SI KUTU BUKU

SI KUTU BUKU
Sudah naik kereta.


__ADS_3

Kini dua orang itu telah sampai di stasiun, dia tidak tahu ke mana ibu dan anak itu akan pergi.


"Kita mencari kemana?" tanya Rasya.


"Aku juga tidak tahu!"


Sang gadis hampir menangis karena tidak bisa menemukan orang yang dia cintai.


Rasya mencoba untuk menenangkannya.


"Kita pasti akan menemukan Gio dan ibunya, kau tenang saja!" jawab sang pemuda.


Dia mencoba untuk menenangkan si gadis agar tidak panik.


"Tapi apa sudah tidak ada di sini bagaimana kita akan tenang? kau mengatakan hal itu karena kau tidak memiliki perasaan!"


"Aku akan menemanimu mencari mereka, tidak perlu merasa sendiri! kau paham kan?"


"Iya, tetapi bagaimana cara mencarinya.


.

__ADS_1


.


.


Di dalam gerbong kereta...


Gio dan ibunya baru masuk ke dalam gerbong lalu menyimpan tas mereka di tempat yang sudah disediakan.


"Ibu, apakah yang kita lakukan ini benar?" tanya Gio.


"Ibu sudah menyerahkan semua hidup kepada Tuhan, lebih baik kita pulang ke desa dan menjadi seorang petani. Kita orang desa yang tidak memiliki banyak harta tetapi cukup bahagia, kau janganlah menjadi orang lain selama berada di kota. Tetap menjadi apa adanya dan merenungkan setiap kejadian yang ada, Ibu merasa bahwa kehidupan kita di kota tidak cocok. Ayah, iyalah sosok yang harus menjagamu. Namun, ada kenyataannya dia sama sekali tidak bertanggung jawab atas dirimu dan kita. Ibu, sudah tidak mau melihat orang-orang yang munafik. Kita akan menjadi pribadi yang sangat luar biasa ketika berada di desa."


Tetapi pada kenyataannya, beliau sama sekali tidak bisa tenang.


Beliau rasakan hidup tanpa seorang suami sungguhlah berat, dia ditinggalkan ketika Gio masih kecil.


Hidup pas-pasan dengan kota yang sangat ramai.


Suaminya, bukanlah panutan untuk ditiru.


Dia belajar tentang suaminya yang dulunya matre, sang suami memang sangat menyukai uang tetapi sang ibu, pernah menyangka jika uang akan memisahkan antara ayah dan anak, suami dan istri

__ADS_1


Bahkan, ketika sang suami sudah bercerai dengan istri barunya, mendapatkan masalah yang tidak kalah pelik yaitu penghinaan yang cukup berat.


Dia disuap untuk pergi dari kota itu, dari rumahnya telah lama ia tempati, rumah yang sangat ia sayangi.


Tempat berteduh yang sangat nyaman, dia salah karena memilih pergi bersama suaminya.


Justru, suami tega meninggalkannya untuk wanita yang lebih kaya dan lebih baik kehormatannya.


"Gio, ibu yang salah karena telah memilih laki-laki yang tidak baik, ibu menolak perjodohan dan kabur dengan ayahmu. Tahun pertama kami menikah, kami merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa tetapi makin lama semakin tidak menentu bahkan dia menuju titik di mana sudah bosan bersama ibu. Ibu, rasa sakit hati karena ayahmu justru tidak menginginkan Ibu ketika kehidupan sudah mulai membaik. Ibu tidak akan mencegah siapapun untuk pergi dan membiarkan ayahmu bersama dengan wanita pilihannya."


Sang ibu, akhirnya jujur tentang apa yang ada di dalam hatinya.


Dia tidak pernah menyangka mendapatkan cobaan yang cukup berat, dia akan meminta maaf kepada ibunya yang masih hidup di desa, sungguh jadi anak yang membangkang sangatlah menderita.


"Ibu, Ibu pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Aku karena Ibu pernah mengatakan kepadaku sehabis gelap terbitlah terang seperti kata Ibu Kartini."


"Iya nak, Ibu juga merasa seperti itu jadi, Ibu hanya ingin menangis hari ini dan nanti malam sudah selesai," ucap sang ibu penuh dengan kesedihan karena dia merasa hidupnya tidak pernah bahagia, kehidupannya sungguh berat sehingga membuat orang sepertinya berada dalam titik yang tertekan.


Sebuah perasaan yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja mengenai perjuangan hidup.


*****

__ADS_1


__ADS_2