
Bu Narsi merasa aneh dengan Mulyadi yang sudah tidur dari tadi siang, bahkan pria itu tak mengatakan apapun saat pulang tadi
Ya pria itu bahkan tak pulang sendiri ke rumahnya malah pulang ke rumah orang tuanya.
Sore ini, pukul enam sore Mulyadi bangun dan sudah membawa tas untuk bersiap berangkat kerja.
"Kamu ini mau kemana, kok sekarang mau pergi lagi," kata Bu Narsi dengan kesal
"Sudah ibu tak perlu banyak bertanya, terpenting ibu siapkan makanan enak, ini uangnya dan untuk mu putri, jika memang tak sanggup buat pesta nikah di KUA, gak usah sok, nganggur saja banyak tingkah," kesal Mulyadi.
"Kamu ini gimana, sama adiknya kok gitu," kata Bu Narsi tak suka.
"Sekarang mau ikut kataku atau tidak, jika tidak aku akan berhenti memberi uang, dan minta pada putri ibu yang selalu di manjakan itu, dan jangan menganggu ku," kata Mulyadi yang langsung membuat mereka terdiam.
"Ingat ya kamu kuliah juga karena Silvi, jadi tutup mulutmu dan jangan berani mengatakan hal gila atau aku akan merobek mulut mu itu," ancam Mulyadi yang sekarang jadi tempramen.
"Baiklah Putri, sekarang jika kamu mau pesta, minta calon suamimu itu, jangan ganggu kami, sesuai kata mas mu," kata Bu Narsi yang takut jika putranya itu benar-benar menghentikan uang untuknya.
Putri tak menyangka jika keluarganya ini sangat mendewakan uang.
Bahkan lebih berharga uang di banding putri mereka sendiri, tapi dia sebenarnya menyembunyikan hal besar.
Karena nyatanya dia sendiri akan memutuskan kabur dengan kekasihnya dari pada menikah dengan pria tua yang melamarnya.
Terlebih pria tua itu hanya di butuhkan putri sebagai bank berjalan miliknya.
Dia bahkan sudah menyusun semuanya, sedang Mulyadi mengendarai motor miliknya yang memang sudah dia modifikasi sedemikian rupa.
Dia menaruh motornya di area semak yang paling aman, dan dia pun mulai berganti baju.
Sedang di rumah Khairi, pria itu tak percaya dengan apa yang dia lihat, pasalnya ada tamu yang menurutnya sedikit aneh
"Hei kenapa memandang kami seperti itu suami bos ku?" tanya Uci dan Ela.
"Kalian datang mau apa, jangan bilang mau ganggu kami ya," kata Khairi memicingkan matanya.
"Tenang saja mas, mereka hanya mengambil gaji, memang kalian lembur?"
"Tentu tidak, Rara mereka semua datang sendiri karena ingin mengambil gaji," kata Ela yang membuat Silvi tertawa.
Bagaimana tidak ternyata semua karyawannya datang ke rumahnya untuk mendapatkan gaji dan bonus mereka.
Bukan Silvi tak mau memberikan, karena tadi dia lupa tak membawanya saat pergi belanja.
Akhirnya Khairi menghentikan pedagang bakso langganan dan membiarkan semua orang makan bakso dulu.
Bahkan tetangga juga di panggil, "ini nih enaknya, kapan lagi nih suami bos traktir bakso kalau gak begini," kata Ripin tertawa.
__ADS_1
"Sudah makan saja, nanti yang mau bungkus ya Monggo," kata Khairi yang makan satu mangkok berdua.
Setelah semua puas dan membungkus bakso, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing.
Sedang Khairi dan Silvi masuk kedalam rumah, sedang di kegelapan malam.
Seorang pria sedang menunggu mangsa untuk di rampok, dan kebetulan dia menemukan rumah kosong.
Dan dengan leluasa dia menggasak semua perhiasan dan uang di rumah itu.
Entah berapa ratus juta yang dia dapatkan, itu tak penting karena dia mendapatkan apa yang dia inginkan dengan aman.
Setelah itu dia memilih untuk bersembunyi dulu untuk mencari sasaran rumah yang selanjutnya.
Dan dia melihat ada sebuah rumah mewah lain yang tampak begitu sepi.
Perumahan itu memang sangat mewah, bahkan pemiliknya dengan tanpa pengamanan bisa meninggalkan begitu saja.
Dia pun masuk kedalam rumah itu, ternyata hanya ada dua pelayan wanita yang ada di rumah itu.
Dan dengan mudah dia melumpuhkan keduanya, dan ternyata ada seorang bayi di kamar.
"Bayi baik, sebentar ya kamu harus tenang karena jika tidak aku akan membunuh mu," gumam pria itu yang langsung menggasak semua uang yang ada di brangkas.
Tak sulit baginya membobol brangkas lama seperti itu, terlebih dia juga ahli kunci dan sering melakukannya.
Tanpa bicara dia langsung mencekik dan mematahkan leher bayi itu agar diam.
Dan dia melenggang pergi seperti rumah itu tak pernah mengalami kejadian buruk apapun.
Dia berjalan ke arah pedesaan yang masih sangat sepi untuk jalan setapak, dan tanpa terduga dia malah melewati rumah gubuk yang semalam menjadi tempatnya untuk bersembunyi.
Dia pun menyeringai lebar dan berjalan mendekati rumah itu, dan dia ingin menikmati wanita semalam ya kan gratis.
Dia mendekati rumah itu, dan langsung mengintip dan memastikan tak akan ada orang yang ada di rumah itu.
Terlebih suami wanita itu sudah mati di tangannya, tapi saat dia ingin masuk tiba-tiba ada dua orang bapak-bapak datang.
Kedua bapak-bapak itu terlihat membahas sesuatu, terpaksa dia harus bersembunyi terlebih dahulu.
"Kita yakin nih mau melakukan ini, ya meski dia mengiurkan pasti dia sadar dengan suara kita, aku takut nih pak," bisik salah satu pria berbadan gemuk itu.
"Halah penakut nih pak, memang tak mau kah menikmati tubuh mulus janda yang baru di tinggalkan itu, lagi pula kan aku sudah mengajarkan kamu kan, jangan bersuara jika di dalam, cuma gunakan isyarat, mengerti," kata pria yang bertubuh hitam cungkring itu.
Pria itu ingat di ponselnya ada suara kuntilanak tertawa, dia pun menyalakan musik itu.
Otomatis mereka langsung lari ketakutan, terlebih pria itu melemparkan sebuah batu pada keduanya.
__ADS_1
Sedang di rumah orang tua Silvi, ketiga orang itu sedang santai berbincang di dalam rumah.
Mereka sebenarnya ingin bertemu atau mencari putri pertamanya tapi di tahan oleh Vidi
Karena Suska sudah sering seperti itu jadi tak perlu di cari lagi, karena wanita itu pasti akan pulang jika suaminya itu sudah membuangnya.
"Kamu kok tega banget sih le, bagaimana pun dia itu kakak mu," kata pak Sutrisno.
"Aku tau yah, tapi kenapa kalian begitu khawatir, padahal dulu pada mbak Silvi tak begitu, jadi harus adil dong, jika kalian masih mau mencarinya aku akan tinggal di mess, dan tak pulang, buat apa aku harus tinggal di tempat anak tak di perhatikan seperti aku dan mbak Silvi," kata Vidi.
"Iya iya maafkan ayah dan ibu, tapi ayah percaya jika Siska pasti sudah bahagia dengan suaminya, terlebih pria itu adalah pilihannya sendiri," kata pak Sutrisno.
"Iya yah, ibu juga berharap seperti itu," kata Bu tri.
Pria itu bisa masuk kedalam rumah gubuk wanita itu dengan mudah, tapi dia kaget saat sudah di dalam sana.
"Siapa itu?" kata wanita itu datang membawa tongkat yang biasa dia gunakan untuk menunjukkan dia jalan.
Dengan mudah pria itu meringkus wanita itu, "ssttss diamlah, atau aku akan membunuh mu,"
"Kamu siapa dan mau apa?" tanya wanita itu ketakutan.
"Aku itu menolong mu, tadi kamu tau ada orang yang ingin datang untuk memperkosa mu," bisik Mulyadi menyeringai.
Dia kini benar-benar sudah menikmati pekerjaannya menjadi perampok, dan dia tak punya rasa bersalah sedikitpun.
"Terima kasih, tapi kenapa kamu menahan ku seperti ini," tanya wanita itu ketakutan.
"Tenang saja, aku ingin bertanya siapa namamu, dan berapa umur mu," tanya pria itu.
"Aku berumur dua puluh delapan tahun, dan namaku Menik," jawab wanita itu yang tak bisa melakukan apapun.
Karena dia merasakan ada benda dingin di lehernya, "baiklah menik, mulai sekarang kamu Wanita ku, dan jika kamu berani kabur dariku, awas saja aku akan membunuh mu," bisik Mulyadi
"Apa ... tapi kenapa, karena lusa aku akan di jemput dan di bawa ke rumah sosial," kata wanura itu.
"Pergilah tapi jika kamu benar-benar berangkat, skumakan membakar tempat itu, jadi tetap lah di sini dan aku akan mencukupi kebutuhan mu," kata pria itu
"Tapi aku tak bisa melihat apapun saat malam hari," kata wanita itu.
Tapi itu yang memang Mulyadi inginkan, dia langsung menyumpal mulut wanita itu dan mendorong ke atas lantai semen.
Dan melakukan apa yang dia inginkan, dan dia tak peduli dengan berontak wanita itu.
Dan setelah puas dia memilih merokok, dia tak mengira wanita buta itu membuatnya tergila-gila bahkan dia tak kalah dari Silvi yang di akui istri terbaik.
Mau bagaimana lagi, dia tak suka Silvi yang selalu menangis, tapi dengan wanita ini membuatnya tertantang.
__ADS_1