Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 23


__ADS_3

"Huuuhh, hampir saja ... ya Allah, ini jantung kenapa berdebar gini ya" gumam Maudy dalam hati. Sambil memegangi dadanya dan memancarkan aura bahagia di wajahnya.


Terlihat seseorang berjalan mendekat ke arah Maudy. "Udah ku duga, pasti disini, pinter, temennya ditinggalin dibawah dia malah asik-asik kesini, dari tadi dicariin juga. Gak berubah-berubah ya lu dy, heran gue" ucap Diana.


Maudy menutup mulut Diana. "Ssttt, jangan keras-keras. Ntar kedengaran sampe dalam" ucap Maudy. Lalu dia menarik Diana pergi dari depan ruangan Aditya.


"Udah-udah jangan tarik-tarik, pokoknya lu harus jelasin ke gue, kenapa bisa keluar dari ruangan Aditya!" tegas Diana.


"Iyaa, aman itu, tapi gak disini. Ntar di mess aku cerita ya. Sekarang kita siap-siap pulang dulu" ujar Maudy. "Eh, Shafira kemana ya, dari tadi gak kelihatan?."


"Udah biarin aja, dia kan udah gede" ucap Diana


***


Seperti biasanya Maudy dan Diana pulang ke mess dengan berjalan kaki, karena selain jaraknya yang tidak terlalu jauh, juga bisa berhemat. Maklum ... mahasiswa. Di pertengahan jalan mereka dihampiri oleh sebuah kendaraan, yang memang sudah tak asing lagi. Yakk, itu adalah mobil yang biasanya di bawa oleh Ken, dan tentunya bersama Aditya didalamnya.


*Piiimmm ... piimmm* Maudy dan Diana pun berhenti sejenak, terlihat seseorang lelaki ber-jas hitam keluar dari mobil itu. Ya ... siapa lagi kalau bukan Aditya, yang dikenal CEO serigala itu. Lalu Aditya mendekati mereka, Maudy dan Diana pun hanya bengong sambil melihat Aditya berjalan ke arah mereka.


"Ambil ini" Sambil memberikan kantong kecil berisi biji kopi didalamnya.


Maudy mengerutkan keningnya, dengan perasaan bingung dia mengambil kantong itu dari tangan Aditya "Ee-e ... Apa ini?" tanya Maudy.


"Robusta." Aditya langsung meninggalkan Maudy dan Diana, dia kembali masuk kedalam mobil.


Diana merasa sangat bingung, melihat sikap Aditya dan Maudy. Dia merasa semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi. "Apaan tu dy? Sumpah ya, aku bingung, tu orang sakit gigi, atau udah bawaan orok, ngomongnya hemat banget" ucap Diana.


"Hemm, ada-ada aja lu na, ini biji kopi robusta na, udah ah ayo jalan lagi" ujar Maudy.


Mereka melanjutkan perjalannya. Sesampainya di mess mereka melihat Shafira, yang juga baru sampai mess, dia diantar oleh seseorang menggunakan mobil. Dengan wajah songong, Shafira langsung memalingkan wajahnya dari Maudy dan Diana, lalu dia membuka pintu dan masuk kedalam, disusul oleh Maudy dan Diana.


"Diantar siapa tadi lu ra? tanya Diana.


"Ih, kenapa sih, lu kepo amat. Iri yaa?" jawab Shafira.


Karena tak ingin menghabiskan energi untuk berdebat, Diana memilih diam, tak melanjutkan pembicaraannya dengan Shafira. "Mending gue mandi deh, daripada jawab pertanyaan lu" ucap Diana.


"Ga bisa, ga bisa, aku duluan yang mandi." Shafira menyerobot masuk kedalam kamar mandi.


Diana semakin kesal dengan tingkah Shafira yang sok-sokan dan semena-mena, lalu dia reflek memukul pintu kamar mandi melampiaskan kekesalannya.


"Ehh, naa, sabar na, udah jangan emosi" ucap Maudy.


"Kesel gue dy!" jawab Diana. "Oh ya dy, tadi lu mau cerita kan?."


"Hemm, sebenarnya gak gimana-gimana sih na, tadi itu aku ke atas, ya pengen jalan-jalan aja sih. Terus Aditya lihat aku didepan ruangannya. Terus dia panggil aku kedalam, nah didalem ruangan sudah ada beberapa sampel biji kopi, lalu aku disuruh milih mana aroma yang paling aku suka. Nah yang tadi dikasih dijalan itu, itu adalah biji kopi yang aku pilih tadi, gitu doang ceritanya" ujar Maudy.


"Hmm, jadi gitu, tapi ya dy, dari sekian panjang cerita lu, ada satu yang gue gak percaya." Sambil menatap Maudy dengan tajam.


"Ihh apaan, bener semuanya, gak mungkin aku bohongin kamu, apa faedahnya" jawab Maudy.

__ADS_1


"Ada kok, satu bagian yang lu bohong, yakin gue. Ini nih ya, bagian yang lu ke depan ruangan aditya cuma mau jalan-jalan aja. Hahahaha. gak yakin gue sih. pasti sengaja kan, ngintipin aditya kan lu, hahaha" ujar Diana.


Mendengar ucapan Diana, Maudy pun tak berkutik, dia hanya tersenyum kepada Diana.


"Tuh, tuh, senyum lu, benar kan gue. Oh ya satu lagi, lu ngerasa gak sih kejadian tadi pagi itu kayak kebetulan banget" tanya Diana.


"Yang mana na?" tanya Maudy.


"Itu, pas gue pergi bareng shafira, terus tiba-tiba gak jadi. Terus pas banget sama kejadian lu disuruh kak Bunga beli kopi. Kok bisa pas banget gitu, gue ngerasa kayak semuanya udah direncanain" ujar Diana.


"Ahh, jangan suudzon na. Gak mungkinlah, emang kebetulan aja kali" ucap Maudy.


Tanpa disadari, ternyata dari dalam kamar mandi, Shafira menguping pembicaraan Maudy dan Diana. "Hmm, gue harus cari tau, apa yang dikasih Aditya sama Maudy" gumam Shafira dalam hatinya.


Setelah Shafira keluar dari kamar mandi, Diana dan Maudy bergantian menggunakan kamar mandi. Setelah itu mereka melanjutkan kegiatannya masing-masing.


"Eh, ra, tadi kata Ken besok kita bakal diajak ke kebun kopi di tungkal. Lu udah tau gak?" tanya Maudy.


"Hah? ke kebun? yang bener?" Shafira histeris.


"Ahh lebay banget" ucap Diana.


"Lebay, lebay, lu tau gak, perawatan kulit ku ini mahal, dikebun pasti panas" ucap Shafira.


"Duhhh, berisik banget. Dy, temenin jalan keluar yuk, sekalian cari makan" ujar Diana.


Maudy pun menyetujui ajakan Diana. Setelah magrib mereka langsung pergi berjalan menyusuri jalanan, menikmati udara segar diluar rumah, sambil mencari makan. Setelah Maudy dan Diana keluar rumah, Shafira mulai beraksi membongkar barang-barang Maudy, untuk mencari tau apa yang diberikan oleh Aditya padanya.


Tak lama kemudian handphone Shafira berdering. "Halo" ucap Shafira.


"Coba jelaskan apa maksud foto yang kamu kirim itu?" tanya Bunga.


[Shafira pun menjelaskan kronologinya kepada Bunga]


"Hmm, sialan, lihat aja apa yang akan saya lakukan. Apa benar besok anak magang akan diajak ken ke kebun?" tanya Bunga.


"Benar kak" jawab Shafira.


"Baiklah, saya punya sebuah rencana. Tapi saya butuh bantuan kamu" ujar Bunga.


"Apa yang bisa saya lakukan kak?" ucap Shafira.


Bunga menjelaskan, rencana yang telah dibuatnya pada Shafira. Tak lama kemudian terdengar ketukan di pintu, Shafira panik, dia segera mematikan telpon dan merapikan kembali barang-barang yang sudah di bongkarnya, meletakkan ke tempat semula, agar Maudy dan Diana tak curiga.


Setelah membereskan barang-barang tersebut, Shafira segera membuka pintu. "Lah, kalian, kenapa cepet banget pulang" tanya Shafira.


"Kepo banget sih lu, kenapa tu muka panik banget?" ucap Diana.


"Apaan sih biasa aja" jawab Shafira.

__ADS_1


"Udah-udah ahh, berantem mulu, dompet ku ketinggalan ra, makanya kita cepet pulang" ucap Maudy.


Maudy pun masuk, untuk mencari dompetnya. Dia kelihatan panik, karena tak menemukan dompetnya didalam tas.


"Kenapa dy? tanya Diana.


"Dompet gue hilang dy, perasaan tadi di dalam tas, tapi gak ada" ujar Maudy.


"Coba cari lagi, salah letak mungkin dy, lu kan pelupa" ucap Diana.


"Mampus, aku tarok mana tadi ya dompetnya" gumam Shafira dalam hati. Karena takur aksinya diketahui akhirnya shafira ikut membantu Maudy mencari dompetnya.


"Ini dompet lu bukan?" ucap Shafira. Sambil memegang dompet Maudy.


"Iya, ketemu dimana?" jawab Maudy.


"Duh, gak penting banget, yang penting kan udah ketemu, makanya jangan tarok sembarangan" ujar Shafira.


Maudy merasa curiga, karena seingatnya, dia tak pernah mengeluarkan dompetnya dari dalam tas. Tapi Maudy tak ingin terjadi kesalah pahaman jadi dia tak membahasnya.


"Makasih ya ra." Sambil mengambil dompetnya dari Shafira.


"Coba di cek dulu isinya, ntar lu nuduh gue macem-macem lagi!" ujar Shafira.


"Gak perlu lah, makasih ya" ucap Maudy.


" Jadi gimana dy, kita pergi lagi cari makan?" tanya Diana.


Sambil melihat jam di layar hanpdhonenya. "Hmmm, udah malem banget na. Kita pesan makan pakai ojek online aja yuk, aku yang traktir" ucap Maudy.


*Tok-tok-tok* tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Maudy, Diana , dan Shafira pun saling menatap, mereka bingung, siapa yang datang ke mess mereka malam-malam.


"Hmm, dy, lu belum mesan makanannya kan?" tanya Diana.


"Belum" jawab Maudy.


"Jadi itu siapa? Ih, serem, merinding gue, kalian aja yang buka" ucap Shafira.


Maudy dan Diana pun memberanikan diri mereka, untuk membuka pintu. "Ehh, luu Ken. Lain kali kalau mau datang bilang dong, atau panggil gitu, dari tadi ngetok aja, serem tau!" ujar Diana. Sambil menghela nafas lega.


"Ada apa Ken malam-malam kesini?" tanya Maudy.


"Maaf ya, hehe. Gak nyangka bakal takut gitu. Oh ya, jadi aku kesini mau nganterin berkas untuk diisi, besok dibawa ya. Sama ini, tadi kebetulan lagi makan pecel lele, jadi bungkusin sekalian untuk kalian. Hmm, satu lagi, besok tunggu di mess aja, gak usah ke kantor, pagi-pagi jam 7 udah stay ya, ntar gue jemput" ujar Ken.


"Wah, rezeki anak sholeh emang ya, kebetulan kita lagi laper banget nih, sering-sering aja Ken" ucap Diana.


"Ya bagus deh, selamat menikmati ya. Aku pamit dulu udah malem. Sampai bertemu besok" ujar Ken.


***

__ADS_1


Hai pembaca, terimakasih ya sudah support selalu. Anda adalah alasan saya terus menulis 😊. Please always support me, like, comment, favorite, and vote 🥰.


__ADS_2