
Khairi malah dapat pelukan sekarang, "sudah sekarang ayo mandi dan segera makan, kita semua bau asem," kata Silvi yang tersenyum.
mereka semua pun tertawa dan bergegas lari pergi untuk mandi dan sholat ashar.
setelah sholat mereka duduk bersama, dan ternyata tak jadi makan, Mak Inah mengantarkan pisang goreng untuk menemani semuanya yang sedang berkumpul di ruang tengah.
pasalnya Silvi sedang mengawasi putrinya itu belajar, sedang Khairi mengerjakan beberapa pekerjaan yang sengaja dia bawa ke rumah.
"yey selesai ..."
"putri mama menang pintar, sekarang Mama mau siapkan satenya dulu, ingat jangan ganggu ayah ya," pesan Silvi pada putrinya itu.
"siap mama," jawab Via yang memilih membaca buku dari pada bengong.
Silvi langsung mulai membumbui daging yang sudah di rendam dengan nanas.
setelah itu langsung mulai membakarnya, dan aroma dari masakan itu menyeruak menyebar.
Khairi melihat putrinya, "lapar gak dek?"
"mama lapar!!" teriak via yang lari ke arah dapur diikuti Khairi
"sabar ya sayang, masih dapat lima, kalian duduk dulu biar mama matangkan dulu ya," kata Silvi.
__ADS_1
"siap mama ..."
kedua orang itu memilih duduk santai di meja makan, terlihat Mak Inah menyiapkan yang lain.
seperti nasi yang baru matang, dan urap-urap sayur juga dan juga gorengan tahu tempe.
"Mak Inah ikut makan di sini?" tanya Via yang penasaran.
"mboten mbak, Mak pulang karena sudah rindu cucu," jawab wanita setengah baya itu.
"Mak ini di bawa ya, untuk yang di rumah, dan besok tolong belanjakan apa yang sudah saya catat tadinya,"
"inggeh Bu," jawab wanita itu.
Silvi menaruh ada sekitar dua puluh lima tusuk sate daging sesuai request dari kedua orang kesayangannya.
"mbak Via pimpin doa dulu," kata Khairi yang membiasakan putrinya itu.
setelah itu, mereka semua makan bersama-sama, terlihat via dan Khairi nampak begitu lahap dalam makan.
"tenang ayah, ini sangat banyak loh, Via juga paling banyak makan enam," kata Silvi yang mengenal putrinya itu.
sedang wanita itu memilih makan urap-urap karena sedang makan itu, entahlah dia tak pernah seperti ini
__ADS_1
di tempat lain,seorang wanita terpaksa menerima dia di nikahi oleh orang yang telah memperkosanya, "bagaimana mau Kabir lagi, aku sekarang bisa memastikan mu tidak bisa lari lagi,"
putri hanya bisa menangis saja, pasalnya wanita itu sudah tak berdaya sekarang.
dia ingat dia di serang oleh seseorang dan kenapa dia berakhir di rumah bajingan tua ini.
dan sekarang yang di otaknya hanya satu, bagaimana kabar kekasihnya yang kemungkinan dalam bahaya.
"kamu pasti bingung dan khawatir bukan, aku bisa memberikan sedikit bocoran tentang sesuatu, kamu tau jika kekasih mu itu sudah menjadi almarhum, jadi sekarang kamu bisa saja pergi dari sini atau menerima ku jadi suami mu, itu terserah dirimu," kata dia itu santai.
sedang Mulyadi mampir ke rumah dan menjual motor miliknya dan mengurus sesuatu.
Dewi menunggu mantan suaminya itu, tentu saja Mulyadi tak peduli pada wanita itu toh dia sudah tak tertarik lagi pada Dewi.
dia sedang berada di sebuah klinik mata untuk konsultasi tentang operasi lastri untuk wanita yang sekarang jadi wanitanya.
dokter menyarankan untuk Mulyadi membawa wanita itu datang ke klinik untuk melakukan pemeriksaan.
agar dokter tau apa yang harus di lakukan, karena operasi itu cukup riskan jika pasien tidak di periksa terlebih dahulu.
belum lagi jika pasien memiliki penyakit seperti diabetes itu juga akan berpengaruh nantinya.
kemungkinan besar pun penglihatan tak mungkin akan bisa normal kembali, tapi bisa lebih jelas di bantu dengan kaca mata.
__ADS_1