
Aditya menatap wajah Maudy dengan pandangan yang dalam, lalu dia mendekatkan wajahnya, sangat dekat, pada maudy. Wajah Maudy yang tadinya sumringah berubah menjadi sangat kaku dan memerah. "Ah, apa ini, apa dia ingin menciumku?" gumamnya dalam hati. Sambil memejamkan kedua matanya.
"Gak usah ge er, aku hanya mau mengambil serangga di rambutmu" bisik Aditya. Sambil mengambil serangga yang menempel dirambut Maudy.
"Haduuhhhh, mampus, ge er banget sih aku, sadar Maudy, mikir apaan sih, mau tarok dimana lagi ni muka" ujarnya dalam hati.
"Fotonya mau dicetak berapa?" tanya photograper.
Maudy reflek melihat ke arah Aditya. "Apa? Aku gak menginginkan foto itu."
"Eemm, satu saja bang" jawab Maudy. Photograper itupun memberikan cetakan fotonya kepada Maudy, lalu dia pergi.
"Duhh, makanannya lama banget sih. Kamu disini aja, aku mau cek ke penjualnya dulu" ucap Aditya.
Maudy mengangguk sambil asik melihat cetakan foto di tangannya.
Alih-alih mendatangi stand makanan, Aditya malah mengejar kang photo, untuk meminta fotonya bersama Maudy tadi, tak hanya meminta fotonya saja, tapi, Aditya membeli sekaligus dengan kameranya. Dengan heran, photographer menyetujui permintaan Aditya, karena dia bersedia membayar dengan harga yang super fantastic.
***
Tak lama kemudian ada seorang wanita menghampiri Maudy. "Permisi kak, ini pesanannya" ujar waiters.
__ADS_1
Maudy heran, dalam hatinya bertanya-tanya. "Kenapa waitersnya udah disini, tapi, Aditya masih belum balik juga?"
Akhirnya di kejauhan Maudy melihat Aditya berjalan ke arahnya. Tubuhnya dipenuhi keringat, seperti orang yang habis berlari, nafasnya juga terengah - enggah.
"Hmm, dari mana pak?" tanya Maudy.
Aditya tak menanggapi, lalu dia segera menyantap makanan yang sudah tersedia. Setelah makan, mereka pun melanjutkan perjalanannya pulang ke Jambi. Karena kelelahan, Aditya menyewa supir untuk mengendarai mobilnya. Maudy dan Aditya sama-sama duduk dibangku belakang.
Karena sudah melewati hari yang panjang mereka tertidur, kepala Maudy tersender di bahu Aditya, menyadari hal itu Aditya terbangun, dia membuka mata dan memandangi wajah Maudy. Lalu bergumam dalam hati "Sebelumnya aku tak pernah merasa senyaman ini, bahagia hanyalah omong kosong sebelum aku mengenalmu. Kadang bahagia tak mesti diungkapkan, tak semua mengerti alasannya, mencintaimu misalnya."
Tak lama kemudian Maudy membuka matanya perlahan, menyadari hal itu, Aditya cepat-cepat menutup matanya, Maudy memandang wajah Aditya. Jarak yang sangat dekat, bahkan kini Maudy bersandar dipundak Aditya, hal yang tak pernah dibayangkannya, rasanya ini semua seperti mimpi, semua ini membuat jantungnya berdebar. "Kamu harus tahu bahwa aku sangat mencintaimu, dan hanya ada satu ketakutan dalam hidupku. Aku takut untuk kehilanganmu dan kamu pergi dalam hidupku" gumamnya dalam hati. Lalu Maudy kembali memejamkan mata, rasanya tak ingin moment ini segera berakhir.
Aditya tersenyum, seolah dia bisa membaca semua isi kepala Maudy. Dia membuka perlahan matanya, memastikan bahwa Maudy sudah tertidur. Lalu Aditya mengelus pipi Maudy dengan lembut, sambil berbisik pelan. "Aku mencintaimu, Maudy."
***
Sesampainya di mess, Aditya membangunkan Maudy, dia mengantar Maudy hingga ke depan pintu. Di depan, sudah terlihat Rey yang sejak tadi menunggu kepulangan Maudy, dia sangat mengkhawatirkan Maudy, yang tak kunjung memberikan kabar. Melihat Maudy pulang diantar Aditya hingga larut malam. Rey meradang, dia langsung menghajar Aditya dengan sekuat tenaga. Aditya tidak melawan serangan dari Rey, lalu Maudy segera melerai dan meyakinkan Rey bahwa dia baik-baik saja dan Maudy meminta maaf kepada Aditya, atas sikap Rey padanya. Tak ingin membuat kekacauan, Aditya pun pergi meninggalkan tempat itu.
"Rey! Kamu apa-apaan, aku gak suka ya!" ujar Maudy dengan nada tinggi.
"Maafkan aku Maudy, aku sangat mengkhawatirkanmu, sejak siang aku coba menghubungi tapi tak bisa" jawab Rey. Lalu Rey mengenggam kedua tangan Maudy dan memohon maaf padanya.
__ADS_1
Melihat sikap Rey yang tulus, Maudy pun meredam emosinya dan memaafkan Rey. Suasana berubah menjadi sangat serius, karena tatapan mata Rey yang berubah seketika, menjadi sangat serius.
"Maudy, aku mencintaimu."
Tiba-tiba Diana yang mendengar kegaduhan dari luar membuka pintu. "Ada apa nih ribut-ribut?"
Maudy Reflek melepaskan genggaman tangan Rey.
"Eee, Rey, sudah malam, sebaiknya kamu pulang" ujar Maudy.
"Baiklah, jaga dirimu baik-baik."
Diana yang tak mengerti keadaannya merasa kebingungan. Mereka segera masuk ke mess dan Rey pulang kerumahnya.
*Information
Assalamualaikum, maaf ya author jarang up 🤧. Kali ini alasannya karena author sedang menulis novel juga di pf lain. Rencananya awal desember baru update lagi, tapi terharu baca komenen sahabat setia author yang selalu menunggu update cerita ini. Terimakasih pembaca setia. Thanks for support.
Kaliam suport sistem author banget 🤗
With Love.
__ADS_1