
Maudy dan Diana menghembuskan nafas lega, ternyata langkah kaki yang didengarnya tadi adalah langkah kaki Rey.
"Hey, ada apa? Kenapa lihatnya gitu banget?" ucap Rey, heran.
"Hampir copot jantung aku Rey, kita kira siapa yang datang," ujar Diana.
"Emang siapa? Jadi kehadiran aku gak di harapkan nih?" tanya Rey.
"Eee, eenggak, bukan gitu Rey. Kita kira ada orang jahat yang datang," tegas Maudy.
"Aku dari tadi nungguin kalian di depan mess, tapi gak datang-datang, dihubungi juga pada gak bales, jadi aku nekat deh gedor-gedor, khawatir ada apa-apa. Terus ada seorang wanita, membukakan pintu dan memberitahukan kalian ada di kantor. Jadi buru-buru deh, aku kesini. Nih aku bawakin makanan, pasti laper kan." Sambil mengangkat makanan bawaannya.
"Wiiiihh, kebetulan banget, aku laper nih. Maudy dapat jatah juga? Kan diet, hahahaha" ucap Diana.
"Ya dapet dong, diet bukan berarti gak makan juga kali, Na. Malam ini aku izinkan Maudy makan berat. Karena udah kerja keras, takutnya dia sakit" ujar Rey.
Tanpa mereka sadari, Aditya berdiri di depan ruangan, dia juga membawakan makanan untuk Maudy dan Diana. Aditya benar-benar hanya terlambat beberapa langkah. Dia merasa semakin cemburu melihat kedekatan mereka. Apalagi sikap Rey, yang begitu perhatian terhadap Maudy.
Maudy merasa seperti ada yang memperhatikan mereka, lalu dia melihat kesekelilingnya. Menyadari hal itu Aditya bergegas sembunyi dan pergi. Tapi bayang-bayangnya masih terlihat jelas oleh pantulan lampu. "Hemm, bukankan itu Aditya" gumam Maudy dalam hati. Dia melamun, dan terus melihat ke depan pintu.
"Eh, Dy. Liatin apa kamu?." Menoleh ke arah yang sama dengan Maudy.
"Ee, eee, enggak ada, Na. Ayo makan" ucap Maudy.
Setelah makan, mereka melanjutkan pekerjaannya ditemani oleh Rey. Tak sengaja Diana melihat, tatapan Rey kepada Maudy. Tatapannya tak seperti melihat seorang teman, atau seorang klien, tapi tatapan yang berbeda, yang lebih dalam dari itu.
"Eh, Na. Kok bengong sih?" tanya Maudy.
"Ee,eee, ee, nggak kok. Gimana, udah beres?" tanya Diana.
"Udah, yang kamu udah?" ucap Maudy.
"Udah juga, Dy. Uuuhhh, akhirnya kita bisa pulang" ucap Diana. Sambil meregangkan badannya.
__ADS_1
"Aku antar ya, aku khawatir kalian kenapa-kenapa," Ujar Rey.
"Terimakasih, Rey."
Sesampainya di depan mess. "Eh, dy, besok kita latihannya sambil jalan-jalan ya, biar gak bosan, besok pagi aku jemput. Kamu mau ikut, Na?" tanya Rey.
"Eee, enggak lah. Aku mau istirahat, lelah banget. Tapi next time ajakin jalan juga ya," ujar Diana.
Lalu mereka turun dari mobil Rey dan masuk kedalam Mess. Seperti biasa, mess tidak terkunci, karena Shafira tidak ada tidur di mess dan sengaja tidak menguncinya, karena Maudy dan Diana tak memegang kunci untuk masuk.
"Wahhh, bahaya nih, kalau gini, kita harus segera duplikat kunci" ucap Diana.
"Iya, Na."
Mereka masuk dan langsung membentangkan badannya di atas kasur. "Uuhh, kasur, i miss you. Eh, Dy. Kamu sadar gak, sikap Rey ke kamu itu beda loh, gak wajar gitu" ujar Diana.
"Beda gimana?" jawab Maudy
"Kayak ada sesuatu gitu, hemm, gimana ya definisiinnya. Pokoknya setiap dia melihat kamu itu, kayak dia lihat orang yang spesial, jangan-jangan, dia suka sama kamu, Dy" ujar Diana.
***
Keesokan paginya, Rey datang ke mess menjemput Maudy. Sambil membawakan sarapan dan minuman untuk Maudy. Rey membawa maudy ke kota baru, salah satu lokasi yang paling banyak dituju untuk olahraga di Jambi.
Sesampainya disana mereka berkeliling, berjalan santai sambil mengobrol saling berbagi cerita satu dan yang lain. Tak disangka pagi itu Aditya dan Ken juga sedang berolahraga pagi di tempat yang sama.
"Ken, stop, itu kayaknya Maudy ya?." Menunjuk ke arah wanita di depannya.
"Hemm, bisa jadi, Dit. Itu dia sama siapa ya?" tanya Ken.
Aditya termenung sejenak, dia merasa cemburu, melihat kedekatan Maudy dan Rey, dia tak rela melihat Maudy memberikan senyumannya pada orang lain. Lalu dia menarik tangan Ken, berlari lebih cepat agar bisa mendengar obrolan mereka. Saat Maudy dan Rey berlari, mereka juga berlari, saat Maudy dan Rey berjalan, mereka juga berjalan
Merasa dia sedang diikuti seseorang, lalu dia menoleh ke belakang. Dia melihat ada dua orang lelaki dibelakangnya, menggunakan pakaian sauna, masker dan kacamata. "Siapa ya mereka? kok dari perawakannya kayak kenal," gumam Maudy dalam hati.
__ADS_1
"Dy, ayo kita istirahat di tangga itu" ucap Rey. Maudy terkejut mendengar ucapan Ken. "Haa ... iya, iya ayo Rey."
Rey membuka kotak bekal yang telah dipersiapkannya untuk Maudy. Kejadian ini dilihat oleh Aditya dari kejauhan, Aditya merasa semakin cemburu dan memanas. "Eh, Dit, pulang yuk. Ngapain sih, malah jadi penguntit gini, ngintipin orang, dosa loh," ujar Ken. Aditya tak merespon ucapan Ken, dia menutup mulut ken dengan tangannya. "Sssssttt ...."
"Yaudah ayok kita samperin aja kali dit, gak perlu kayak gini" ujar Ken.
Aditya berbalik, menatap Ken. "Ken, kamu rese banget deh. Nanti kedengaran kamu ngomong terus" tegas Aditya.
Saat Aditya hendak membalikkan wajahnya lagi, dia terkejut, karena Maudy sudah berada tepat di hadapannya. "Hai Ken, hai Pak Aditya, kalian lagi ngapain?" tanya Maudy.
Wajah Aditya pucat dan mulai keringat dingin. "Ee-eee ... kamu ngapain?" Aditya balik bertanya.
"Saya olahraga pak," tegas Maudy.
"Yaa, sama, kami juga olahraga, ya kan, Ken" ujarnya. Sambil melakukan melakukan beberapa gerakan kecil. "Yaudah, ayok ken, kita joging lagi" ucap Aditya.
***
Setelah lari pagi, Maudy diajak Rey pergi ke Gym miliknya. "Ini punya kamu Rey?" ujar Maudy. Sambil melihat ke sekelilingnya.
"Iyaa, kamu bisa datang kesini tiap hari, kalau kamu mau" ucap Rey.
"Terimakasih Rey" ujar Maudy.
Rey menghidupkan salah satu mesin treadmil didepannya. " Mau coba?" tanya nya.
Maudy mendekati Rey dan mencoba menggunakan treadmil, dia terlihat kaku. "Apakah ini pertama kalinya?" tanya Rey. "Iya, Rey. Sebelumnya, aku gak pernah datang ke tempat gym, apalagi nyobain alat-alatnya" ucap Maudy. Rey hanya membalas senyuman dan mengajari Maudy dengan telaten.
Maudy pun berlari di atas treadmil dengan semangat. Tak berapa lama kemudian, Maudy merasa kelelahan, kakinya tak sanggup lagi melangkah. *Brakkk* Maudy terjatuh dari treadmil.
"Maudy!" teriak Rey, panik. Lalu rey membantu Maudy untuk bangkit. "Ada yang luka? mana yang sakit?" teriak Rey, panik.
Lalu Rey, membantu Maudy untuk duduk di bangku, dia berlutut di depannya, sambil mengurut pergelangan tangan Maudy yang terkilir.
__ADS_1
Maudy memandangi wajah Rey, dia terlihat sangat panik dan ketakutan, melihat kondisi Maudy. "Hmm, apakah yang dikatakan Diana benar?" pikirnya.