
Diana memperhatikan Maudy dari kejauhan, dia merasa iba dengan sahabatnya itu, yang sering sekali diperlakukan tak menyenangkan oleh orang-orang. "Hemm, kasihan banget sih kamu,Dy. Sebagai sahabat, aku hanya bisa support kamu. Tapi kalau dipikir jalan hidup kamu kok ribet banget ya, heran gue, apalagi kisah percintaan yang begitu rumit, kalau dibuat novel mungkin bisa ratusan episode nih. Belum lagi kisah diet yang gak kelar-kelar. Maudy-maudy, tapi aku yakin kamu kuat jalani nya" gumam Diana dalam hati. Lalu dia pun tertidur.
***
Aditya mengambil handphonenya dan menghubungi Ken. "Assalamualaikum, bro Ken disini, ada apa bro nelpon malem-malem?" tanya Ken.
"Waalaikumussalam, tumben lu pake salam segala, kesambet ya" ujar Aditya.
"Hahaha kayaknya sih, ada apa ni bro? Jangan bilang mau nyusahin gue lagi ya" ucap Ken.
"Ah, lu tau aja, pinter banget sih, emang gak salah ya gue pilih lu."
"Hemm, sudah ku duga, udah-udah jangan banyak basa basi" ucap Ken, sambil bercanda.
"Duhh, gimana ya ngomongnya, takut nyusahin" ucap Aditya.
"Biasanya juga nyusahin" ujar Ken. Mereka pun tertawa.
"Besok jam 7, tolong jemput Maudy di mess ya bro" kata Aditya.
"Gak sekalian jam 6 aja?."
"Haha, pokoknya tolong ya, terus anterin ke rumah gue. Gak usah banyak tanya, besok diceritain" Ucap Aditya. Lalu Aditya mematikan teleponnya.
"Kebiasaan ni orang, belum selesai ngomong udah dimatiin" ucap Ken. Ngedumel.
__ADS_1
***
Alaram di handphone Maudy berdering, dia pun segera membuka mata, mencari letak hpnya dan mematikan alaram tersebut. Maudy bangun dari tidurnya, lalu dia sholat, mandi dan bersiap-siap.
"Semangat Maudy, pokoknya, aku gak boleh buat kesalahan lagi" ujarnya.
Tak lama kemudian Diana terbangun dari tidurnya, dia melihat Maudy yang nyaris sudah sangat rapi. Lalu dia melihat ke arah jam dinding. "Eh busseet, baru jam 6 udah rapi aja, Dy" ucap Diana.
"Iya, Na. Sebenarnya ....[Maudy menceritakan kejadian kemarin, terkait kesepakatannya dengan Aditya]."
"Wahh, gak bisa gitu dong, Dy. Lagian kamu, mau aja sih! Lemah banget" ucap Diana kesal.
Maudy tak menjawab perkataan Diana, wajahnya memelas. "Eh, maaf-maaf, Dy. Aku salah ngomong ya? Hmm, pokoknya, kalau kamu butuh bantuan hubungi aku ya." Maudy mengangguk, merespon perkataan Diana. Mereka pun berpelukan.
Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu. Maudy segera membuka pintu, ternyata orang dibalik pintu itu adalah Rey.
"Iya sih, tapi kan aku juga udah bilang kalau pagi ini mau nganterin kamu" jawab Rey.
"Tapi, ini masih jam--."
"Udah-udah, kamu udah siap kan? Yuk aku anterin" ucap Rey.
"I-iya sih" Ujar Maudy. Lalu dia mengambil tasnya dan berpamitan dengan Diana.
Mereka pun masuk ke mobil Rey. "Maudy, kamu belum sarapan kan. Ini aku udah buatin oatmeal banana, dimakan ya." Memberikan kotak makanan pada Maudy.
__ADS_1
"Terimakasih Rey." Maudy mengambil kotak itu dari tangan Rey.
"Maudy, walau gak olahraga, kamu harus tetap atur pola makan dan jumlah kalori. Karena sebenarnya kunci diet itu ya defisit kalori. Ayo, dimakan." Sambil tersenyum memandang wajah Maudy. "Oh iya, ini jalannya kemana ya?."
Maudy mengeluarkan handphonenya dan membuka google maps, menuju rumah Aditya. "Kita ikutin ini ya Rey" ucapnya.
"Rey, bolehkah aku bertanya padamu?" ucap Maudy.
"Tanya saja, Dy."
"Kenapa kamu begitu baik padaku? Melebihi seorang coach" tanyanya dengan ragu.
Mendengar pertanyaan Maudy, Rey terdiam tanpa kata. Dia fokus melanjutkan perjalanan, siatuasi menjadi sedikit canggung. Maudy mengutuk dirinya, karena telah bertanya pertanyaan yang konyol, dia hanya tertunduk sepanjang jalan sambil perlahan menghabiskan makanannya.
"Yaap, sampai. Sepertinya ini rumah Aditya" ucap Rey. Maudy tak merespon, karena dia masih merasa canggung. Lalu Rey memutar badannya menghadap Maudy, dia mencoba mencairkan situasi. "Wah, pinter, sarapannya habis. Enak atau doyan?" ucap Rey.
"Hahahaha, bisa aja kamu Rey. Makasih ya, yaudah aku turun dulu" jawab Maudy.
Maudy pun turun dari mobil, dan Rey melepasnya dengan wajah tersenyum. Tak lama kemudian, wajah Rey berubah menjadi murung, dia terbayang kembali pertanyaan Maudy yang tak mampu di jawabnya.
***
Maudy menghubungi Aditya, memberitahukan bahwa dia sudah sampai di depan rumahnya. Lalu, tiba-tiba pintu terbuka, terlihat seorang wanita cantik dengan paras yang menawan membuka pintu.
"Ini rumah Pak Aditya?" tanya Maudy.
__ADS_1
"Betul, ada yang bisa dibantu?" ujar wanita itu.
Hatinya kembali bergemuruh, rasanya dunia ini runtuh. "Siapa sebenarnya wanita ini?" gumam Maudy dalam hati.