
Silvi pun meninggalkan Silvia yang kembali terlelap karena obat, dan akan segera di pindahkan.
sebelum pergi, Silvi mencium tangan bocah cantik itu, dan akhirnya dia pun keluar.
"maaf pak.. ibu.. saya mau pamit ke ruangan rawat bapak saya, mas Khairi yang sabar ya ... permisi," pamit Silvi yang mencium tangan kedua pasangan yang terlihat serasi itu.
"iya nduk," jawab keduanya.
Khairi pun mengangguk dan melihat kepergian dari gadis itu, tak hanya itu mereka pun tak menyangka akan melihat gadis sebaik ini.
"bagaimana Khairi, kenapa ibu rasa Silvi ini gadis baik ya, tapi sepertinya hidupnya sangat rumit," kata ibu pria itu.
"itu memang benar Bu, tapi lihatlah dia terus tersenyum seperti tak ada yang bisa mengusik dirinya," kata Khairi yang kemudian memeluk ibunya dan bergegas mengikuti suster.
dia ruang rawat pak Sutrisno, pria itu tampak sudah sadarkan diri sekarang.
dia melihat putri keduanya yang berdiri di sana, "kenapa dia disini?"
"bapak tolong ya ini mohon, jika bukan karena Silvi dan Vidi,mungkin kita sudah hidup di jalanan pak, karena menantu kita itu...." tangis Bu Tri.
"ibu kenapa kalian harus hidup di jalanan, ada Silvi Bu, meski rumah ku tak besar, setidaknya bisa untuk menampung kita semua kok, ya meski harus bergabung dengan dapur untuk catering," kata Silvi yang tersenyum merangkul Vidi.
"tenang mbak, selama aku ada, kedua orang itu tak akan bisa mengusik kehidupan kita, ho-ho-ho," kata Vidi sombong.
"ya terserah dirimu," jawab Silvi tertawa.
pak Sutrisno kini merasa malu melihat putri keduanya itu,gadis yang tak pernah dia sayangi.
kini malah menjadi orang yang sangat berjasa melindungi keluarganya dari kehancuran.
sedangkan Siska di rumah sedang bingung dan tak tau harus bagaimana.
karena dia tak berhasil mendapatkan sertifikat rumah milik orang tuanya.
sedang di kampus, Satrio sangat gelisah, di terus terbayang senyum manis dari Silvi yang membuatnya seakan sulit tidur.
"ada apa si Rio, dari kemarin melamun terus," kata Dani sahabat pria muda itu.
"sepertinya aku jatuh cinta deh, pada pandangan pertama tau, ingat gadis yang ada di tempat catering itu, ah... sepertinya dia sudah mengambil hatiku," kata Satrio.
__ADS_1
"wes kumat, orang gak ada yang cantik, tapi jahat gitu, memang kamu mau apa?" kata Dani yang heran melihat temannya itu
"bukan dua gadis itu, tapi pemiliknya yang sedang tertawa dia sangat cantik," kata Satrio yang sudah tak bisa lagi menahannya.
"wah gila anak ini, kamu tau gak meski di itu cantik, tapi dia itu janda tau," kata Farid ikut kesal mendengar perkataan Satrio.
"baiklah terserah dirimu saja, karena bagiku dia itu masih cantik dan menggoda," kata Satrio yang benar-benar membuat dua temannya itu terdiam.
"Silviana Ayundani, namanya lengkapnya, dan nama Ig darinya, @Miss Ayundani_" saut seseorang.
Satrio menoleh dan melihat temannya yang baru datang itu, "wah benarkah, itu Instagram-nya kalau begitu terima kasih Yuda sudah mengatakannya," kata pria itu sangat senang.
dia pun langsung mencari sosial medianya, langsung ketemu ternyata wanita itu pebisnis sukses.
Satrio yan menyangka ternyata selain catering wanita itu juga kuntak toko Frozen food.
"ah lihatlah, apa dia terlihat seperti janda tetangga kalian, tentu saja tidak lihatlah wajahnya yang cantik dan tubuhnya yang sangat bagus," kata Satrio.
"sudah sudah nik kayaknya, karena otaknya udah kena," kata Dani geleng-geleng.
itu membuat mereka semua tertawa, dan akhirnya mereka pun pulang setelah kelas di tiadakan karena dosen mendadak ada acara.
dan cafe itu memang dekat dengan rumah sakit, dan tanpa di duga Silvi datang ke kafe itu untuk membeli kopi.
"pesan kopi hitam dengan sedikit gula tiga, teh hangat dua dan es cappucino satu, dan saya minta semua jenis roti itu dua-dua tapi nanti tolong di pisah, jadi dua kita mengerti," kata wanita itu memesan.
"jadi satu kotak ada delapan jenis roti itu?"
"iya itu bener," kata Silvi yang merasa ada yang sedang mengawasinya.
"baiklah mbak, silahkan tunggu," kata pelayan itu.
dia pun membawa nomor antrian, dan menunggu di meja kosong, tapi saat dia bayi duduk dia kaget melihat sosok pemuda yang tadi pagi itu kembali datang ke hadapannya.
"maaf anda kenapa tidak sopan, dan jangan tersenyum mengerikan seperti itu," kaget Silvi.
"ya Tuhan nona cantik, kamu sudah lupa padaku, aku pemuda tadi pagi, yang baru saja mengikuti mu tolong follback ya," mohon pria itu.
akhirnya Silvi melihat ponselnya dan memenuhi keinginan pemuda itu, "sudah tak, sekarang bisa kamu tolong pergi, karena melihat seperti ini membuat ku malu," kata Silvi yang bangkit dan segera mengambil pesanannya.
__ADS_1
tapi Satrio yang sotoy langsung menahan tangan gadis itu, tapi tanpa di duga.
Satrio langsung mendapatkan sebuah tamparan keras karena Silvi merasa ketakutan.
plak..
"jangan kurang ajar, aku tak mengenal mu," kata Silvi yang menunjukkan tatapan berbeda.
Dani yang mengetahui jika wanita itu punya trauma, langsung menahan temannya itu.
"tolong maafkan teman saya mbak, dia memang seperti ini, dan maafkan kami ya," kata Dani yang memang jurusan psikologi.
"tapi mbak.."
Dani mengeleng dan memberikan kode untuk pemuda itu diam, Silvi sampai gemetaran saat mencuri pun miliknya.
sedang Yuda dan Farid yang melihat sosok Silvi pun merasa aneh karena wanita itu tampak panik.
wanita itu langsung pergi, "kenapa kamu menahan ku!"bentak Satrio.
"kamu gila, kamu tak lihat matanya dan apa yang terjadi, dia itu tak nyaman dengan mu, karena dia sepertinya punya trauma masa lalu, kenapa kamu tak begitu peka sih," marah Dani pada temannya
mendengar itu Satrio pun terdiam, sedang Silvi mencoba menenangkan dirinya.
sebelum ke dalam ruangan ayahnya, dia datang ke tempat rawat Silvia dan memberikan kopi dan kue pada keluarga Khairi.
"Tante cantik,"
"Hao sayang, ini Tante bawa roti untuk mu, mana semua orang,kok kamu sendirian?" tanya gadis itu.
"Mak di kamar mandi, sedang ayah dan bapak sedang ke musholla," kata gadis itu.
yang memilih roti sebuah roti stroberi, dan langsung terlihat sangat gembira.
"apa enak cantik kuenya,"
"iya Tante, tapi bisa tidak aku memanggil Tante ibu... karena-"
"Silvia," kata Khairi yang membuat putrinya itu kaget.
__ADS_1
bahkan sampai terkejut, "tentu saja boleh, mau panggil apapun boleh untuk gadis cantik ku ini," kata Silvi memeluk gadis itu karena melihat gadis itu yang tadi kaget karena Khairi.