
Keesokan harinya Maudy merasa kondisi tubuhnya sudah lebih baik, sehingga dia memutuskan untuk datang kekantor hari ini. Tapi dia merasa sedikit canggung, karena mengingat sikap Aditya yang begitu care padanya tempo hari. semakin diingat semakin Maudy merasa salah tingkah, bibirnya tak habis-habisnya membentuk lengkungan yang indah, memberikan kesan menggemaskan pada wajah chubbynya.
"Ehh, Dy, senyam senyum, ntar kesambet baru tau rasa. kenapa sih? ceritaa dong" ujar Diana.
"Eee,, gak kenapa-kenapa, Na. Happy aja nih udah bisa berangkat magang lagi di kantor."
"Hemm, mencurigakan. Heloooww, Maudy, lu kira aku baru kenal kami sehari dua hari ya. Itu senyuman terlihat jelas, terpampang nyata sumringah merekah" ucap Diana mengintrogasi lebih dalam.
Maudy hanya tertawa mendengar ucapan Maudy dan mempercepat langkahnya.
"Beneran deh, ni anak ya. ada gila-gilanya" ucap Diana dengan ekspresi wajah kesal.
Tepat di depan gerbang kantor, Maudy melihat mobil Aditya dengan kaca jendela yang diturunkan, di baliknya terlihat seorang pemuda tampan yang sangat elegan, semakin membuat jantung Maudy berdegup kencang dan salah tingkah.
__ADS_1
Maudy segera menghentikan langkahnya dan menyiapkan senyum terbaiknya dan melirik ke arah Aditya. Tapi mobil itu hanya berlalu saja, bahkan tak ada sepintas klaksonan, lirikan apalagi senyuman untuknya. Maudy memejamkan mata dan menutup wajahnya karena merasa malu sambil berjalan cepat dan berbisik pelan "Apa yang kamu lakukan Maudy? kamu berharap apa sih? haduhh, ini memalukan. Huhh. sungguh menyebalkan ceo srigala itu, oh tidak-tidak, mungkin dia lebih cocok disebut bunglon karena dengan cepatnya kepribadiannya berubah-ubah."
Diana berteriak "Mauudddyyyy, awaaaaaass....!"
*Braaaakkk* Maudy menabrak mobil yang ter parkir didepannya.
"Aawwwww" teriak Maudy.
Ken dan Aditya menghampiri "Duhhhh, kamu lagi-kamu lagi." Sambil menggelengkan kepala.
"Maudy- maudy, ada-ada aja, untung kamu gak kenapa-kenapa" yukk aku bantu masuk kedalam.
Maudy hanya mengangguk dan berjalan pelan masuk ke dalam kantor. Mentarinya seakan runtuh, senyuman yang merekah pagi ini seakan memudar, hilang, dihembus badai.
__ADS_1
Dalam hatinya bergumam "Kamu kenapa sih Dit, ku kira aku spesial dimata mu. Apa perasaanku sebercanda itu? dengan mudahnya kamu bermain denganku. Kemarin datang bak pangeran yang begitu perhatian. Sekarang, menoleh saja tidak ke arahku. Apa sebercanda ini? apa aku memang tak pantas?"
Sesampainya diruangan Maudy mengerjakan tugas sebagaimana semestinya, walau hati dan pikirannya masih dipenuhi dengan kekecewaan.
"Ehh, Dy, ekspressi wajah macam apa itu, suram banget, tadi pagi aja sumringah banget. ada apa? cerita-cerit." tanya Diana.
Maudy hanya membalas pertanyaan Diana dengan senyuman kecil, yang mengekspresikan kata "gapapa kok".
Ya terserah deh kalau gak mau cerita, semoga kamu baik-baik sajaa yaaa. Maudy mengangguk kecil.
Waktu menunjukkan pukul 12 siang tandanya semua karyawan sudah bokeh beristirahat, untuk melaksanakan sholat, makan siang atau sekedar merileks kan kembali tubuh dan fikiran mereka.
Diana mengajak Maudy pergi kekantin, Maudy pun menyetujui ajakan sahabatnya itu. Di loby kantor mereka kembali berpapasan dengan Aditya dan Ken, mereka terlihat sangat terburu-buru sehingga tak lagi menghiraukan Maudy dan Diana yang berpapasan tepat di sampingnya.
__ADS_1
Sejak saat itu Maudy tak pernah lagi melihat Aditya maupun Ken berkeliaran di kantor tersebut. Hati dan pikiran yang semakin tak menentu, tapi kali ini Maudy telah belajar menakhlukan dirinya sendiri dan memilih untuk selalu berdamai dengan keadaan.
--‐-‐‐-‐---------------------------------------------