
Seperti biasanya setiap pagi Selly selalu memasak makanan yang spesial untuk Aditya, mereka menjadi saling bergantungan satu sama lain, semenjak sepeninggalan kedua orang tuanya.
"Abang, makanannya sudah siap" teriak Selly dari meja makan, Aditya pun langsung menghampiri adiknya .
"Waaaaaww, kelihatan sangat lezat sekali. Adik abang, memang selalu bisa diandalkan" Sambil mengelus kepala adiknya.
Aditya dan Selly mulai menyantap makanan yang telah tersedia di meja. Tetapi Aditya terlihat kurang bersemangat, tak seperti biasanya. Selly pun sangat heran, dan menyadari perubahan sikap abangnya itu.
"Abang,,,, bang, Abaaaaanggg!" Selly memanggil abangnya berkali-kali.
"Eehh,, hmm, maaf-maaf, iya-iya ada apa?"
"Makanannya gak enak ya? kenapa makannya lama sekali?" tanya Selly dengan nada lemas.
__ADS_1
"Enakkk, enaakkkk banget ini mahhh, yok yok makan" sambil menyantap makanan dengan lahap, walaupun terpaksa. Aditya tak ingin membuat adiknya kecewa.
Setelah sarapan pagi, Aditya membantu Selly untuk membereskan meja makan dan tak lupa pula mencuci piring kotor.
"Urusan piring kotor, serahin sama abang, adik abang istirahat aja gihh!" ucap Aditya
"Yeeaay, terimakasih abang, emang abang Selly, abang yang paling kece sedunia" lalu Selly masuk ke kamarnya. Aditya pun tersenyum mendengar ucapan adiknya.
Tanpa disengaja piring yang sedang dipegangnya terjatuh dan pecah praaakkk..., Aditya pun terkejut mendengarnya, dan melihat sudah ada pecahan kaca yang sudah bertebaran di lantai.
Selly yang mendengar suara pecahan itu langsung terkejut dan refleks menghampiri abangnya.
"Astagfirullah abang, ada yang luka gak? kok bisa jatuh sih piringnya? ini pasti abang kerja sambil melamun deh" dengan perasaan khawatir.
__ADS_1
Aditya membersihkan pecahan piring di lantai sambil mendengarkan dumelan adiknya, saat Selly ingin membantu, Aditya melarangnya. Karena dia tak ingi tangan Selly terluka nantinya. Dan dia juga tak menanggapi apa yang di ucapkan adiknya tadi, dia hanya tersenyum pada Selly dan berkata dia tidak apa - apa.
Aditya berbaring di tempat tidurnya sambil memikirkan banyak hal, memikirkan bagaimana cara dia bisa membangun perusahaan seperti almarhum ayahnya, memikirkan perkembangan bisnis kedainya, membaca peluang-peluang yang ada, dan memikirkan masa depannya kelak, lalu dia menatap ke arah lukisan yang ada didepannya. Seorang gadis yang juga ada di dalam rencana - rencana di masa depan nya.
Salah satu alasan kenapa Aditya tak ingin bersama dengan Maudy saat ini adalah karena impiannya dan tanggung jawabnya. Tapi dia tak pernah menyingkirkan Maudy dari mimpi-mimpinya. Dia berjanji pada diri sendiri untuk tidak akan menyusahkan orang-orang yang dicintainya.
Tapi saat ini dia merasa hancur, ambisi itu seolah memudar, karena berbenturan antara hati, ego dan impian.
"Tidak - tidak! aku tak boleh begini. Aditya sadar Aditya kau tak boleh berlarut - larut dalam kesedihan apalagi sibuk mengurusi masalah hati saja. Semakin cepat target itu kau capai, semakin cepat pula impian - impian itu menjadi nyata. Ok, Aditya, fokus! fokus! fokus!" ucap Aditya dalam hati.
Lalu matanya kembali menatap lukisan Maudy di dinding kamarnya, dan dia menurunkan lukisan itu
"Maaf, maudy, bukan aku menyingkirkan mu dalam hidupku, aku hanya tak ingin impianku bersamamu tertunda, bahkan sirna, karena kegalauanku. Nanti akan ku bawa kamu kedalam hidupku yang lebih baik, dan tak akan membuatmu terluka lagi, bersabarlah" ucap Aditya ke lukisan itu. Lalu dia membawa lukisan itu kegudang dan menutupnya dengan kain putih.
__ADS_1