SI KUTU BUKU

SI KUTU BUKU
Kedatangan Rasya di sekolah.


__ADS_3

Pukul 06.00 ...


Meja makan ...


Sang anak sudah mandi dan kini sudah bersiap-siap dengan seragam yang ia kenakan.


Sama dengan apa yang dilakukan oleh ibunya, Nyonya Heni juga menyediakan hidangan untuk sang putra sarapan.


"Duduk sayang, Ibu memasak sup sayur yang sangat lezat."


Sang ibu menyiapkan mangkok, sudah ada nasi serta sup sayur, lupa memberikan kerupuk udang dan sambal.


Sang ibu menyerahkannya kepada Gio untuk segera dimakan.


"Pagi-pagi makan sama sangat enak, apapun udah ibu masak selalu enak dan aku menyukainya."


Gio makan dengan lahap membuat ibunya sangat senang dengan perubahan seorang Gio.


Gio sepertinya terlalu bahagia ketika akan bertemu dengan ayahnya yang sudah bercerai dengan istri keduanya.


Dia tidak menyangka bisa menemukan momen seperti ini.


Meskipun tidak mengetahui fakta yang sebenarnya, Gio merasa bahwa sang ibu bisa memaafkan ayahnya.


"Aku tidak berharap Ibu kembali kepada ayah, setidaknya kalian berdua bisa menjadi teman seperti dulu," ucap Gio sambil menikmati sup sayur yang sangat lezat.


Sang Ibu tidak mengatakan sepatah kata pun karena dia teringat akan rasa sakit yang diberikan oleh mantan suaminya.

__ADS_1


"Ibu bukannya tidak mau bertemu dengan ayahmu, kita bisa saja bertemu tetapi hanya untuk satu kali saja, setelah itu jangan, kita berdua bisa dibenci oleh mantan istri yang baru saja diceraikan oleh ayahmu. Padahal kita tidak melakukan apapun."


Nyonya Heni sudah mewanti-wanti bahwa kehidupannya memang berada dalam garis kemiskinan tetapi tidak boleh patah semangat, masa lalu biarlah menjadi masa lalu dan kini dia hanya perlu membesarkan anaknya sampai mendapatkan masa depan yang cerah.


Sang Ibu meminta putranya untuk segera beranjak dari tempat duduknya, karena hari sudah cukup siang, untuk menunjukkan 06.40, saatnya sang putra untuk berangkat ke sekolah.


.


.


.


Di depan rumah ...


"Aku berangkat dulu Bu," ucap Gio.


Itu yang dikatakan Ibu setiap harinya.


"Ya, hati-hati di jalan, jangan ngebut dan tetap waspada."


"Oke."


Gio berangkat sekolah ditemani oleh beberapa orang yang merupakan penghuni kosan yang dekat rumahnya.


Kebetulan semua teman-temannya merupakan murid dari sekolah yang sama dengan Gio, hanya beda kelas aja.


"Gio, apakah kau tahu ada murid baru di sekolah kita?"

__ADS_1


"Siapa?"


"Namanya Rasya, dia pindahan dari sekolah lain yang sepertinya lebih elit, entah mengapa dia justru berada di tempat ini."


Gio teringat akan murid laki-laki yang beberapa hari lalu dia tolong, dia juga baru ingat jika Cleo pernah menyebut nama itu.


"Apakah Rasya yang ini merupakan Rasya yang sama?"


"Oh, jadi pengaruhnya apa untuk kita semua?"


"Dia memberikan banyak bantuan, dia akan menjadi penyumbang terbesar sekolah kita. Dia dari seorang ibu yang kaya raya, namun ada satu yang kurang baik, ayah dan ibunya mengalami perceraian."


"Oh begitu kah?"


Gio jadi merasa bahwa ada satu hal yang ingin di lakukan oleh Rasya.


"Pikiranku jadi buruk, Rasya pasti ada misi," batin Gio.


"Gio, kenapa kau tidak berkomentar sama sekali? mengajukan beberapa proposal untuk bantuan lomba mu besok, kau ikut lomba mata pelajaran kan?"


Gio bahkan lupa jika ada lomba MTK.


Dia selalu ditunjuk untuk mewakili kelasnya, ada olimpiade antar kelas.


"Hm, ini kan hanya antar kelas saja, tidak perlu mengajukan proposal."


*****

__ADS_1


__ADS_2