Silvi (Jadilah Ibuku)

Silvi (Jadilah Ibuku)
pertengkaran


__ADS_3

Hari ini Khairi sudah siap mengantar putrinya yang berulah tahun ke sekolah.


Ya dia sengaja mengadakan acara ulang tahun di sekolah putrinya sesuai dengan keinginan dari Silvia.


Gadis kecil itu sudah siap dengan topi lancip yang di gunakan sesuai namanya.


Bahkan dia sudah membuat topi khusus untuk ibu Silvi kesayangannya.


"Ibu, apa semua saudara juga datang, karena ini acara utama loh," kata pak Indra.


"Sudah yah, tenang saja nanti semua kumpul di sana," jawab Bu Wati.


Akhirnya mereka semua berangkat dan saat sampai di sekolah, ternyata lapangan sekolah sudah di beri pelindung dari panas agar nyaman.


Bahkan sudah di gelar terpal plastik untuk semua anak-anak duduk, Khairi kaget melihat itu semua.


"Ayah, anda meminta pihak sekolah yang menyiapkan semua ini?" tanya Khairi.


"Tidak le, ayah pikir ini kamu," bingung pak Indra juga.


"Selamat ulang tahun putri cantik," sapa Ripin dan Ela.


"Terima kasih,ibu Silvi mana?" tanya Silvia dengan semangatnya.


"Ah mbak Silvi-nya lagi ngurus pesanan, oh ya tapi tenang saja karena nanti juga dia datang kok, jadi sekarang kita bisa bersiap-siap dulu," kata Ela.


"Iya deh," jawab Silvia yang langsung ikut Ela.


"Ripin tunggu, apa ini semua Silvi yang menyiapkan?" kata Khairi.


"Iya mas, karena mbak Silvi bilang jika ulang tahun Silvia harus sangat istimewa," kata pria itu yang kemudian pamit.


Semua murid sudah datang,bahkan kue dua tingkat juga sudah ada, nadi tumpeng juga ada dua.


Tapi Silvia terlihat sedih karena wanita yang di tunggunya belum juga datang.


"Jadi, kita mulai ya acara ulang tahunnya Silvia?" tanya wali kelas gadis itu.


"Tunggu ibu," lirihnya.


"Di mulai saja ya, sudah siang nak," bujuk Khairi.


"Tidak mau .." tangis Silvia.


Tiba-tiba ada lima badut datang, dan seseorang yang bernyanyi happy birthday to you.

__ADS_1


Melihat siapa yang datang membuat semua keluarga dari Khairi kaget, ada Satrio, wanita yang bicara ketus pada Silvi.


"Ibu Silvi..." panggil Silvia.


Silvi menaruh kue ukuran besar yang dia bawa, kemudian memeluk gadis kecil itu.


"Maaf ibu terlambat ya..." kata Silvi.


"Dia sudah hampir drama karna ibu Silvi belum datang, ya sudah kita mulai acaranya," kata Khairi.


Akhirnya acara yang di laksanakan berjalan dengan meriah, bahkan semua anak berfoto dan bermain bersama.


Satrio merasa jika dia di tipu dengan kejam, pasalnya Silvi kenapa bisa dekat dengan putri sepupunya.


Sedang dia kurang apa di banding Khairi yang cuma seorang duda dengan satu anak.


"Wah ternyata wanita tidak sopan itu wanita yang mbak puji ya, cih.... wanita tidak sempurna ini bahkan meminta anak orang lain memanggilnya ibu, cih men-ji-jik-kan sekali," kata bu agung yang ternyata adalah ibu Satrio.


"Ibu... tolong jangan mengatakan hal aneh, ibu tau gadis yang aku bicarakan itu dia Bu..." lirih Satrio pada ibunya.


"Apa!! kamu gila ya, kenapa menyukai seorang janda seperti itu, tidak ibu tak mau kamu menikah dengannya, titik," kata Bu agung dengan kesal.


"Aduh puji, kita bisa bicarakan ini di rumah, jangan di sini ya," kata Bu Wati yang merasa tak elok saja karena ini sekolah.


"Eh wanita ******, berhenti menggoda putra ku ya, kamu itu tak sadar diri ya, sudah janda tak sempurna,masih berani kamu berharap dapat putra ku yang sempurna ini," kata Bu agung.


"Tenang mas, aku tak apa-apa,"


"Lihatlah dia mencoba untuk menarik simpati, dasar wanita tak tau malu," kata Bu agung dengan marah.


"Hentikan ini pesta cucu ku, atau kalian bisa pergi jika tak bisa menjaga ucapan," kata pak Indra yang marah.


Khairi langsung menarik Silvi menjauh, karena dia tau jika gadis itu pasti sedih sekarang


Silvia melihat ayah dan ibu Silvi, dan kemudian lagi untuk menarik keduanya untuk ikut bermain.


Akhirnya mereka seperti keluarga bahagia yang tak seperti pernah di ganggu seseorang.


Setelah acara selesai, Satrio menarik tangan Silvi, "sudah ku bilang berhenti menganggu ku!" bentak Silvi dengan suara meninggi.


"Kenapa kamu seperti ini, katanya kita bisa memulainya tapi kenapa kamu begitu dekat dengan Silvia putri sepupuku!!" teriak Satrio.


"Karena aku nyaman, dan aku tak suka di kekang, aku tak tahan lagi kamu terus membuat ku sesak, maaf Satrio aku tak bisa lagi menjalani ini lagi, aku ingin bebas, aku ingin bebas kemana pun aku pergi," kata Silvi.


Plak..

__ADS_1


"Silvi!" kaget Khairi yang langsung mendekat, dia tak mengira jika bibinya begitu kejam.


"Kamu jangan sok suci, kamu yang menggoda putra ku," kata Bu agung.


"Kalau begitu minta putra ibu menjauhiku, karena aku tak mau berhubungan lagi dengannya, dan mas Khairi maaf sepertinya aku tak bisa dekat dengan keluarga mas lagi, tolong sampaikan permintaan maafku pada Silvia," kata Silvi yang bergegas pergi.


Silvia yang melihat Silvi lari sambil menangis pun, berteriak memanggil wanita yang di anggapnya sebagai ibunya itu.


"Ibu Silvi!!" teriaknya.


Silvi berhenti dan menoleh, melihat Silvia lari ke arahnya, tiba-tiba muncul motor yang di kendarai dengan kencang.


"Silvia awas!!" teriaknya.


Dia pun lari sebisanya dan memeluk Silvia dan Keduanya pun terserempet motor itu, Silvi memeluk Silvia dan mengorbankan dirinya untuk melindungi gadis kecil itu.


"Ibu..."


"Ibu baik-baik saja, Silvia tak boleh sedih ya," kata Silvi yang kemudian pingsan


Khairi pun kaget melihat semua orang berkerumun, dan dia mendengar suara tangisan putrinya.


Saat di lihat ternyata pemandangan yang tak asing bagi Khairi, "ibu Silvi..."


"Silvi!!" teriak Khairi yang memeluk wanita itu.


"Ayah... ibu berdarah..." tangis Silvia .


Khairi pun bangun dan mengendong Silvi yang sudah bersimbah darah,"ku mohon bertahan Silvi,aku tak bisa kehilangan lagi, seperti Nisa dulu," katanya yang langsung pergi membawa tubuh Silvi yang tak sadarkan diri.


Saat sampai dokter pun langsung membawanya ke ruang UGD untuk menangani luka di kepala wanita itu.


Orang tua Khairi datang dan melihat putra dan cucu mereka tampak berpelukan sedih.


"Maafkan Silvia ayah, karena Silvia ibu jadi seperti ini.." tangis gadis kecil itu.


"Ini bukan salah mu nak, tapi salah orang yang tidak punya hati," kata kata Khairi mrligat ke arah Bu agung dan Satrio.


"Bagaimana keadaan Silvi, apa dokter sudah keluar,"


"Belum Bu," jawab Khairi sedih.


"Mak... tadi ibu meluk Silvia, terus ibu di tabrak motor dan kepala ibu yang terbentur aspal keras, ibu seperti ini karena Silvia, dulu bunda juga mati karena Silvia...." kata gadis itu.


"Tidak nak, itu kecelakaan, bukan salah Silvia ya Allah..." kata Bu Wati yang tak bisa menahan tangisnya.

__ADS_1


"Kalian puas bukan, dia orang yang kalian buat seperti ini, sekarang aku tak akan menganggap kalian saudara lagi, cukup aku mohon pergi dari sini, dan jika kalian masih berani menganggu Silvi lagi, aku pastikan akan menghajar kalian," kata Khairi mengancam.


__ADS_2