Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 39


__ADS_3

"Siapa wanita ini? apakah ... apakah Aditya tinggal serumah dengan kekasihnya? Ahh, tidak-tidak" gumam Maudy dalam hati.


Tak lama kemudian Aditya keluar, menemui Maudy, wanita itu seketika masuk ke dalam rumah tanpa memberitahu siapa dirinya. Hal ini semakin membuat rasa penasaran menggebu dalam jiwa Maudy. Ingin rasanya dia bertanya tentang wanita itu dan berkata hatinya sakit, ketika melihat Aditya bersama wanita lain, tapi apalah daya, bibir terasa berat dan kaku.


"Kamu sendiri? Ken, mana?" tanya Aditya. Maudy merasa bingung, mendengar ucapan Aditya, karena dia tak tau apa-apa tentang Ken. Dia hanya menggelengkan kepalanya.


Aditya menelpon Ken, menanyai posisinya saat ini. Ternyata Ken kesiangan, dia juga lupa harus menjemput Maudy pagi ini. Lalu Aditya memutuskan untuk membawa kendaraan sendiri, agar Ken bisa menghandle sarapan untuk karyawan di kantor.


"Masuk." Sambil melangkah kedalam rumahnya.


Maudy berjalan perlahan, memasuki rumah Aditya, dia melongo, melihat furniture mewah yang tertata rapi di rumah Aditya. "Wah, ini rumah atau istana, bisa betah banget sih kayaknya dirumah berhari-hari." Lalu mata Maudy tertuju pada satu foto di sudut ruangan. Difoto itu terlihat Aditya sedang bersama seorang wanita, berpose begitu mesra, terlihat Aditya sangat menyayangu wanita itu.


Aditya melihat Maudy begitu fokus memperhatikan foto di sudut ruangan, melihat fotonya bersama Shelly, adiknya. "Dia adikku." Sambil melihat ke foto itu. Merasa tak yakin dengan ucapan Aditya. "Haaahh?" ucap Maudy. Aditya berbalik dan menatap Maudy. "Kenapa?".


Satu kata yang telah merubah segalanya, perasaannya yang tadi gelisah, sedih, kecewa, kini berubah menjadi bahagia, lega dan bersyukur. Tanda tanya besar itu, kini terjawab, ternyata selama ini Maudy salah paham. Rasa cintanya yang begitu besar pada Aditya, mampu menafikkan akal sehatnya. "Yaampun, ternyata, selama ini aku salah, kenapa dahulu aku gak kepikiran untuk mempertanyakannya, rasa cemburu yang begitu besar, telah menutupi akal sehatku." gumamnya dalam hati.


"Menuruti emosi dan hawa ***** hanya akan merugikan, penyesalan adalah hadiah yang pasti akan diterima. Kini tak ada lagi gunanya menyesal, karena semuanya telah terjadi. Tapi walau hingga kini dengan penuh harap aku menunggumu, aku tetap seperti gedung pencakar langit yang tak mampu menembus indahnya awan. Aku sadar, bahwa aku sedang menunggu sesuatu yang tak pasti dan tak akan tergapai. Apalagi dengan kondisi fisik yang seperti ini. Lelaki mapan, ganteng, dan pintar sepertimu pasti tidak akan melirik wanita sepertiku."


Tak lama kemudian, adik Aditya datang menghampiri Maudy. Dia menyodorkan tangan. "Hai kak, saya Shelly, adiknya manusia dingin ini." Melirik Aditya. Maudy menjabat tangan Shelly. "Maudy."


Seketika Shelly menatap Aditya. Aditya menatap balik sambil memberi isyarat agar Shelly bungkam, dan tak membicarakan apa-apa.

__ADS_1


"Heemm, salam kenal kak Maudy. Sudah lama ya gak ketemu, terakhir kita ketemu di acara coffe art ya?" ucap Shelly.


"Eemm, iyaa. Salam kenal juga" jawab maudy.


"Oh, ya, kak, kapan-kapan boleh dong kita hangout bareng?."


Maudy terdiam, dia masih bingung dengan situasi ini. Dia masih merasa tak percaya, semuanya seperti mimpi. Apa tuhan telah menjawab semua doa-doa yang telah dilangitkannya.


"Kak?" ucap Shelly.


"Ee-ee, iya, iya boleh, Ly." Sambil tersenyum.


Aditya melihat jam tangannya. "Sudah, bicaranya nanti saja. Ayo buruan ke kantor, nanti kita telat." ujar Aditya.


"Alahh, paling akal-akalan--" ucap Shelly.


Aditya menatap Shelly dan memotong ucapannya. "Ya, ada ... sebab pastinya, kamu jangan banyak tanya, ikutin aja perintah saya, sekarang kamu kan asisten pribadi saya."


Aditya melihat kesekitarnya, mencari akal, kira-kira apa yang bisa dilakukan Maudy. "Ee, itu, yaa, ituu, tolong kami bawakan buku-buku itu."


"Itu kan buku ku" ujar Shelly.

__ADS_1


"Eemmm, maksudku, tolong bawakan tas ku." Aditya langsung bergegas jalan ke luar rumah, sambil menahan malu.


"Pamit ya, Shelly." Lalu Maudy bergegas menyusul Aditya, sambil menenteng tas Aditya.


***


Di mobil. "Oh ya, kamu sudah sarapan?" tanya Aditya.


"Sudah, Pak."


Aditya menganggukkan pelan kepalanya. "Naik apa tadi kerumah saya?."


"Saya diantar temen pak" jawab Maudy.


"Siapa?" tanya Aditya.


"Namanya Rey. Bapak udah sarapan?."


Aditya merasa sangat kesal mendengar nama itu, sikapnya yang tadi sedikit ramah berubah menjadi sangat dingin. Dia juga tak merespon pertanyaan Maudy.


Akhirnya mereka sampai di parkiran kantor. Saat Maudy hendak membuka pintu.

__ADS_1


"Tunggu ...."


Maudy pun melihat Aditya. Wajahnya begitu serius sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan Aditya padanya.


__ADS_2