
Setelah pamit kepada ibunya, Gio langsung on the way ke kosan gadis itu.
Dia mengeluarkan motor dengan perlahan, lalu segera, lalu tancap gas menuju tempat Cleo.
Beberapa menit kemudian ...
Gio agak ngebut karena melewati beberapa gang, jalan pintas menuju kosan itu.
Untung belum ada orang yang berlalu lalang, yang ada hanya berapa saja.
Sesampainya di kosan itu, Gio menelpon Cleo.
"Cleo? buka gerbangnya aku ingin masuk."
"Cepat sekali sudah sampai di sini, sebentar aku akan membukanya."
Selang beberapa menit dari panggilan telepon, Cleo datang dengan merekah.
Dia berusaha membuka kunci gerbang dan meminta Gio masuk.
"Kenapa kekasihmu bisa ada di sini?" tanya Gio keheranan.
Ini tidak seperti biasa karena jarang sekali seorang cowok bisa masuk ke dalam para cewek.
"Aku sedang marahan dengannya, dia itu telah menduakan aku jadi aku membiarkannya berada di luar. Aku kesel tapi dia justru merepotkan."
"Oh, urusan dalam hubungan percintaan?"
"Iya, kurang lebih seperti itu."
Mereka masih terus mengobrol, dan kini sudah sampai di kamar Anggi.
__ADS_1
"Cleo, tolong kau yang mengganti baju laki-laki ini. Dia sudah pingsan."
"Oke, kalian jangan di sini, nanti melihat hal-hal yang tidak diinginkan."
"Iyah, siapa juga yang ingin melihat."
Gio menahan tawanya karena melihat saingan berada di depannya.
"Aku menggantikan baju sainganku, ini adalah rekor yang paling luar biasa," batin Gio.
Dia tidak mau berlama-lama dengan baju dan tubuh laki-laki yang basah kuyup itu.
Setelah dua gadis keluar dari kamar, Gio segera mengganti baju Rasya dengan baju miliknya yang sederhana.
Gio tidak terlalu membutuhkan waktu untuk mengganti baju itu.
Dia segera meminta dua gadis itu masuk ke dalam kamar.
"Aku anggota PMI, sudah terbiasa merawat orang."
"Keren sih Gio, aku kira orang dekat sama teteh sepertimu lebih suka membaca daripada banyak kegiatan."
"Itu dulu, sekarang sudah tidak, tetapi ilmu-ilmu yang diajarkan aku bisa."
"Mantap! aku memang tidak salah pilih," ujar Cleo keceplosan.
"Ha? apa maksudmu mengatakan semua itu?"
Gio merasa bahwa dia geli sekali, bisa-bisanya Cleo mengatakan hal seperti itu kepada laki-laki culun seperti ini.
So pasti dia sangat terkejut.
__ADS_1
Hingga Anggi meminta Gio untuk kembali pulang, dia tidak mau terlalu merepotkan.
Gio yang ingin berada di tempat itu sambil memantau, tetapi mendapatkan panggilan telepon yang berulang dari sang ibu.
"Gio, akhirnya kau menjawab panggilan ibu."
"Ada apa Bu?"
"Antar baju ke rumah Ibu Hana, suaminya ternyata harus berangkat hari ini, beberapa bajunya harus siap pukul 06.30. Kau antar baju ini ya?"
"Siap Bu!"
Sang laki-laki menatap dua gadis yang berada di depannya.
"Maaf, aku harus pulang karena ada tugas negara."
"Siap!"
Gio tak bisa lama-lama memandang seseorang Cleo, nanti temannya curiga jika dia juga mencintai Cleo.
Cleo mengatakan ingin mengantar Gio sampai depan rumah tapi Gio tidak mau.
Hingga Gio benar-benar harus pergi.
Cleo yang merasa berat melepaskan Gio, hanya kesaksian dan menatapnya keluar dari kamar itu.
"Cleo, sudahlah! kau urus laki-laki ini dan aku akan mandi dulu, semoga setelah beberapa menit dia bisa sadar."
"Semoga saja."
*****
__ADS_1