
Walau dengan perasaan kecewa, Maudy tetap berusaha tegar, menerima kenyataan yang ada di depan matanya. Dia berjalan perlahan mendekati Aditya, berusaha menutup luka di hatinya, dengan senyuman di wajahnya.
"Hmm, selamat ya," ucapnya. Sambil mengulurkan tangannya.
Aditya mengulurkan tangannya, dan menjabat tangan Maudy. "Terimakasih" ujarnya.
Lalu, Maudy berpamitan dengan Aditya dan wanita disebelahnya. Maudy mulai melangkah, pergi meninggalkan Aditya dan Selly. Semenjak saat itu, Maudy tak pernah lagi muncul di dalam kehidupan Aditya.
Sekalipun berpapasan dijalan, mereka bersikap seperti tidak saling mengenal satu dan lain. Walau sebenarnya sangat sulit bagi mereka untuk melupakan hal-hal yang pernah terjadi,apalagi mengubur dalam rasa cinta yang ada dihati.
***
Sekarang Maudy fokus untuk menempuh pendidikan dengan baik, mulai berdamai dengan keadaan, mencari berbagai kesibukan untuk mengisi waktu luang, sehingga tak ada jeda memikirkan Aditya.
Waktu luang yang dulu selalu dimanfaatkan untuk datang ke kedai kopi, sekarang Maudy gunakan untuk hal yang lebih produktif, datang ke perpustakaan untuk membaca buku, atau pun sekedar bersantai bersama teman, selain itu kini dia juga aktif dalam organisasi kampus, dan mengajar private pada sore atau malam hari.
__ADS_1
"Dy, aku seneng banget dengan perubahan kamu sekarang. Kamu gak sedih-sedih lagi, gak galau-galau lagi, tapi, apa harus, lo nyiksa diri kayak gini? Badan lo ini, butuh jeda, butuh istirahat" ucap Diana. Sambil memegang pundak sahabatnya.
"Aku gak apa-apa kok, Na" jawabnya.
***
Disisi lain Aditya juga melakukan hal yang sama, dia fokus menjalani kehidupan dengan baik, bekerja keras dengan sungguh-sungguh, untuk meraih mimpi-mimpinya. Bermodal hadiah uang kemanangan saat mengikuti lomba coffea art dan bakat yang dimilikinya. Dengan ambisinya yang sekuat baja, aditya mulai menyusun rencana untuk memperbesar usaha kedainya. Mulai dari menambahkan menu baru, seperti coffe art di salah satu list menu, yang kini menjadi penjualan yang paling best seller. Selain itu, Aditya juga merekrut karyawan baru.
Kini Aditya tak perlu ke kedai untuk bekerja lagi, karena sudah ada karyawan yang menghandle semuanya, tapi Aditya tetap sering mengunjungi kedai untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Profit kedai kopi milik Aditya juga semakin meningkat, berkat marketing bisnis dan kualitas makanan/minuman yang selalu terjaga. Pelanggan baru pun juga terus berdatangan ke kedai kopinya.
Aditya juga mengeluarkan produk-produk lain yang berhubungan dengan kopi, seperti parfum mobil, masker wajah kopi, lulur kopi, kopi kemasan, handbody, dll. Fantastic-nya semua produk yang Aditya tawarkan laku keras dipasaran. Kini Aditya tak hanya sekedar pemilik kedai kopi biasa, sekarang dia lebih dikenal dengan CEO Srigala. Julukan yang diberikan oleh para karyawan dan partner bisnis nya, karena karakter Aditya yang sangat dingin, perfectionis, tegas, dan pemarah. Tetapi dibalik itu semua dia tetaplah Aditya yang dulu, ramah, baik hati dan penyayang.
***
Semua mahasiswa berdesakan di depan mading, melihat pembagian tempat magang yang akan dimulai minggu depan. Satu persatu mereka pergi meninggalkan mading, ada yang pergi dengan wajah ceria dan adapula yang malah frustasi, melihat lokasi yang akan menjadi tempat mereka magang.
__ADS_1
"Eeh, Maudy sini, malah bengong" ucap Diana. Memanggil Maudy ke mading.
Maudy berjalan menghampiri Diana. "Lo dapet lokasi dimana? kita satu lokasi kan?"
"Beda lokasi dy, hmmmm, sedih deh gue, gak ketemu sobat ndutku selama 3 bulan. Gue di Bandung di PT. Sukses Bersama. Nama kamu mana ya, hmmm ...," ucapnya sambil mencari nama Maudy.
"Nah ketemu, lo dapet di Jambi dy, di PT. Putra Jambi" ucp Diana.
"Baru denger gue" jawab Maudy
"Iya ini Perusahaan baru, baru merintis sekitar 2 tahun belakangan ini. Tapi prestasinya keren banget, omsetnya gak kalah dari perusahaan-perusahaan besar lainnya. Denger-denger CEO nya masih singgle tapi--" ucapan diana terpotong oleh Maudy.
"Tapi apa?" tanyanya.
"Dikenal sebagai CEO srigala" dengan nada menyeramkan.
__ADS_1