Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 25


__ADS_3

Maudy naik ke mobil, dengan perasaan takut, gelisah, senang, semua jadi satu. Ditambah lagi keberadaan bunga yang membuatnya semakin tidak nyaman.


Melihat ekspresi wajah maudy yang panik, aditya tersenyum kecil. Tapi disisi lain dia juga merasa iba, tak tega melihat wanita kesayangannya bersedih. Semua dilakukan aditya demi kebaikan maudy, agar maudy lebih bisa menghargai waktu, tidak ceroboh terus, dia ingin maudy tau, bahwa dunia kerja ini adalah dunia yang kejam, apalagi dunia bisnis.


"Kenapa kamu bisa terlambat? Bangun jam berapa kamu?" tanya bunga.


Maudy tak menjawab pertanyaan bunga, dia hanya menundukkan kepalanya.


"Kamu punya mulut kan? jawab pertanyaan saya!" tegas bunga.


"Mm-ma-maaf, kak" ucap maudy.


"Saya ini bertanya ya, bukannya jawab. Huhh, susah dibilangin kamu ini, lain kali jangan ulangi lagi!" ujar bunga.


"Iya kak" ucap maudy.


"Mau di apain anak satu ini pak aditya? Badan aja yang gede-." Aditya memotong pembicaraan bunga. "Sudah, cukup!" ucapnya

__ADS_1


Suasana di dalam mobil menjadi sangat canggung, bahkan untuk bernafas saja rasanya menjadi sangat menakutkan, apalagi untuk melakukan pergerakan. Setiap hal yang dilakukan maudy, selalu saja salah di mata bunga.


"Pak, kalau ada tempat makan tolong berhenti, saya ingin sarapan" ucap Aditya kepada supir nya.


"Tapi pak, bukannya tadi dikantor-." ucap bunga. Aditya memotong pembicaraan bunga. "Ibu bunga, jangan banyak bertanya" tegas aditya.


Mendengar perkataan aditya, bunga merasa sedikit kesal. "Hemm, pasti dia ngelakuin ini semua, demi si gendut ini! jelas-jelas di kantor tadi aku lihat dia sudah makan. Nyebelin, liat aja ntar!" gumam Bunga dalam hati.


"Wah, alhamdulillah deh, kebetulan nih, belum sarapan, malah perut udah mau krucuk-krucuk dari tadi. Tapi ... bersama mereka--" gumam maudy dalam hati. Sambil memegang perutnya.


Mereka pun, sampai di salah satu tempat makan, lokasinya tidak terlalu jauh dari mess karyawan. Lalu mereka memesan makanan, dan menyantapnya. "Kamu yakin cuma minum air mineral saja?" tanya aditya pada bunga.


Maudy hanya terdiam, dia tak menanggapi ucapan bunga. Dia tetap melahap makanannya, walaupun sebenarnya dalam hati dia merasa sangat tersakiti dan malu, di rendahkan di hadapan orang yang dicintainya.


Aditya menyadari perubahan sikap maudy. "Kamu kenapa?" tanya aditya.


"tidak apa-apa pak" jawab maudy.

__ADS_1


Setelah selesai makan maudy pergi ke toilet, sesampainya di toilet, dia berkaca, sambil memandangi tubuhnya yang gendut dan berisi, berputar didepan kaca, mencubit lipatan lemak yang ada di perutnya, dan mengempiskan pipinya. Tak lama kemudian ada seseorang yang masuk kedalam toilet, lalu dia tertawa melihat maudy yang sedang asik memandangi dirinya dari dalam kaca.


"Gendut, sadar kan, kalau lu itu, gendut dan jelek, tak pantas berharap dengan sosok sempurna, seperti aditya. Sadar diri dong, tu lihat kaca didepan mata lu, kira-kira siapa yang pantas mendampingi aditya?" ucap bunga. Lalu dia meninggalkan maudy dengan rasa sedihnya.


"Apa salah aku mengagumi seseorang? apa orang gendut gak boleh jatuh cinta dan bahagia? apa salahnya punya tubuh gendut? Tapi ... sepertinya, apa yang dikatakan kak bunga memang benar, apa pantas seseorang seperti aditya, pantas, didampingi seseorang seperti ku?" gumam maudy dalam hati. Dengan perasaan sedih, menatap pada pantulan dirinya, di dalam kaca.


*krinngg ... kringg ... kringg*


Handphonenya berdering, maudy segera mengambilnya dari dalam tas. Ternyata itu adalah panggilan dari aditya.


"Haloo"


"Kamu mau ditinggal? ke mobil sekarang!" tegas aditya.


Telponnya terputus, maudy menghapus air mata dan mengatur nafasnya, untuk menyembunyikan perasaan sedih di hatinya. Setelah memastikan semua baik-baik saja, maudy bergegas keluar dari toilet menuju parkiran, kembali melanjutkan perjalanan ke kebun kopi.


Disepanjang jalan, maudy di suguhi pemandangan yang sangat menyebalkan. Karena bunga selalu berusaha mencari perhatian aditya, bahkan di pertengahan jalan, dia tertidur dan kepalanya bersandar di pundak aditya. Walaupun aditya terlihat risih dan tidak merespon sikap bunga, tapi, tetap saja, pemandangan ini semakin membakar hatinya, dia berfikir bunga dan aditya adalah pasangan serasi. Aditya merupakan sosok yang tampan, sukses, dan mandiri. Dan Bunga juga sama, dia cantik, tubuhnya ideal, berasal dari keluarga kaya.

__ADS_1


"Hmm, kenapa dunia begitu tak adil. Keberuntungan selalu berpihak pada mereka yang memiliki kelebihan, seperti wajah yang cantik, harta yang banyak, tapi tak berpihak pada orang sepertiku, wanita dengan kelebihan berat badan" gumam maudy dalam hati.


__ADS_2