikut" ucap Aditya.
"Kita mau kemana?" tanya Maudy.
__ADS_1
"Jangan banyak tanya, ikuti saja" ucap Aditya.