Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS . 22


__ADS_3

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 12, Yaappps. Seperti biasanya, ini pertanda jam istirahat. Beberapa karyawan tetap di meja kerja mereka, sambil menyantap bekal yang dibawanya, ada yang masih sibuk dengan pekerjaannya, ada yang pergi ke kantin ataupun ke luar area kantor untuk mencari makan siang. Begitu pula dengan Maudy dan Diana mereka memanfaatkan jam istirahat untuk meng-ekplore daerah sekitar kantor.


"Yey, istirahat, makan diluar yuk dy, sambil jalan-jalan?" ucap Diana.


"Hemm, boleh juga na. Tapi dimana ya? Ntar nyasar lagi, kayak semalem" ujar Maudy.


"Ya nggaklah, ini kan masih siang, lagian lo seneng kan, gara-gara semalam nyasar, jadi bisa jalan bareng Aditya, tuh-tuh merah tuh mukanya, hahahaha." Diana tertawa terbahak-bahak melihat ekspressi maudy yang salting dengan wajah memerah.


"Ahh, apaan, ayokk jalan" ajak Maudy.


Mereka menyusuri jalanan, sambil melihat-lihat ke kiri dan kanan, memilih tempat makan, yang akan mereka hampiri.


Diana pun menunjuk ke salah satu tempat makan. "Nah disana aja kali ya makannya, kayaknya enak tuh, karyawan kantor juga banyak di sana" ujar Diana.


"Yuk,,, kelihatanyya juga enak banget deh, cacing di perut ku juga udah pada demo nih" jawab Maudy.


"Hahaha, cacing diperut lu sejak kapan bisa diem dy?" tanya Diana. Membercandai Maudy.


Mereka pun berjalan menghampiri warung makan itu. Sesampainya disana mereka dipanggil oleh salah satu karyawan kantor, dan mengajak mereka untuk bergabung di meja yang sama, Maudy dan Diana pun menyetujuinya. Sebenarnya mereka merasa sungkan dan malu, tetapi menolak juga tak mungkin.


"Sini-sini duduk, santai aja, jangan sungkan" ucap Bu Tia. Salah satu karyawan kantor, berbicara dengan ramah.


Maudy dan Diana pun duduk di satu meja yang sama dengan Bu Tia dan rekan lainnya.


"Kalian udah pesen?" tanya bu tia.


"Belum bu" jawab Maudy.


"Yaudah pesen dulu aja, ini daftar menunya" ujar bu tia. Sambil memberikan daftar menu kepada Maudy.


Setelah mereka memesan makanan, Maudy dan Diana mengobrol dengan bu Tia dan rekan lainnya. Mereka sharing soal pekerjaan dikantor, sampai kepada gosip pernikahan leslar.


"Eh dik, kamu tadi disuruh apa sama bunga?" tanya bu tia kepada Maudy.


"Ng-ngg-nggak ada bu" ucap maudy terbata- bata.


"Udah jujur aja, tadi pagi saya lihat kamu ngos-ngosan keluar dari ruangan nya. Pasti kamu disuruh aneh-aneh ya. Udah jadi rahasia umum sih sebenarnya, si bunga itu suka semena-mena sama orang lain, nyebelin banget, supeerrr nyebelin, wanita satu itu" ujar bu tia.


"Kenapa gak dilaporin aja bu?" tanya diana.

__ADS_1


"Gak ada yang berani berurusan dengan dia, semua karyawan diperusahaan, rata-rata udah dongkol banget sama dia. Tapi ya apa daya, karyawan kecil seperti kami itu tidak bisa berkutik apa-apa. Dulu pernah ada yang mau ngelaporin dia ke pak aditya. Tak lama kemudian orang itu dipecat" jawab bu tia.


"Hmm, apa pak aditya yang memecatnya bu?" tanya Maudy.


"Bukan, wanita jahat itu yang memecatnya" jawab Bu tia.


"Hmmmm, kok bisa seperti itu ya bu" tanya Maudy.


"Ayah wanita itu adalah salah satu penanam modal terbesar di perusahaan ini, mungkin itu sebabnya, kenapa dia sangat angkuh sekali." jawab bu tia. Dengan ekspresi kesal.


Setelah makan siang dan berbincang, mereka kembali lagi ke kantor untuk bekerja.


***


"Eh, dy, coba lu jujur sama gue, tentang yang dibilang bu tia di warung tadi? tanya Diana.


"Gak ada apa-apa kok na" jawab Maudy.


"Jangan bohong, aku tau lu lagi bohong, lu tu gak cocok dy buat bohong, gak bakat" ujar diana. Mendesak Maudy.


"Iya Na, sebenarnya tadi saat kamu pergi, aku diminta bunga untuk membelikannya kopi, karena kendaraan kantor udah dipakai semua, jadi aku berjalan kaki. Tapi pliiissss, jangan kasih tau siapa-siapa" ujar Maudy. Dengan wajah memelas.


"Benar-benar keterlaluan" ucap Diana.


Maudy menatap mata diana, seolah memberi kode, untuk tidak membicarakan apa-apa kepada ken. "Tidak ada Ken" jawab Diana.


"Baiklah kalau begitu, oh iya, persiapkan diri kalian ya, besok kita akan ke kebun untuk memantau, kebetulan besok petani memanen kopi, jadi kalian bisa belajar" ucap Ken.


"Wahh seru banget, gak sabar deh nunggu besok" ucap diana


"Iya betull sekali Na, pasti menyenangkan" ujar Maudy.


"Mana teman kalian satu lagi?" tanya Ken.


"Gak tau sih, dari tadi gak kelihatan" jawab Diana.


"Nanti tolong beritahukan info ini kepadanya ya" ujar Ken.


"Siaap" jawab Maudy dan Diana serentak.

__ADS_1


***


"Hmm, udah seharian gak liat aditya rasanya ada yang beda" gumam Maudy dalam hati. Lalu Maudy pun pergi ke lantai di tempat ruangan aditya berada, Maudy duduk di kursi lobby tepat di depan ruangan Aditya, sambil mencuri-curi pandang ke dalam ruangan aditya yang terbuat dari kaca dan tirainya pun kebetulan terbuka.


Na'asnya ternyata aditya menyadari bahwa Maudy mencuri pandang kepadanya, aditya berjalan ke arah dinding, sambil menatap maudy dengan sinis, dan menutup tirai dari dalam ruangan. Maudy pun shock melihatnya, setelah aditya menutup tirai Maudy menghela nafas.


"Huuuhh, untung saja gak dipanggil, serem banget tu orang" gumam maudy dalam hati. Sambil mengelus dadanya.


Tiba-tiba pintu ruangan Aditya terbuka *Greeeeek*.


Maudy pun menunduk ketakutan. "Kamu, masuk ruangan saya" perintah Aditya.


"Duh mampus gue, pasrah aja lah" gumamnya dalam hati. Sambil menggenggam kuat handphone yang ada ditangannya.


Maudy pun masuk kedalam ruangan Aditya, dia langsung memohon maaf pada Aditya, karena dia sadar bahwa dia sudah melakukan kesalahan yaitu ketahuan mengintip aditya.


"Pakk, maaf pakk, saya nggak sengaja pak, jangan marahin saya pak" ucap Maudy. Dengan ekspresi ketakutan.


"Stttt, diam! berisik banget" ucap Aditya. Mendengar ucapan aditya, Maudy langsung terdiam, benar-benar mati kutu.


"Saya panggil kamu kesini karena saya butuh bantuan, silahkan duduk" ucap Aditya.


Maudy kembali mengelus dadanya. " Huhh, selamat, selamat. Apa yang bisa saya bantu pak?" tanya Maudy.


Aditya segera meletakkan beberapa sampel biji kopi dihadapan Maudy. "Mana aroma yang paling kamu suka?" ucap Aditya.


Maudy pun segera menghirup satu per satu aroma biji kopi di depannya. "Ini pak." Sambil mengangkat satu sampel biji kopi.


Aditya mengambilnya dari tangan Maudy, dan mencoba untuk menghirup aromanya.


"Sebenarnya antara ke empat sampel ini memiliki aroma yang khas dan keunikannya masing-masing. Hanya saja saya lebih tertarik dengan kopi itu pak" ujar Maudy.


"Robusta, pilihan yang bagus" ucap Aditya. Sambil menghirup dalam aroma biji kopi tersebut.


"Oh, jadi itu biji kopi robusta" ujar Maudy.


Aditya mengangguk. "Saya sangat ingat, bagaimana dulu kamu menghirup aroma kopi sebelum meminumnya. Kebetulan melihatmu, sedang menguntitku di luar--."


Maudy sangat malu mendengar aditya mengatakan bahwa dirinya adalah penguntit, sehingga Maudy memotong pembicaraan Aditya. "Hmmm, maaf pak, apa ada yang bisa saya bantu lagi? kalau tidak saya permisi pak" ucap Maudy tergesa-gesa. Dia pun langsung meninggalkan ruangan Aditya, tanpa melihat pada wajahnya.

__ADS_1


"Ee, baiklah" ucap Aditya


Dari kejauhan terlihat ada seseorang sedang memerhatikan Maudy keluar dari ruangan Aditya.


__ADS_2