Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 35


__ADS_3

"A-aa‐aawww!" teriak Maudy. Dia tersadar dari lamunannya, dan reflek menarik tangannya dari genggaman Rey. "Aww ... Sakit, Rey" ujar Maudy.


"Hehehe, emang sakit, Dy, tapi setelah ini bakal enakan, lain kali hati-hati ya, kalau mau berhenti pencet tombol nya dulu" ucap Rey. Dengan nada lembut, sambil mengelus kepala Maudy.


Maudy termenung, dia merasa sedikit aneh, rasanya, baru kali ini ada lelaki yang memperlakukannya begitu lembut. Matanya tak berpaling, menatap wajah Rey, sambil melengkungkan senyuman di wajah polosnya. "Emm, kalau dilihat dari dekat, Rey manis juga ya" ujarnya dalam hati.


Rey melambaikan tangannya di hadapan Maudy. "Hey, maudy? Hello?" ucap Rey. Maudy menundukkan kepalanya. " Kenapa? terpesona ya, dengan ketampanan ku?" ucap Rey, dengan percaya diri.


"Hemm, ada-ada aja kamu Rey. Aduuhh, ini sakit banget tangan aku." Berusaha mengalihkan pembicaraan. Lalu Rey bergegas mengambil kotak p3k, dia mengoleskan minyak herbal ke tangan Maudy. " Sabar ya dy, semoga sakitnya sedikit berkurang dioles ini" ujarnya. Maudy kembali terhanyut dalam situasi ini.


*Kriing- kringg- kringgg* Handphone Maudy berdering. Dia berusaha menggapainya, namun terpeleset. "Ga bisa ngomong minta tolong, gitu ya? Udah tau tangannya sakit" Ujar Rey. Lalu, dengan inisiatifnya sendiri Rey mengambilkan handphone Maudy.


"Siapa yang nelpon Rey? tanya Maudy.


"Bos Srigala?" jawab Rey. Dengan menunjukkan ekepressi penuh tanya.


"Hem, tolong di angkat dong Rey, sama tolong di loudspeaker" ucap Maudy.


Rey melakukan yang di ucapkan oleh Maudy. "Hallo, assalamualaikum pak" ucap Maudy.


"Waalaikumussalam, siang ini saya tunggu kamu di kantor" tegas Aditya.


"Ada apa ya pak?" tanya Maudy.


"Jangan banyak tanya dan jangan sampai terlambat." Lalu Aditya mrmutus panggilan telpon.


"Tapi pak--." *tutt tutt tutt* "Huh, dimatiin pula, orang belum selesai ngomong, ini kan weekend, masa sih masih harus ke kantor" ujar Maudy


Rey menyentuh pundak Maudy dengan pelan. "Saabaar, nanti aku anterin ya, sekarang kita pulang dulu."


***

__ADS_1


"Lah, udah pulang. Kok cepet banget?" tanya Diana.


"Huhh, pokoknya nyebelin banget. Tadi aku ditelpon Aditya, dia minta aku datang ke kantor siang ini," ujar Maudy, kesal.


"Sabar, Dy. Jangan ditekuk gitu mukanya, yaudah buruan deh, udah jam segini" ujar Diana.


"Iya, Na. Tapi kan ini weekend, kamu bayangin deh, weekend, Diana!" ucap Maudy.


"Hem, mungkin ada hubungannya sama berkas yang kita salin semalam, Dy."


"Oh, iyaa, Na. Ampir aja aku lupa, duh kenapa ya, apa ada yang salah ya? Aduh, deg-degan deh" ucap Maudy.


"Yaa, who knows. Coba kamu pastiin aja, Dy. Semoga aman-aman aja ya," ujar Diana.


"Naa ... Diana, kamu ga mau nemenin aku, Na?" ucap Maudy. Dengan nada merayu.


"No, no, no. Gak ikut gue Dy, lihat nih, mata ku udah item kayak panda. Aku mau lanjut bobok ya, nanti, kalau kenapa-kenapa, kamu hubungin aku ya, Dy." Menarik selimutnya, menutupi semua badan.


***


"Eemmm, gak usah Rey, aku gak enak merepotkan kamu terus. Lagian, aku ga tau, di dalam bakalan lama atau sebentar."


"Baiklah, kalau gitu, hati-hati ya. Kabarin kalau ada apa-apa" ujar Rey.


Maudy pun masuk ke dalam kantor, dengan perasaan gelisah, khawatir dia melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. "Duh, kira-kira, ada apa ya, Aditya suruh aku datang ke kantor, bisa gawat nih kalau aku buat kesalahan lagi, bisa ngulang magang semester depan" gumam Maudy dalam hati.


*Tok-tok-tok* "Permisi pak" ucap Maudy.


"Silahkan masuk."


"Ada apa ya pak, saya dipanggil kesini?" tanya nya.

__ADS_1


Aditya menunjukkan dokumen print out yang diketik oleh Maudy dan Diana. "Lihat ini, coba jelaskan apa maksudnya" tanya Aditya.


Maudy tak mengerti maksud Aditya, lalu dia mengambil dokumen tersebut, dia melihat kata perkata untuk menemukan kesalahannya. "Duhh, apa sih yang salah, udah di bulak balik tetep aja gak ketemu" ucapnya dalam hati.


"Masih gak tau juga kesalahan kamu dimana?" tanya Aditya.


"Emm, belum pak" jawab Maudy.


Aditya mengambil dokumen itu dari tangan Maudy dan menunjuk pada sudut bawah, format tanda tangan. "Coba kamu jelaskan, CEO Srigala itu siapa?" tanya Aditya, serius.


Maudy terkejut, matanya terbelalak, jantungnya berdetak lebih cepat, dengan tangan gemetar melihat dokumen tersebut. "Duhh, mampus, kok bisa lupa ngeditnya ya. Udah, tamat bener deh riwayat ku, pasrah ajalah" gumamnya dalam hati.


"Bisa kamu jelaskan, siapa CEO Srigala itu? Apa di kantor ini ada Srigala?" tanya Aditya.


"Ya, ada, ini di depan aku orangnya, udah galak, cuek, gak bisa ditebak, moody, ngomong irit banget, dan paling parah,mematahkan hatiku berkali-kali," gumamnya dalam hati


Aditya memukul meja. "Ehemmm, kenapa kamu diam aja?" ujarnya.


Maudy tersadar dari khayalannya. "Hmm, anu pak, eee, itu ...."


"Eee, itu, anu, apaan! Coba kamu jelaskan, kamu tau kan ini berkas penting, untung saja saya mengeceknya terlebih dahulu" tegas Aditya.


Maudy hanya menunduk, diam seribu bahasa, dia tak mampu berkata apa-apa lagi, mati kutu. Tiba-tiba, handphone Aditya berdering, Aditya pun mengangkatnya. Maudy sedikit bernafas lega. "Huuhh." Tapi dia kembali panik, ketika Aditya mematikan telponnya.


"Telpon dari klien, dia minta ketemu sekarang di cafe, kamu ikut saya. Maudy, kalau kamu bisa mengambil hati klien satu ini, saya akan melupakan semua yang terjadi. Tapi kalau kamu gagal, kamu akan tau nanti" ujar Aditya.


Maudy menelan ludah, mendengar ucapan Aditya. "Duhh, apalagi ini ya Allah, huhu, Maak tolong anakmu" rengek maudy dalam hati.


Mereka pergi menuju tempat yang sudah disepakati dengan klien. Sepanjang jalan Maudy berdoa tak henti-hentinya, berharap ini hanyalah mimpi. Maudy menatap wajah Aditya dari kaca. "Huhh, seharusnya, ini menjadi saat yang sangat bahagia, bisa berduaan dengan Aditya. Tapi, semuanya terjadi di waktu yang tidak tepat. Sekarang aku hanya bisa berdoa, agar tak mengacaukan semuanya nanti" gumamnya dalam hati.


Melihat wajah Maudy yang ketakutan membuat Aditya tak tahan menahan tawa, sesekali dia memalingkan wajah untuk melepas senyuman. Sebebarnya Aditya tidak tega, membuat Maudy berada di kondisi ini, membuat dia merasa takut dan nervouse, tapi ini adalah satu cara agar Maudy tak bersama Rey lebih lama lagi.

__ADS_1


Mereka pun sampai di depan cafe, lokasi meeting yang sudah disepakati sebelumnya. Tanpa sadar, Maudy membuka pintu dengan tangannya yang terkelis. "Aaaaaaawwwwww..." teriak Maudy. Aditya reflek melihat ke arah Maudy, dan menyadari bahwa tangan kirinya sedikit bengkak dan balu. "Kamu kenapa?" ujar Aditya, panik. "Gak kenapa-napa pak." Maudy hendak membuka pintu dengan tangan kanannya.


"Berhenti, biar saya yang membukakan pintu untukmu" ujar Aditya.


__ADS_2