
"Aku mau, kamu magang sebagai asisten pribadiku" bisiknya.
Maudy melonggo mendengar permintaan Aditya, seluruh badannya membatu, bingung, harus bahagia atau sedih. Sepanjang jalan dia terlihat sangat kebingungan dan bibirnya tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.
"Hah, asisten pribadi? apa aku akan bersamanya selama seharian? menyiapkan pakaian dalam dan baju kerjanya. Ahhh, membayangkan bisa melihat tubuh kekar Aditya dibalik pakaian itu, membuatku malu. Iiiiihhhh! Maudy sadar maudy, mikir apaan sih." Menggelengkan kepala sambil memejam mata. "Apa sih tugas asisten pribadi, huuhh, apa dia mau ngerjain aku ya" ujarnya dalam hati.
Mobil berhenti didepan mess."Besok pagi jam 7 aku tunggu kamu dirumah" ucap Aditya.
Maudy terkejut dan reflek menatap Aditya "Haaa?" jawabnya.
"Kenapa? kamu keberatan?" ucap Aditya.
Maudy menggelengkan kepalanya. "Ee, tidak pak, tidak keberatan." Lalu dia menatap Aditya sambil termenung.
"Kenapa? kamu terpesona? gitu amet lihatnya" ucap Aditya. Sambil merapikan rambutnya dan berkaca di cermin.
Maudy tersadar dan dia merasa sangat canggung, dia langsung membuka pintu mobil dengan tangannya yang terkilir. "Aaaaww ...."
"Stop! kamu diam aja disitu, biar saya bukain pintunya."
__ADS_1
"Gak usah pak, bisa kok."
"Ssstttt." Sambil meletakkan jarinya di bibir Maudy. Lalu Aditya turun dan membukakan pintu untuk Maudy.
Tepat setelah Aditya pulang, Rey sampai di mess Maudy. "Maudy, kamu dari mana saja?" tanya Rey.
"Oh, itu tadi, dari--." Tiba-tiba Rey memeluk Maudy. "Maudy, aku mengkhawatirkan mu, handphone mu gak aktif, dicari di kantor juga gak ada, akhirnya aku kesini dan untungnya bertemu kamu" ujar Rey.
Maudy terkejut melihat sikap Rey. Dia takut salah mengartikan kebaikan Rey. Tapi pelukan ini hangat sekali, seperti memancarkan perasaan yang tulus. Maudy pun melepas pelukan Rey. "Emmm, maaf Rey."
Rey melepaskan pelukannya. "Yammpun maaf-maaf Maudy, aku mohon maaf ya, aku refleks" ujar Rey.
"Hemm, baiklah Maudy, setidaknya hatiku udah tenang lihat keadaan kamu. Besok pagi aku kesini ya kita program lagi."
"Eeh Rey, maaf Rey, sepertinya aku mau berhenti program dietnya" ujar Maudy.
"Ha, kenapa Dy?" tanya Rey, terkejut.
"Karena aku tidak bisa mengerjakan tugas yang diberikan Aditya, maka aku mendapatkan hukuman darinya. Hmm, dan hukumannya adalah jadi asisten pribadinya. Besok, pagi-pagi sekali aku harus sudah bersiap menemuinya" ujar Maudy.
__ADS_1
"Hah, kurang ajar banget orang itu. Memanfaatkan keadaan untuk kepentingan dirinya sendiri. Kamu kok mau aja sih Dy, seharusnya kamu tolak!."
Maudy tak menjawab ucapan Rey, karena keadaannya begitu rumit untuk diceritakan, lalu dia membuka pintu.
"Hmmm, maudy" ucap Rey.
Maudy berbalik dan melihat Rey. "Selamat beristirahat." Sambil memberikan senyuman termanis. Maudy mengangguk dan tersenyum kecil.
***
"Dari mana aja lu, Dy? Tuh, si Rey dari tadi neror gue, nanyain lu mulu" tanya Diana.
"Hmm, Na, ceritanya boleh besok aja gak? Aku capek banget rasanya, kepalaku juga udah mumet, pengen istirahat."
"Ohh, iya Dy, kamu istirahat aja dulu, maaf ya Dy. Jangan lupa mandi dulu biar segeran dikit, muka kamu kusut banget" ucap Diana.
Maudy hanya mengacungkan jempol pada Diana dan mengambil handuk untuk segera mandi. Setelah mandi dia berbaring di tempat tidurnya, mencoba memejamkan mata. *Ting tong* ada notifikasi masuk di handphonenya. Maudy membuka handphonenya, tak sengaja terpencet bilah notifikasi itu, ternyata itu adalah pesan dari Rey. "Besok pagi, aku jemput, selamat istirahat."
Tak ambil pusing, Maudy langsung saja meletakkan handphone, memejamkan mata. "Hmm, entah apa yang akan terjadi besok" gumamnya dalam hati. Lalu dia pun tertidur.
__ADS_1