
"Ah, gak jadi deh, Dy, aku pesen sendiri aja. Kamu makan bekal mu itu aja, kasihan loh si Rey, udah bela-belain nganterin kesini" ujar Diana.
"Aaaaaa, diskon mi ramen ku ðŸ˜," rengek Maudy. "Yaudah deh, Na, aku makan ini aja. Sambil lihatin foto mie ramen enak kali ya." Maudy segera membuka aplikasi browser di handphonenya dan mencari gambar mie ramen. Lalu dia membuka bekal kotak makanannya dan menyantapnya sembari melihat gambar tersebut.
"Hahaha, enak, Dy?" tanya Diana.
"Ssstttttt, dieeemmm. Bully aku mulu, huuuh" ucap Maudy, sebel.
"Lagian kamu sih, pakai acara diet-diet segala, gini aja, imut tau." Sambil mencubit lembut pipi Maudy.
"Kamu gak ngerti sih, Na. Kamu enak, makan banyak gak gendut-gendut. Lah, aku, makan sedikit aja langsung jadi daging" ujar Maudy.
"Hah, gak salah denger, makan dikit? Iya, makan nasi emang dikit. Jajan kamu sebakul."
"Udah, udahh, huss, husss, sana! Kamu makan diluar aja ya," ucapnya.
***
*Tok-tok*
"Silahkan masuk."
"Dit, aku udah dapat info tambahan tentang lelaki itu," ucap Ken.
Aditya langsung menatap Ken dengan serius. "Apa yang kamu tau?."
"Lelaki yang bernama Rey itu, dia adalah seorang coach kebugaran handal di Jambi. Banyak orang-orang yang dilatihnya lalu berhasil." Sambil menunjukkan foto-foto Rey, pada Aditya.
"Terimakasih, Ken" ujar Aditya.
"Sama-sama, Dit. Lalu apa yang selanjutnya mau kamu lakukan ?" tanya Ken.
"Hemm, nanti kamu akan segera tau" jawab Aditya.
"Asal gak aneh-aneh aja, Dit. Oh ya, gaji aku, jangan lupa tambahin, hahaha" ujar Ken.
"Amaaan, yaudah kamu balik kerja lagi sana" ucap Aditya.
Ken keluar dari ruangan Aditya. Lalu Aditya bejalan mondar mandir di dalam ruangannya, dengan wajah gelisah.
"Oh, ternyata Rey itu coach nya Maudy, gpp deh, ngapain harus cemburu." Lalu dia tersenyum, dan berusaha tenang. "Eh, tapi, ini artinya mereka akan sering bersama, tidak-tidak, ini tidak boleh dibiarkan. Gak akan aku biarkan dia mendekati Maudy begitu saja, tapi, apa yang harus aku lakukan?." ujar Aditya.
"Melarang nya? Ah, tidak-tidak, dia pasti tambah marah sama aku. Hmm, ayo berfikir adityaa." Sambil menepuk kepalanya dan memejamkan mata, berfikir keras. "Aaahaa, i got idea."
__ADS_1
***
"Dy, besok kan weekend, gimana kalau kita jalan-jalan?" ujar Diana.
"Ahaa, good idea. Tapi kemana ya, Na?" tanya Maudy.
"Gimana, kalau kita ajak Rey? Dia kan janji, bakal ajakin kita jalan-jalan" ujar Diana.
"Hemmm." gumam Maudy.
"Kenapa? lemes gitu?" tanya Diana.
"Kalau ajak Rey, berarti aku gak bisa jajan sembarangan dong" ucap Maudy, lemes.
"Hahaha, pantesan lemes banget. Tapi kan lumayan, Dy. Hemat ongkos " bisik Diana.
"Nanti aku coba deh, tanya ke Rey" ujar Maudy.
***
Shafira menghampiri Maudy. "Dy, tolong berkas ini, kamu antar ke ruangan kak Bunga. Oh ya, sekalian, bawain dia minum ya, kopi aja, tadi dia pesen sekalian." Sambil memberikan sebuah map pada Maudy.
Maudy pun meng-iya kan ucapan Shafira. Lalu dia pergi ke dapur, untuk membuat kopi. "Gula mana ya?." Maudy mencari ke sekeliling ruangan, dia tak melihat gula. Akhirnya dia mencari office boy, untuk ditanyai, berkas itu diletakkannya di atas meja dapur.
Maudy kembali ke dapur, betapa terkejutnya dia, berkas itu sudah basah tersiram air. "Astagfirullah, kok bisa basah." Maudy segera mengambil berkas tersebut dan mengelapnya perlahan menggunakan tisu, tapi naas, kertasnya malah robek."Mampus, bakal di marahin kak bunga nih" gumamnya dalam hati.
Dengan rasa takut, dia mendatangi ruangan bunga. "Permisi kak."
"Yaaa, tarok aja berkasnya diatas meja saya" ucap Bunga. "Gak denger ya? tarok aja berkasnya disana. Ngapain masih bediri disitu."
"Kak, mohon maaf sebelumnya, berkasnya basah dan tersobek kak. Saya tidak sengaja kak, maaf kan saya kak." Sambil menundukkan kepala.
Sontak Bunga berdiri, mendengar ucapan Maudy, mata nya melotot, menunjukkan amarah.
"Apa katamu? Kamu kira ini cuman mainan ya? ini itu berkas penting. Besok mau di tunjukkan pada klien, sekarang, setelah kamu rusak, mau minta maaf?" ujar Bunga.
Maudy hanya tertunduk, menerima kemarahan Bunga. Ken yang tak sengaja lewat, mendengar Bunga berteriak, lalu dia pun masuk kedalam.
"Ada apa ini?" ujar Ken.
"Ken, kamu lihat ini, berkas penting. Besok udah mau di kasih ke klien, malah dirusak oleh wanita gendut ini! gimana aku gak marah, sekarang mau gimana coba? salinan datanya kan udah hilang."
Ken melihat ke arah Maudy. "Maaf Ken, aku tak sengaja" ucap Maudy.
__ADS_1
Ken menarik nafas. "Hemm, Maudy, kali ini aku gak bisa toleransi lagi sama kamu. Keteledoran kamu ini bisa merugikan perusahaan. Kalau gini siapa yang harus tanggung jawab?" ucap Ken.
"Maafkan saya" ucap Maudy. Sambil meneteskan air mata. "Saya akan bertanggung jawab."
"Bertanggung jawab gimana? kamu lihat ini, udah rusak begini" ucap Bunga.
"Sudah Bunga! tak perlu berteriak. Begini saja, Maudy sekarang masih ada waktu, untuk kamu menyalin ulang data-data tersebut, saya gak tau gimana caranya pokoknya harus selesai sebelum besok pagi" ujar Ken. Lalu dia pergi meninggalkan ruangan.
***
Maudy kembali keruangannya dalam keadaan menangis. "Ehh, kenapa, Dy? Ada apa? Cerita dong?" tanya Diana panik.
Tangis Maudy semakin pecah, dia merengek dan memeluk Diana. Melihat kejadian ini Shafira tersenyum jahat. "Hahaha, mampus kamu, biar tau rasa" gumamnya dalam hati.
Maudy menceritakan kronologi kejadiannya kepada Diana, dia juga menekankan, bahwa dia sama sekali tak mengetahui kenapa berkas itu bisa tertumpah air, padahal di sampingnya tak ada air.
"Kayaknya, ada yang ngerjain kamu deh, Dy." ujar Diana.
"Maudy-maudy, makanya kerja itu yang bener, di suruh ngantar berkas aja gak becus, bukannya langsung diantar, malah ke dapur dulu, kelaparan kamu ya?" ucap Shafira.
"Ehhh, kamu diam aja deh! jangan-jangan, kamu ya, yang udah ngerjain Maudy?" bentak Diana.
"Udah-udah, Na. Biarin aja." Menahan Diana agar tak bertengkar dengan Shafira.
"Jadi gimana, Dy?" tanya Diana.
"Aku disuruh salin lagi semuanya, Na, harus siap sebelum besok pagi."
"Tapi, besok kan weekend, Dy."
"Iya, Na. Tapi besok kak bunga mau ketemu klien."
"Yaudah, ayo aku bantuin."
Lembar demi lembar sudah berhasil diselesaikan oleh mereka. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Keheningan sangat terasa, situasi terasa sangat menegangkan.
"Na, maafin aku ya, karena aku, kamu ikutan di posisi ini" ucap Maudy.
"Amann, Dy. Kita kan bestie, udah ... jangan sungkan. Duhh laper nih,"
"Sama, Dy. Kamu mau makan apa? Biar aku traktir."
"Apa aja deh, Dy," ucap Diana.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki, suara itu terdengar semakin dekat, begitu menakutkan. Maudy dan Diana saling menatap satu sama lain dengan tatapan takut, lalu terlihat bayangan besar dari sela-sela pintu, bayangannya semakin dekat dan dekat ke ruangan mereka *Tok-tok-tok* *Kreeeeeekk* Pintu terbuka.