Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 29


__ADS_3

Diana merasa curiga dengan gerak-gerik shafira. "Hem, kayaknya ada yang aneh nih" gumamnya dalam hati. Dia berniat mengintip dan memastikan tidak terjadi apa-apa dengan Maudy.


"Hmm, Diana, kamu ngapain masih disini?" tanya Shafira.


"Apa urusan kamu, kepo banget sih" jawab Diana Ketus.


"Duh, gawat nih, kalau diana tetap disana, nanti, yang ada, rencana ku gak berjalan lancar" gumam Shafira dalam hati. Dengan perasaan kesal, Shafira pergi meninggalkan Diana. Dia ke toilet, dan segera menelpon Bunga, untuk memberitahunya, bahwa Diana menguping di depan pintu.


Setelah menerima telpon dari Shafira, bunga reflek melihat ke arah pintu, dia melihat Diana sedang menguping dari luar. "Aargg, dasar bocah" gumamnya dalam hati. Bunga memutuskan untuk mengurungkan niat, mengerjai Maudy. Karena dia tak ingin kelakuannya dilaporkan Diana ke Aditya nantinya.


"Maaf Maudy, saya tidak jadi berkepentingan dengan kamu, kamu boleh keluar dari ruangan saya". ucap Bunga.


Maudy menuruti perintah bunga, tanpa merasa curiga sedikitpun. Dia berjalan perlahan meninggalkan ruangan. Maudy terkejut, karena saat membuka pintu, dia melihat Diana sudah ada di depan ruangan itu.


"Astagfirullah, kamu ngejutin aja sih Na, ngapain sih berdiri-berdiri disini segala?" ujarnya.


"Hemm, anu-- ,eee, lupa gue Dy, yaudah gak penting, lupain aja, yuk pergi" ucap Diana. Sambil menarik lengan Maudy.


***


Maudy dan Diana melewati ruangan Aditya, tak sengaja Maudy melihat Aditya sedang berbicara dengan seseorang di telpon. Wajahnya terlihat lebih ceria, terlihat jelas, dari lengkungan senyuman di wajahnya.


"Em, bahagia banget , ngomong sama siapa sih, jangan-jangan--". Diana heran melihat wajah Maudy yang tadinya ceria berubah menjadi sedikit murung . "Heyy, ngayal terus, ntar gila loh, ngayal jangan ketinggian. Mikirin apa sih lu dy? tanya Diana.


"Gak kenapa-kenapa kok Na" ujarnya.


Mereka pun melanjutkan kegiatannya, membantu karyawan lain yang membutuhkan bantuan, memperhatikan pekerjaan mereka, dan mengambul dokumentasi. Tidak terasa, hari sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, waktunya istirahat.


"Eh Dy, makan diluar lagi yuk, tempat kemarin. Kamu gak diet makan nasi kan?" Sindirnya.


"Ya, makan lah Na. Ntar kalau gak makan nasi, kalau aku pingsan lagi, emang kamu telat ngangkatnya? hahaha."


"Gak Dy, ampun gue" jawab Diana.

__ADS_1


Lalu mereka berjalan ke luar pintu utama, di tempat parkitlr, Maudy melihat seorang wanita keluar dari mobil mewah. Tiba-tiba, Maudy merasa d-javu seperti pernah melihat wanita itu sebelumnya, ntah kenapa suasana hatinya berubah menjadi gelisah, seketika melihat wanita itu. Benar saja, tak lama kemudian Aditya keluar dari kantor, dan menghampiri wanita itu. Maudy baru ingat, kalau wanita itu adalah wanita yang dilihatnya bersama Aditya 2,½ tahun yang lalu.


Maudy terdiam dan terpaku oleh keadaan. "Apakah wanita ini, yang diceritakan Aditya kemarin?" pikirnya. Matanya tak berkedip, melihat kedekatan Aditya dengan wanita itu. "Dia cantik sekali, tubuhnya ideal, kulit putih, kaya dan tampaknya mandiri. Berbanding 180 derajat denganku. Sepertinya dia wanita yang membuat Aditya tersenyum di telpon tadi." Menarik nafas, panjang.


Diana menyadari, kalau Maudy pasti sedang bersedih, melihat Aditya bersama wanita lain, lalu dia pun berusaha menghibur sahabatnya. "Eh, liatin apa? cantikan kamu lah Dy, imutan kamu, lucuan kamu, semua kamu. Udah jangan sedih-sedih, kan lagi diet, ntar kalau sedih, bawaan laper loh" ucap Diana.


Maudy tersenyum mendengar ucapan Diana. " Ah, kamu, bisa aja. Ayo, lets go" jawab Maudy.


***


Maudy dan Diana memesan makanan, setelah sampai di warung makan langganan mereka. Seperti biasanya, warung itu selalu ramai, yaa, gak heran, karena masakannya enak dan harganya merakyat. Tempat duduknya selalu penuh, pada jam makan siang, untung saja mereka datang lebih cepat.


"Eh Na, lihat pria itu" ucap Maudy. Sambil menunjuk ke arah lelaki berbadan bugar di samping Diana.


"Eh buset, udah move on kamu Dy?" ucap diana. Dengan mata terbelalak.


"Bukan gitu, Na. Kasihan, sepertinya cari kursi kosong. Kita ajak join disini aja ya" ucap Maudy.


Diana melihat ke arah pria itu. "Abang sendiri? gabung sama kita aja bang" ucap Diana.


"Abang udah pesen?" tanya Diana.


"Udah, kalian udah?" tanyanya.


"Udah juga bang, nama abang siapa?" tanya Maudy.


"Rey, nama saya Rey" ujarnya.


Mereka pun berbincang-bincang, sembari menunggu pesanannya datang. "Abang kerja dimana?" Tanya Maudy.


"Oh, saya freelance, coach pribadi kebugaran" jawabnya.


"Hemmm, kebetulan banget nih, mungkin aku perlu ada pelatih kali ya, agar bisa diet dengan benar. Kalau dimentorin, pasti lebih serius deh" gumam Maudy dalam hati

__ADS_1


"Kok diem kamu Dy, jangan bilang kamu kepikiran punya coach juga?" tanya Diana.


"Aha, kamu tuh ya, paling tau aku deh. Oh iya, abang Rey, apa bisa bantu aku, program menurunkan berat badan?" tanya Maudy.


"Ahh, sudah ku duga" ucap Diana. Sambil menepuk keningnya.


"Bisa dong, kebetulan satu bulan ini, klien ku sedang keluar kota" jawab Rey.


"Makanan datang, selamat menikmati ya mbak, mas" ucap pelayan warung.


"Terimakasih bu" ucap mereka.


"Masalah biaya gimana Rey?" tanya Maudy.


"Hmm, nanti aja deh ngobrolinnya, makan dulu yuk, nanti keburu dingin makanannya" ucap Diana.


"Setuju, ini kartu nama ku, nanti langsung hubungin nomor yang ada disini aja ya." Sambil memberikan kartu namanya kepada Maudy.


"Semoga diet ku, kali ini, berhasil" gumam Maudy dalam hati.


***


Maudy dan Diana kembali ke kantor, saat mereka sampai di pintu pagar, mereka melihat mobil yang dinaiki wanita tadi baru saja pergi. Melihat itu, suasana hati Maudy kembali tak karu-karuan. Dia merasa sedang dipermainkan oleh Aditya, bahkan sampai hari ini Maudy merasa belum memahami Aditya Seutuhnya. "Apa maksud pesan yang dikirimnya semalam, apa dia sengaja mempermainkanku" gumamnya dalam hati.


"Udah, Dy, jangan galau lagi. Kami sendiri kan yang bilang, kalau jodoh gak akan kemana" ucap Diana.


Maudy menatap diana dengan wajah haru. "Makasih ya, Na. Emang, kamu best friend terbaik" ujar Maudy.


"Udah, semangat-semangat, ayo masuk" ajak Diana.


***


Maudy dan Diana masuk ke kantor, di jalan hendak menuju ke ruangan, mereka berpapasan dengan Aditya dan Ken, dari arah berlawanan. Tak seperti biasanya, saat berpapasan dengan Aditya, Maudy selalu memberikan senyum terindahnya sembari menyapa dengan suara manja. Tapi, kali ini dia hanya diam seribu bahasa, jangankan tersenyum, menoleh pun tidak. Aditya yang menyadari perubahan itu, sontak berhenti, membalikkan badan, melihat ke arah Maudy dan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Kenapa tuh anak, kesambet kali ya. Gak biasanya gitu" ucap Ken.


"Hem, kenapa Maudy cuek. Apa dia lagi ada masalah ya? Hmm, atau dia cemburu karena melihat kehadiran selly tadi?" gumam Aditya dalam hati.


__ADS_2