Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 43


__ADS_3

"Dy, sebenarnya ada apa sih? itu si Rey ngapain tadi?" ujar Diana. Dengan mimik wajah kebingungan dan tatapan mata mengintrogasi.


"Hmm, Na, nanti ya ceritanya, aku mandi dulu gerah banget." Menepuk pundak Diana.


Diana mengangguk, dan bergumam dalam hati. "Kenapa ni anak murung banget, lagi banyak masalah kali ya."


Maudy langsung mandi, setelah mandi dia bergegas berbaring di tempat tidurnya, tak memberi celah pada Diana untuk bertanya tentang keadaannya.


Maudy merasa sangat bimbang, di satu sisi ada seseorang lelaki baik hati yang terus terang mengungkapkan cintainya, di sisi lain dia sangat mencintai seseorang yang tak dia ketahui perasaannya hingga kini. "Oh, tuhan, apa yang harus ku lakukan? apa aku harus menyambut cinta di depan mata. Atau tetap menunggu tanpa kepastian?" Lalu dia terlelap, dengan tanda tanya besar di kepala.


***


Ke esokan harinya, Maudy terbangun dari tidurnya. Badannya sangat panas, wajahnya terlihat pucat dan sangat melas. Diana yang melihatnya pun menjadi sangat khawatir dengan keadaan Maudy.


"Dy, kamu demam, pucat banget lagi. Kamu gak usah ngantor ya, ntar aku izinin. Aku absen kekantor dulu, ntar aku izin pulang anterin kamu berobat ya."


Maudy menarik tangan Diana. "Na, aku ngantor aja ya Na, aku kuat kok."


"No, tidak bisa! Lihat kondisi kamu Maudy, udah kayak gini masih mau maksain diri, ntar kamu pingsan dijalan gimana. Pokoknya gak ya, Dy, kamu istirahat aja dirumah. Ntar, aku delivery-in makanan ya pakai kurir."


Diana bergegas bersiap-siap ke kantor, dan tak lupa dia membuatkan Maudy teh hangat sebelum dia pergi ke kantor.


"Dy, ini teh anget, diminum ya, aku berangkat dulu."


Maudy mengangguk dan kembali memejamkan matanya, melawan rasa sakit dikepalanya. Tak lama kemudian terdengar suara ketukam dari pintu. "Hmm, ini pasti kurir nganterin makanan, tumben cepat sekali" gumam Maudy dalam hati. Maudy pun bangun perlahan dari tidurnya dan membuka pintu. Betapa terkejut Maudy melihat orang yang berada di depan mess adalah Rey.


"Eee, kamu, Reey."


"Iya, Dy, ini aku bawain sarapan. Ehh, kenapa muka kamu pucat banget." Rey mendekatkan punggung tangannya ke kening Maudy untuk memeriksa suhu tubuhnya. "Maudy, kamu sakit? ini badan kamu panas banget."


"Emm, nggak Rey, aku gak apa-apa kok." ucap Maudy.


"Maudy, ssstttt, jangan bantah ya, kamu lagi sakit jangan pura-pura gak kenapa-kenapa. Kamu tau, kalau terjadi apa-apa dengan dirimu, aku orang pertama yang akan menderita" ujar Rey, Panik.

__ADS_1


Maudy hanya termenung melihat perhatian Rey yang sangat tulus kepadanya. Dia tak pernah menyangka ada orang yang sangat peduli padanya.


Rey masuk ke dalam mess Maudy dengan tetap membiarkan pintu terbuka. Dia menopang Maudy berjalan menuju ranjangnya. "Kamu duduk aja disini, aku akan ambil piring untuk kamu makan."


Sikap Rey membuat Maudy membatu, dia merasa nyaman mendapatkan perhatian dari Rey. Apalagi dalam keadaan jauh dari keluarga dan sedang sakit, rasanya memang butuh perhatian dari orang lain. Tak hanya mengambilkan piring, sendok dan menyiapkan sarapan, Rey juga langsung menyuapi Maudy.


"Emm, gak usah Rey, aku bisa sendiri" ujar Maudy.


"Sttttt, kamu makan aja ya, makan yang banyak biar cepat sehat."


"Emmm, terimakasih Rey" ujar Maudy.


Rey mengelus rambut Maudy sambil tersenyum. "Kalau bisa rasa sakit itu dipindah, lebih baik aku yang sakit, Dy. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


Sebuah kalimat yang mampu meluluhkan hati Maudy, dia merasa perlakuan Rey sangat tulus.


"Hemm, apa benar dia mencintaiku?" gumam Maudy dalam hatinya.


***


"Maudy, sakit?" Aditya langsung nimbrung dan memotong ucapan Diana.


"Iya pak, mohon izinnya pak beberapa hari, menjelang dia pulih kembali" ujar Diana.


"Hemm, Oke"


"Ihh, reaksi apaan ini, padahal perasaan aku dia masih mencintai Maudy, tapi kok reaksinya biasa saja ya, mendengar keadaan Maudy yang gal sedang baik-baik saja" gumam Diana dalam hati.


Diana pun kembali ke ruangannya untuk mengerjakan beberapa tugas yang sudah deadline. Sesampai diruangannya Diana baru ingat dia belum jadi memsankan makanan untuk Maudy. "Duhh, gawat, pake acara lupa segala mesan makanan untuk Maudy." Sambil menepuk jidatnya.


Diana lalu bergegas ke tempat Ken, untuk meminta izin membelikan makanan untuk Maudy dan menemani Maudy berobat.


"Tidak perlu, Na. Aditya baru saja pergi, aku yakin dia pasti menemui Maudy" ucap Ken.

__ADS_1


"Yakin kamu Ken?" tanya Diana.


"Seribu persen, yakin. Udah sana balik kerja."


"Baiklah." jawab Diana, dengan sedikit ke keraguan.


***


Benar saja tebakan Ken, Aditya sudah sampai di depan mess untuk mengecek kondisi Maudy. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat ada sebuah mobil sudah parkir disana. Perlahan Aditya mendekati mess Maudy, dia melihat pintu yang terbuka, dia berjalan mendekat dengan perlahan dan melihat Rey sedang menyuapi Maudy. Betapa hancurnya hati Aditya melihat kenyataan didepannya.


"Ehemm"


Reflek Rey dan Maudy melihat ke arah pintu yang memang terbuka.


"Emmm, pak Aditya" ujar Maudy.


"Mess ini khusus perempuan kan ya, kenapa bisa ada lelaki didalam sini?" tanya Aditya dengan nada tinggi, melampiaskan kekecewaannya.


Maudy hanya terdiam, tak mampu menjawab ucapan Aditya.


"Ini bukan salah Maudy, aku yang memaksa untuk masuk, untuk merawatnya, dia sedang sakit" ujar Rey.


"Ah, alasan, sakit ya berobat, ke rumah sakit, bukan manja-manjaan disini!" ucap Aditya.


Rey meradang, mendengar ucapan Aditya, dia mencoba menahan emosinya. "Maudy, ayo siap-siap biar ku antar berobat" ucap Rey.


"Gak bisa, aku bossnya, aku yang bertanggung jawab dengan karyawanku" ujar Aditya.


"Bos apaan, kamu tau gak Maudy sakit gini karena ulahmu" ucap Rey.


"Stoopp! jangan ribut. Aku gak mau berobat sama siapa-siapa. Rey, Pak Aditya tolong kalian pulang, aku mau istirahat."


Maudy segera mendorong keluar mereka dari dalam messnya, dan menutup pintu.

__ADS_1


__ADS_2