Si Gendut Kesayangan CEO

Si Gendut Kesayangan CEO
EPS. 41


__ADS_3

Mereka pun bergegas menuju parkiran, tak sengaja Shafira melihat kepergian mereka. "Hmm, pokoknya ini gak bisa dibiarin, aku harus kasih tau kak Bunga!" Saat Shafira hendak berbalik arah dia dikejutkan dengan keberadaan Ken didepannya.


"Jadi ini kerjaan kamu? Ngintipin kegiatan orang lain. Kenapa? masih kurang kerjaan kamu?" tanya Ken.


"Ee-ee, siapa yang ngintipin orang lain, suudzon kamu ya. Yaudah aku mau kerja lagi." Sambil berjalan cepat meninggalkan Ken.


"Shafira." Panggilnya. Langkah Shafira berhenti dan menoleh ke arah Ken.


"Ada apa lagi?" tanya Shafira.


"Berkas yang ketumpahan air, jangan kamu kira aku gak tau ulah siapa. Kalau sampai hal ini terjadi lagi, kamu akan tau akibatnya. Ingat, aku selalu mengawasimu" Lalu Ken tersenyum sinis dan meninggalkan Shafira.


Shafira terkejut mendengar ucapan Ken, matanya membelalak dan wajahnya menjadi pucat karena ketakutan, tubuhnya terdiam kaku.


"Hahhh, bagaimana mungkin dia bisa tau" gumam Shafira dalam hati.


***


"Pak, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Maudy.


Aditya tidak menanggapi pertanyaan Maudy dan tetap bersikap dingin.


"Ahh, kayak ngomong sama batu aja sih, yaudah awas aja kalau ajak aku ngomong, gak bakal aku jawab!" gumamnya dalam hati. Menunjukkan ekspresi wajah sebel dengan bibir manyun.


Tak lama kemudian Maudy tertidur, Aditya menatap Maudy dengan perasaan bahagia. "Maudy, aku mencintaimu" ucapnya. Sambil menyentuh pipi tembem Maudy. Tiba-tiba Maudy bergerak merubah posisi tidurnya, Aditya terkejut, segera menjauhkan tangannya dari wajah Maudy dan meletakkannya kembali di stir, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Setelah beberapa jam, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan, Aditya pun membangunkan Maudy. "Heyy, bangun!" teriaknya. Sontak Maudy terbangun dan membuka mata. "Haa, kita dimana Dit, eh Pak." Setengah sadar. "Hemm, ganggu aja sih pak, padahal aku lagi mimpi indah, ada seorang pangeran menyatakan cinta padaku, hehehe."


"Ngigau, udah ayo keluar."

__ADS_1


"Tapi, rasanya kayak nyata banget" ujar Maudy. Maudy melihat sekelilingnya, dia merasa tak asing dengan tempat ini. "Haaaa, kita di tungkal pak?."


"Iya, jangan banyak tanya" tegas Aditya.


"Dasar psikopat, nanya aja gak boleh. Ehh, aku lupa, tadi kan aku udah janji buat gak jawab pertanyaannya. Liat aja, aku bakal cuekin balik" gumam Maudy dalam hati.


Maudy mengikuti Aditya, masuk ke kantor. Karyawan kantor terlihat panik melihat kedatangan Aditya yang dadakan. Kepala cabang kantor tersebut menemui Aditya dan mempersilahkan mereka untuk duduk terlebih dahulu.


"Maaf pak, saya tidak tau kalau bapak mau datang, jadi belum ada persiapan apa-apa" ucap kepala cabang itu.


"Tak masalah, saya kebetulan lewat jadi sekalian mampir."


"Oh, begitu. Oh ya, bapak mau minum apa?."


"Tak usah repot-repot, saya hanya sebentar" ujar Aditya.


Setelah mengecek beberapa berkas dan laporan, Aditya berpamitan dan pergi untuk melanjutkan perjalanannya ke Kota. Kantor Aditya di tungkal terletak di desa pembengis, dimana lokasinya sangat dekat dengan pusat Kota Tungkal.


"Heh, ini saatnya balas dendam, gak akan aku jawab deh pertanyaan ni orang pokoknya" gumam Maudy dalam hati.


"Hey, Maudy? Gak dengar saya ngomong?" tanya Aditya.


Maudy masih tak merespon ucapan Aditya.


"Ok, kalau kamu masih ga mau jawab, nilai magang kamu--"


Maudy memotong ucapan Aditya. "Eee, dengar pak denger kok. Tadi bapak nanya apa? Makan ya? eee iya pak saya laper banget nih, udah demo cacing di perut" ujar Maudy


"Dasar ni orang, bedebah banget, ancamannya nilai 😭" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


Aditya membuang muka dari hadapan Maudy, dia tersenyum kecil melihat tingkah lucu Maudy. Lalu dia melanjutkan perjalanan ke suatu tempat yang selalu didatanginya saat merasa hati dan pikirannya gelisah. Water front city, yang berlokasi ditengah kota dan dipinggir laut kota tungkal.


Akhirnya mereka sampai di lokasi. "Waaaaahhh, indah banget" ucap Maudy.


"Kamu suka tempat ini?" tanya Aditya.


"Sangat suka, pemandangannya sangat luas, awannya terasa dekat banyak burung beterbangan, banyak kapal berlalu lalang, sangat menenangkan, kalau lagi banyak masalah cocok banget datang kesini" ujar Maudy.


"Kenapa? kamu mau lompat?" tanya Aditya.


"Hemmm, gak gitu pak."


"Yasudah, kamu pilih tempat duduk, saya pesan makanan" tegas Aditya.


Aditya memandangi Maudy dari kejauhan, dia merasa sangat bahagia, dia emang sering datang ke sini saat banyak masalah untuk menenangkan diri, tapi kehadiran maudy, apalagi senyumannya lebih ampuh dari semuanya.


Setelah memesan makanan Aditya menemui Maudy yang sudah duduk di salah satu spot terbaik tempat ini.


"Pinter juga kamu pilih tempat" ucap Aditya.


Tiba-tiba ada seorang lelaki mendatangi mereka, dia adalah photographer keliling yang bekerja disana. "Permisi mas, mb. Mau foto gak?" ujar lelaki itu.


"Tidak" ucap Ken. Lelaki itupun mengangguk dan perlahan pergi.


"Ee, mas, mas, saya mau dong" panggil Maudy.


Maudy berdiri di samping tiang pembatas sambil menunjukkan senyum terbaiknya. "Ok, siap ya mb, 1 ... 2 ... "


"Tunggu." Lalu Aditya berdiri disamping Maudy. "Silahkan foto."

__ADS_1


Perasaan Maudy tak karuan, dia tak pernah menyangka bakal bisa berfoto berdua saja dengan Aditya, senyum sumringah terlihat di wajahnya.


*Cekrek*


__ADS_2