
Cleo dan Rasya terlihat pergi dari rumah Steve.
Kini Rasya yang duduk di depan, Cleo duduk di belakang.
"Kau bisa?" tanya Cleo ragu.
"Aku bisa," jawab Rasya.
Rasya sebenarnya menahan rasa sakit di kakinya, namun berusaha keras untuk tetap diam.
Bagaimana mau terlihat kuat jika terserempet saja sudah banyak mengeluh.
"Ah yang bener, aku melihat raut wajahmu yang kesakitan. Kau jangan berbohong kepadaku karena aku sudah mengenalmu cukup lama," cetus sang gadis.
Dia teringat akan masa yang dulu, Rasya memang tidak bisa menahan rasa sakit. Entah karena dia seorang laki-laki manja atau apa.
Namun yang pasti, Rasya tak bisa untuk diam saat sakit, anehnya kali ini dia tidak seperti itu.
"Sya, tidak perlu memaksakan diri, aku tuh tahu kau sangat sakit. Aku akan mentraktir kau makan di restoran dekat sini. Lebih baik kau peluk koper itu, biarkan aku yang mengendarai motor! oke fix, no debat!" ungkap Cleo.
Dia merasa bahwa semua ini tak bisa di biarkan terlalu lama, dia dan Rasya sekarang sama.
Kehidupan yang seperti roller coaster, tapi cukup mampu di pahami.
"Iya cerewet," jawab Rasya sambil mencubit pipi Cleo.
Keduanya terlihat saling menatap.
__ADS_1
Suasana sore dengan langit yang minim awan hitam, cukup santai dan nyaman.
Apalagi warna jingga itu, sungguh luar biasa.
Pantulan maha karya sang pencipta.
"Heh, kau cubit pipiku bayar lho ya," jelas si gadis dengan senyum termanisnya.
Dia begitu senang tanpa sebab, rasanya seperti ada yang kembali setelah lama hilang.
Canda tawa bersama, senyuman, tatapan manis.
Semua yang pernah ada, tiba-tiba hilang dan kini kembali lagi.
Rasa nyaman.
Dia hanya ingin membuat kesan baik-baik saja setelah menjadi mantan, meskipun rasa itu masih ada di dalam hati.
Sebuah perasaan yang lalu, rasa indah bersama yang harus hancur sebab sikap arogansi.
"Hih, kebiasaan! dasar tidak sabaran!" ucap Cleo.
Rasya mencoba untuk bersikap layaknya seorang teman, Rasya tetap tersenyum dan menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang tidak kaku.
Selama ini, dia terlihat seperti dikendalikan oleh ibunya.
Akan tetapi kali ini dia benar-benar bebas, dia ingin melakukan sesuai dengan kata hati.
__ADS_1
Rasya kini sudah duduk di jok belakang sambil memeluk kopernya, sedangkan Cleo mulai menghidupkan mesin dan perlahan tancap gas untuk menuju restoran karena perut sudah lapar.
.
.
.
Di sepanjang perjalanan mereka berdua tidak mengatakan sepatah kata pun karena kehabisan bahan pembicaraan, mereka juga tidak ingin membahas satu hal yang sensitif yang mungkin menjadi suatu bumerang untuk keduanya.
Pada akhirnya, perjalanan yang ditempuh selama setengah jam itu sepi tanpa ada obrolan yang cukup menarik.
Sampai di restoran ...
Sang gadis turun dari motor terlebih dahulu, lalu segera meminta Rasya turun juga bersamanya.
"Kau sangat pandai memilih tempat karena situasinya asri, kanan kiri ada pohonnya. Aku menyukai tempat ini," jelas Rasya.
Dia sepertinya belum pernah datang kemari padahal restoran ini selalu ramai.
"Kau jangan bengong terus, kita segera cari meja, jika kita berada di sini, mana bisa mendapatkan jatah untuk makan."
"Iya."
Rasya menjadi penurut saat ini, daripada nanti dapat masalah.
Apalagi cacing di perut sudah meronta ingin mendapatkan sajian super lezat yang ada di restoran itu.
__ADS_1
*****