
Akhirnya mereka sampai di tujuan, maudy bergegas turun dari mobil dan berjalan mendekati diana dan shafira.
"Maaf ya dy, tadi aku tinggal, kamu sih, tidur kayak kebo, gak bangun-bangun" ucap diana.
"Iya na, gak apa-apa, ini emang kesalahan ku" ujar maudy.
Sebelum melanjutkan perjalanan ke dalam kebun, mereka diberikan sepatu boot, kacamata lapangan, dan caping, alat-alat pelindung yang biasanya dipakai dilapangan. Setelah mempersiapkan semuanya, maudy, diana dan shafira di tuntun oleh seorang asisten kebun yang bekerja disana, untuk melihat lokasi dan memberikan penjelasan nantinya.
Di pertengahan jalan maudy terlihat sangat lemas dan sedikit pucat. Diana menyarankan agar maudy tidak melanjutkan perjalan, tapi maudy tetap saja memaksakan diri. Hingga tak lama kemudian *braaaakkk* maudy pingsan, tergeletak di atas dedaunan. Melihat hal itu, pak asisten kebun menelpon ke kantor, memberitahukan, bahwa ada anak magang yang pingsan di tengah jalan.
***
Mendengar kabar itu, aditya panik, dia yakin bahwa yang pingsan adalah maudy. Wajahnya pun terlihat sangat panik, dia berlalri menyusul maudy ke kebun kopi.
"Dit, dit ... hey aditya! gak bisa, kamu gak bisa pergi, sebentar lagi ada klien penting datang kesini, kamu harus professional!" tegas Ken. Menghalangi aditya untuk pergi.
"Aditya melepas tangan ken dari pundaknya. "Kamu dan bunga tolong atur semuanya." Lalu dia pergi dengan tergesa-gesa sambil membawa air minum dan kotak p3k.
Melihat sikap aditya yang sangat panik dan perhatian terhadap maudy, bunga merasa sangat kesal dan cemburu. Dia berniat untuk mengikuti aditya, tetapi ken menahannya, karena selain aditya, hanya bungalah yang bisa menghandle klien yang akan datang ke kantor itu. "Kamu jangan kemana-mana!" tegas Ken. Melihat ekspresi wajah Ken yang sangat serius, bunga pun hanya diam dan mengikuti ucapannya.
***
Aditya pun sampai dengan nafas terengah-engah, dia sangat iba, melihat maudy yang lemah tak berdaya. Lalu aditya memberikan air yang dibawanya tadi untuk diminum oleh maudy, dan memberikan kotak p3k kepadanya. Asisten kebun, diana dan shafira terheran-heran melihat sikap aditya pada maudy.
"Maaf pak, yang lain kemana pak? kenapa bapak yang turun langsung menyusul kesini?" tanya asisten kebun.
"Hmmm ... saya kebetulan ingin melihat-lihat kondisi kebun, lalu dapat kabar ada mahasiswa magang yang pingsan, jadi saya kesini" jawab aditya mencari-cari alasan.
Diana tak percaya dengan ucapan aditya. Karena sikapnya tidak menunjukkan bahwa ini sebuah kebetulan, tapi sebuah kesengajaan, kalau tidak, bagaimana bisa dia membawa perlengkapan yang begitu banyak.
__ADS_1
"Ihh, sebel, enak banget si gendut diperhatin pak aditya, aku harus kasih tau kak bunga" gumam shafira dalam hatinya.
"Bagaimana pak, apakah monitoringnya dilanjutkan?" tanya asisten kebun.
"Iya, silahkan dilanjutkan, maudy biar saya yang urus" ujar aditya.
Dengan berat hati diana dan shafira melanjutkan kegiatan tanpa maudy bersama pak asisten kebun.
"Dy, aku tinggal lagi ya, kamu cepat sehat" ujar diana.
"Iyaa, na, hati-hati ya." Sambil melambaikan tanggannya kepada Diana.
Kini hanya ada aditya disampingnya, maudy menjadi salah tingkah, dia sangat bahagia, tapi mulutnya tak mampu untuk berkata-kata.
"Bagaimana kondisimu?" tanya aditya.
"Huhhh, syukurlah, aku sangat mengkhawatirkan mmm--." Aditya terdiam seribu bahasa, hampir saja dia mengungkapkan perasaannya kepada maudy.
"Apa?" tanya maudy. Ucapan aditya tadi kurang terdengar jelas olehnya.
"Tidak ada, ayo diminum lagi airnya" ucap aditya.
Lalu aditya merangkul maudy berjalan ke pabrik, tempat pengupasan biji kopi. Lokasinya tak jauh dari tempat mereka saat ini. "Haduuh, kamu sangat berat sekali" ucap aditya dengan nada bercanda. Maudy berhenti melangkah, dan dia menatap wajah aditya. "apa?" tanyanya. Maudy hanya menggelengkan kepala, dan mereka melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di pabrik tersebut, aditya menjelaskan cara kerja mesin pengupas buah kopi kepada maudy secara mendetail. Tetapi maudy tak fokus karena pikirannya masih terpaku pada ucapan aditya tadi.
"Mau mencobanya?" tanya aditya.
Maudy masih melamun dan tak mendengar ucapan aditya. "Heeey!" ucap Aditya. Sambil menyentuh pundak maudy.
__ADS_1
"Eee-ee-ee, apa pak?" jawab maudy. Terkejut.
Lalu maudy mencoba menggunakan mesin pengupas buah kopi. "Hemm, ternyata ini bentuk buah kopi." Sambil memperhatikan dengan jelas buah kopi di tangannya. Maudy melakukannya dengan sangat antusias dan senang, karena ini adalah pengalaman pertama baginya.
Setelah berkeliling, mereka duduk di depan pabrik, sambil menunggu diana dan shafira selesai berkeliling.
"Ini kopinya pak, mbak, silahkan dinikmati" ucap salah satu karyawan pabrik. Sambil menyuguhkan minuman kepada aditya dan maudy.
"Terimakasih bu" ujar maudy.
Seperti biasanya, sebelum meminum kopi tersebut, maudy selalu menghirup aromanya, dengan cara yang unik dan khas. Aditya hanya memandangi maudy dan tersenyum.
"Bagaimana, enak?" tanya aditya.
"Hmmm, arabica?" ujarnya.
"Thats right" jawab aditya. Menatap wajah maudy dengan senyuman yang aneh. Hal ini membuat maudy merasa salah tingkah, karena tatapan aditya berbeda dari biasanya, pupil matanya membesar, seperti tatapan orang yang sedang di mabuk asmara.
"Ahhh, sadar, maudy sadar" gumam nya dalam hati.
"Eeee, pak, saya permisi dulu ke toilet" ucapnya.
Aditya mengangguk. "Apakah ini saat yang tepat untuk mengungkapkannya?" gumam aditya dalam hati.
Tak lama kemudian maudy kekuar dari toilet dan dia kembali duduk di dekat aditya, dia melihat tiba-tiba wajah aditya berubah menjadi sangat serius, membuat guncangan dihatinya semakin kuat.
Aditya meletakkan gelasnya, memiringkan badannya ke arah maudy, sambil menatap wajahnya.
"Maudy ...."
__ADS_1