Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 24


__ADS_3

Diana segera menutup pintu dan memastikan pintu terkunci dengan baik.


"Huhh, alhamdulillah, rezeki anak sholeh" ucap Diana.


"Eh, jatah gue ada kan?" tanya Shafira. Sambil memegang perutnya yang sudah kelaparan.


"Ada nih, aman" ujar Maudy.


Mereka dengan antusias membuka bungkusan makanan yang dibelikan oleh Ken dan menyantap makanan itu bersama. Ini adalah pertama kalinya Shafira makan bersama dengan Diana dan Maudy, setelah sampai di mess. Dengan lahap, mereka memakan makanan itu.


"Hem, baru kali ini, makan terasa nikmat banget. Apa karena aku makan bersama mereka ya. Ehhh, sadar-sadar Shafira, mikir apaan sih, mereka itu musuh lu" gumam Shafira dalam hati. Dia pun bengong melihat Maudy dan Diana, makan dengan lahap, dan gak ada jaim-jaimnya.


Diana sadar, bahwa Shafira memperhatikan mereka. "Eh, nenek sihir, kenapa bengong, makan!."


"Siapa yang bengong, ngigau lu ya" ujar Shafira.


"Udah, temen-temen. Ayo makan" tegas Maudy.


***


Hari semakin larut, hingga detakan jarum jam dapat didengar dengan jelas. Setiap pergerakannya, menggiring pikiran Maudy, mengingatkan setiap kejadian yang telah terjadi hari ini.


Maudy berbaring diatas tempat tidurnya, sambil memegang kantong kecil berisi biji kopi, pemberian dari Aditya. Bibirnya melengkungkan senyuman, setiap mengingat kebersamaannya dengan Aditya di kantor. "Hemm, bahkan dia masih mengingat, bagaimana cara ku menghirup aroma kopi yang khas. Tapi kenapa, dia seolah tak menganggapku pernah ada di masa lalunya. Kamu benar-benar membingungkan, terkadang, aku berpikir, bahwa kamu adalah dua orang, karena kepribadibadian mu yang kerap berubah. Atau mungkin, hanya aku saja, yang menganggap semuanya berlebihan?. Tapi ... beberapa sikapnya, seolah menunjukkan bahwa aku istimewa. Ahh, entahlah, kamu begitu rumit untuk dipahami" gumam Maudy dalam hati. Lalu dia mencoba memejamkan mata, untuk menghilangkan pikirannya.


"Ahh ... tidak-tidak. Kenapa pikiran ku terus saja tertuju padanya. Memikirkan suatu hal yang tak pasti, bahkan bisa jadi ini mimpi belaka. Hmm ... Tapi beberapa mimpi memang tidak dimaksudkan untuk menjadi kenyataan. Aku belajar tentang itu dari kamu, Aditya" gumamnya. Lalu dia pun tertidur lelap, sambil menyimpan sebuah tanda tanya besar di hatinya.


***


"Dy, dy ... bangun dy" teriak Diana. Sambil menggoyangkan badan Maudy.


"Yaelah, kebo banget ya sahabat lu ini" ujar Shafira.

__ADS_1


Setelah beberapa lama, akhirnya Maudy terbangun, dia meregangkan badannya perlahan, mengucek kedua matanya dan melihat Diana di depannya, sudah sangat rapi " haah, jam berapa ni, na?" tanya Maudy.


"Jam 6.45, Mauddyyyy!" teriak Diana, panik. Menunjuk ke arah jam yang ada di dinding.


"Kenapa gak bangunin dari tadi" tanya Maudy.


"Dari tadi, udah kita teriak-teriakin, dicoel-coel, gak bangun-bangun juga. Gue kira lu pingsan. Udah jangan banyak tanya, mandi sana, keburu ken datang" ujar Diana.


Maudy bergegas mandi dan bersiap-siap. "Semoga gak telat" gumamnya dalam hati.


Dari halaman depan, terdengar suara mobil. "Ini pasti Ken" ujar Shafira. "Eh, Maudy, cepetan dong!." Shafira berteriak dengan kesal, sambil berjalan ke luar, untuk menghampiri Ken.


Ken menurunkan kaca mobilnya."Udah siap semua?" teriak ken dari dalam mobil.


"Belum, si Maudy tu, bangunnya telat, nyebelin banget" ujar Shafira.


"Yaudah, Diana, Shafira, kita duluan aja. Nanti Maudy sama Aditya atau gimanalah nanti, terserah. Ini udah telat, semalam juga udah diingatin kan, ada yang harus saya siapkan disana, gak bisa menunggu lagi." ujar Ken.


"Yang bener Ken, kita tinggalin Maudy?" tanya Diana.


***


Saat keluar dari kamar mandi, Maudy tak melihat Diana dan Shafira di dalam mess. "Jangan-jangan, aku ditinggalin lagi." Sambil mewek.


Handphone Maudy berdering, ada pesan masuk dari Ken. "HUBUNGI ADITYA!."


Membaca teks dari Ken, Maudy semakin merasa sedih, bersalah serta takut. Dia sadar, bahwa dia telah melakukan keteledoran. "Ih, ken kok bisa serem juga ya, kayak anaknya srigala. Duhh, anaknya aja udh serem gini, gimana kalau hubungin bapaknya ya. Hmmm, maudy, maudy, tamat hidup lo" ujarnya.


Setelah berpakaian rapi, dan menyiapkan semua yang akan dibawa. Dia mengumpulkan keberanian, untuk menghubungi Aditya.


***

__ADS_1


Disisi lain Aditya sedang bersama bunga di kantor, untuk membahas pekerjaan. Handphone aditya berdering, terlihat di layarnya, bahwa itu adalah panggilan telpon dari Maudy.


Aditya pun mengangkat telponnya. "Ada apa?" tanya nya.


[Maudy menjelaskan kronologi kejadiannya]


"Dasar ceroboh, kamu baru anak magang aja, udah gak konsekunsi sama waktu ya!" ujar Aditya.


"Saya benar-benar minta maaf pak, saya janji untuk tidak mengulanginya" ucap Maudy pelan.


"10 menit lagi tunggu di depan mess karyawan" ucap Aditya. Lalu dia mematikam telponnya.


"Kenapa dit?" tanya Bunga.


"Gpp" jawab Aditya


"Dit, aku ikut ke kebun ya?" tanya Bunga.


"Terserah" jawabnya.


Bunga pun mengikuti Aditya, berjalan ke mobil. Di perjalanan menuju ke mess karyawan, bunga memprovokasi Aditya, menjelek-jelekkan Maudy. Aditya semakin merasa emosi, dan juga risih dengan sikap Bunga.


"Bisa diam gak?" ucap Aditya.


Bunga kesal, dia tidak terima atas perlakuan aditya kepadanya. Tetapi dia hanya bisa menuruti perkataan Aditya. "Gila ni orang, kejam banget sih, sama wanita secantik aku aja, bisa-bisanya bersikap kayak gini, tapi biarin deh. Mampus lu Maudy, tunggu aja nanti, apa yang bakal gue lakuin" gumamnya dalam hati. Sambil tersenyum jahat.


***


"Wahh, itu kayaknya mobil dari kantor" gumam maudy dalam hati. Sambil melihat sebuah mobil melaju ke arahnya. Mobil itupun berhenti tepat didepannya. Pak supir menurunkan kaca. "Mbak Maudy? ayo naik" ucapnya. Tanpa berfikir panjang, Maudy langsung membuka pintu mobil tersebut dan masuk kedalam. Betapa terkejutnya, dia melihat ada Aditya dan Bunga, berada di kursi belakang mobil itu. Suasana menjadi sangat canggung, ekspresi dingin Aditya yang terlihat sangat jelas di wajahnya.


"Mampus aku, kayaknya bakal jadi mangsa srigala jantan dan betina deh" gumam Maudy dalam hati. Wajah Maudy berubah jadi sangat tegang dan pucat.

__ADS_1


"Eh, pake bengong lagi, buruan naik!" teriak Bunga.


"Iya kak, maaf" jawabnya.


__ADS_2