
Menik ternyata bisa melakukan operasi untuk menyembuhkan mata wanita itu.
setelah melakukan itu tindakan operasi ringan, Mulyadi mengajak kekasihnya itu pulang karena dia tak bisa terlalu lama di kota.
setelah selesai, kini mereka kembali ke rumah untuk membiarkan wanita itu istirahat.
perjalanan pria itu cukup lama, Menik memeluk tubuh Mulyadi, saat motor itu mulai naik ke atas gunung.
untungnya tak ada orang yang curiga dan kepo, karena pagi itu banyak orang yang sibuk bekerja di kaki gunung.
Mulyadi mengajak mrnik masuk kedalam rumah sederhana itu dan meniatkan wanita itu duduk di sana..
"tetaplah di sini, aku akan pergi membeli kebutuhan kita dulu,"
"apa lama?"
"tidak akan lama, sudahlah duduk di sini dulu, dan jangan kemana-mana ya," kata Mulyadi yang memutuskan untuk turun.
wanita yang biasanya menjaga Menik juga tak datang, sebenarnya Menik sudah bisa melihat.
tapi hanya sedikit sabar, karena harus menunggu beberapa waktu lagi.
__ADS_1
Menik berjalan menuju ke kamar mandi, dia sudah hapal jadi dengan mudah ke tempat itu.
Mulyadi berada di sebuah toko swalayan yang sangat besar, dia membeli beras dan semua kebutuhan yang di gunakan untuk bertahan hidup.
bahkan dia membeli beberapa peralatan yang baru, karena sebentar lagi wanita yang dia culik itu bisa masak sendiri.
jadi dia tak perlu was-was untuk orang yang wara-wiri ke rumahnya.
setelah membeli semua itu, dia langsung bersiap untuk pergi ke rumah miliknya lagi.
sedang di tempat kondangan, Silvi terus bergandengan tangan dengan Khairi, bahkan pria itu seakan tak ingin istrinya itu pergi jauh darinya.
"mbak ayo kita ke depan untuk foto," ajak adik iparnya,"
"mas ini kenapa sih, kok sensitif amat," kata Silvi heran.
pasalnya Khairi yang tak pernah berkata kasar, tiba-tiba menjadi ketus begini.
"aku tak tau, pokoknya aku ingin kamu hanya ada di samping ku, itu cukup..."
"baiklah aku di sini, dan lihatlah itu para rombongan dari keluarga pria datang, Via kenari sayang," panggil Silvi yang tak ingin putrinya biru terluka
__ADS_1
akhirnya mereka bertiga memilih duduk saja, dan menikmati setiap prosesi pernikahan dari jauh.
entahlah Khairi sepertinya sedang mengalami masa sulit sekarang, karena pria yang biasanya bisa melakukan semuanya sendiri, tiba-tiba menjadi manja seperti ini kan aneh.
acara itu berjalan cukup lama karena tradisi yang di ikuti dan di jalani.
Silvi mencegat seorang patah pengantin, dan minta bedak untuk Via.
tapi tanpa di duga, perias itu malah mengoleskan pada Silvi dan Khairi, "mas ya sawanen Mbak, maaf ya.. "
ternyata benar, saat setelah di olesi bedak manten dan di bacakan doa oleh perias tiba-tiba Khairi tampak begitu segar.
"ya Allah... kok Aya Aya wae ya," kata Silvi tertawa melihat suaminya itu.
"biasanya ini terjadi karena istrinya sedang hamil, dan yang lebih sensitif adalah ayah jabang bayi, jadi sehat-sehat ya ibu dan bayinya,"kata perias manten itu
"amiin... iya Bu, terima kasih," kata Khairi yang tiba-tiba mengusap perut rata Silvi dan membacakan doa.
"ayah... di perut mama ada adek bayi ya?" tanya Via dengan sangat bahagia
Silvi tak percaya dengan apa yang di katakan oleh perias manten itu,meski dia sedikit menyukai beberapa hal aneh tapi tak semua di sebabkan dia hamil kan
__ADS_1
terlebih dia tak ingin terlalu banyak berharap karena dulu dia saja menikah cukup lama juga tak bisa hamil.
jadi dia mau berharap pun takut, takut dia kecewa dengan dirinya sendiri yang tak sesuai harapannya.