
Pukul setengah lima pagi, setelah sholat subuh, Silvi melakukan panggil telpon dengan adiknya.
Ya karena sekarang Vidi yang sedang libur baru lulus SMA belum melanjutkan kuliah jadi pemuda itu mengawasi semua.
"Ingat Vidi, jangan menggunakan bahan yang yang tak segar, oh ya minta Uci untuk pesan sayur dan kebutuhan yang lain, aku yakin jika sudah waktunya," kata Silvi.
"Iya mbak, tenang saja karena nanti kalau ada yang perlu di beli aku akan menghubungi mbak, oh ya stok bumbu perbotolan sudah hampir habis nih, tadi barusan Bu Ulfah bilang," kata Vidi yang membantu mengangkat potongan ayam yang akan di jadikan fried chicken.
"Baiklah nanti mbak akan datang dan kita belanja, dan minta setidaknya dua orang untuk menemani mbak ya," kata Silvi.
Tanpa di duga, Khairi datang dan langsung mengecup pipi istrinya itu, "sudah ku bilang biarkan nanti aku yang masak," bisik Khairi.
"Baiklah, nanti agak siang saja ya karena pesanan sore tak banyak, maaf ganggu tolong lanjutkan," kata Vidi yang malu.
"Mas..."
"Apa sayang, aku sudah bilang bukan tugas mu itu cuma melayani ku, dan di rumah ini ada seseorang yang akan datang untuk masak dan bersih-bersih, dan untuk sekarang biarkan aku yang melayani mu," bisik Khairi yang membalik tubuh Silvi dan memeluknya erat.
"Jangan begini... mas tak ada puasnya," kata silvi yang tak bisa menolak.
"Ya mau bagaimana lagi, aku menunggu mu terlalu lama, dan sekarang aku akan menjadikan mu istri ku yang paling bahagia," kata Khairi yang mengendong istrinya itu ke kamar mereka.
Khairi pun tak melepaskan istrinya, setelah merasa kegiatan mereka puas, Khairi bangkit dan pergi ke dapur untuk melanjutkan masakan istrinya yang tertunda.
Sedang Silvi memilih mandi, dan setelah selesai mandi dia keluar dan melihat sosok suaminya sedang tersenyum sambil memakai celemek
"Oh ini pelayanan plus-plus ya, kemana baju mu tampan," kata Silvi tersenyum memberikan kecupan mesra di pipi suaminya itu
"a perlu memakai itu, aku bisa langsung menerkam mu saat selesai makan nanti," kata Khairi tersenyum.
"Emang tuh adik mu sanggup," kata Silvi tertawa membayangkan yang tidak-tidak.
"Kita lihat saja nanti nyonya," kata pria itu membuat wanita itu merinding
Keduanya sarapan dengan nasi merah dan sayur bening, dan dadar jagung, tak lupa ayam goreng yang memang tinggal mematangkan.
Karena tadi sudah setengah jalan tapi karena ulah Khairi jadi pria itu yang melanjutkan.
Setelah makan Silvi bangkit untuk mencuci piring tapi tentu dengan gangguan Khairi.
Tapi saat kedua pengantin baru itu sedang melakukan kegiatan mesra mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara siaran dari pengeras suara dari masjid "assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh... innalilahi wa inna ilaihi Raji'un, telah berpulang ke Rahmatullah bapak Bambang, RT kosong satu dan RW kosong empat, akan di makamkan di makam desa secepatnya, Monggo para warga datang untuk melayat, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Mas itu ada yang meninggal, cepat mandi dan berangkat melayat sana, aku juga mau ganti baju," kata Silvi mendorong suaminya itu.
"Gini sayang kamu bawa uang ya, karena bapak ini itu cuma tinggal dengan istrinya yang buta, dan takutnya nanti butuh bantuan atau bagaimana," kata Khairi yang masih memeluk tubuh istrinya.
"Iya... cepat mandi," usir Silvi.
Dia pun membereskan semua, dan bergegas berganti baju dengan yang lebih sopan.
Dia pun berangkat bersama dengan suaminya untuk melayat, dan kebetulan berbarengan dengan banyak ibu-ibu.
"Aduh nyonya Khairi, kita kenalan yuk, biar bisa akrab sesama tetangga," kata ibu-ibu yang kelihatan sangat baik ini.
"Inggeh Bu," jawab Silvi yang berjalan bersama para ibu, sedang suaminya langsung ikut beberapa pria yang akan ke rumahnya.
Ternyata Khairi ini sering di mintai dana untuk pembelian perlengkapan jenazah bagi keluarga yang tidak mampu.
Dengan senang hati pria itu membantu saja, karena dia percaya jika itu seperti tabungan untuknya di akhirat nanti.
Saat sampai di rumah gubuk itu, Silvi kaget karena belum ada yang memasak.
"Tidak ada yang mau menolong mbak," bisik seorang ibu.
"Astaghfirullah, siapa yang biasanya belanja, ini uangnya tolong segera belanja apa saya yang di butuhkan, dan kita harus segera membuat semua yang di butuhkan ya ibu-ibu," kata Silvi.
Dia tak bertanya di mana istri dari almarhum, karena dia sibuk membuat api karena di rumah itu tak ada kompor gas.
Silvi yang memang memiliki catering jadi dengan cepat dan mudah menyelesaikan segalanya.
Saat semua urusan dapur selesai, Silvi pun mencari istri dari pria yang meninggal.
"Maaf istri almarhum dimana ya?" tanya Silvi.
"Anu mbak, sepertinya dia sedang kaget dan syok berat, ya Allah kasihan sekali mbak," kata seorang ibu.
Silvi pun masuk kedalam kamar, dia kaget melihat sosok wanita itu yang memiliki bekas merah di leher dan dadanya.
Dia mengambil jilbab lebar dan memakaikan pada wanita itu, "ibu... ayo kita keluar, sepertinya jenazah suami ibu akan segera berangkat," bisik Silvi.
"Tidak, suamiku sedang mencari kayu, dia tak meninggal dunia, aku tak percaya," kata wanita itu.
__ADS_1
Akhirnya Silvi pun memutuskan tak mengajak wanita itu keluar, dan ternyata Khairi membisikkan sesuatu pada istrinya.
"Kamu bisa dek," tanya pria itu.
"Iya mas, tunggu sebentar..." kata Silvi.
Dan dia berhasil membujuk wanita itu, ternyata dia itu tak buta total, tapi samar-samar bisa melihat tapi jika terang.
Silvi mengajak wanita itu untuk melakukan acara brobosan, dia tau jika memang benar suaminya itu meninggal.
Wanita itu ingat bagaimana tadi dia menemukan tubuh suaminya di samping rumah dan meminta tolong.
Setelah itu, para pria berangkat untuk memakamkan jenazah pak Bambang.
Sedang para ibu masih menunggu di rumah terutama Silvi dan ibu-ibu yang termasuk jajaran pemerintah.
Sedangkan dari jauh seorang pria menyeringai, "ternyata melakukan hal ini semudah itu, kalau begitu aku akan merampok saja, toh itu lebih mudah," gumamnya yang kemudian pergi.
Setelah selesai pemakaman, para warga pun memutuskan untuk pulang.
Sedang beberapa orang datang untuk membujuk istri pak bambang agar mau di pindahkan ke sebuah panti sosial.
Karena sangat bahaya jika dia harus tinggal sendiri, terlebih wanita itu seorang wanita berkebutuhan khusus.
Dan beruntung salah satu yayasan kenalan Khairi mau membantu menampungnya dan nanti saat sudah sembuh karena akan di bantu pengobatan juga.
Akhirnya pak RT dan pak RW setuju membantu mengurus semua berkas-berkas yang di butuhkan.
Akhirnya Khairi dan Silvi ini pulang sambil berjalan bersama, pria itu tak menyangka mendengar pujian untuk istrinya dari semua ibu-ibu yang tadi membantu.
Ternyata Khairi menikahi gadis yang membuatnya jatuh cinta, karena untuk pertama kalinya dia melihat Silvi yang membantu seorang penjual peyek bayam yang berjualan di lampu merah.
Dia membeli semua dagangan Mbah itu dan membagikannya di tempatnya praktek.
Ternyata sekarang pun wanita itu tak beri ah, bahkan siap membantu jika kekurangan biaya untuk wanita tadi.
"Kamu tak mengenalnya, tapi kenapa kamu begitu baik?"
"Mas tau, kita itu sesama manusia harus saling menolong, setiap harta kita juga ada milik mereka jadi untuk apa kita menimbunnya sampai banyak, toh saat mati kita juga tak membawanya bukan," kata Silvi.
"Istriku memang terbaik," puji Khairi.
__ADS_1