
Setelah berbelanja vamilan dan semua yang di inginkan, di rumah Via membagikan semua yang di beli tadi.
Bahkan gadis itu tak segan memberikan pada sepupu yang masih ada di rumah kakek neneknya.
"Aduh Via kenapa beli banyak sekali, kasihan om Luqman dong yang beliin," tegur pak Indra pelan.
"Tidak kok, ini Via beli sendiri dengan uang pemberian mama, kan Via tadi di kasih sebelum pulang kesini," jawab bocah itu yang membawa sisa camilan di kresek ke kamarnya.
"Ya Allah via, jangan kebiasaan makan di kamar," panggil Bu Wati.
"Tidak kok," jawab gadis kecil itu.
Karena Via lebih suka duduk di kamar sambil belajar karena dia ingin jadi juara satu, karena gadis itu ingin mendapatkan hadiah yang sudah di janjikan oleh Silvi.
Sedang di rumah Khairi dan Silvi sedang duduk santai menonton tv, bukan tak ingin istirahat
Tapi dia memasukkan pesanan tak membludak setelah libur beberapa hari.
Karena dia belum bisa ke tempat catering sebab itu permintaan dari Khairi selama dua cuti dia tak boleh kemana pun.
Setelah pekerjaan mereka selesai, Khairi langsung duduk mepet ke arah istrinya.
"Kunci pintu dan yang lain dulu," kata Silvi
"Sudah," jawab Khairi yang mulai melakukan sentuhan.
__ADS_1
"Ih bentar masih jam delapan, dasar mas ini ah..." kata Silvi yang lari ke kamar.
Melihat itu Khairi Langsung mematikan lampu rumahnya dan lari ke dalam kamar.
Ternyata dia sudah melihat istrinya itu sudah tertelungkup di ranjang, "sayang jangan begitu dong," kata Khairi.
"Karena mas terus menerus membuat ku tak bisa melakukan sesuatu yang membuatku semakin tak berdaya," kata Silvi.
Di desa tempat tinggal Khairi ini memang memiliki hansip yang selalu berjaga untuk menjaga.
Bahkan mereka sering bergantian dalam menjaga kampung, terlebih para warga tak segan membayar mahal untuk para hansip itu bekerja.
Seperti malam itu para hansip itu sedang berkeliling, bahkan gapura yang menuju ke arah perumahan itu sudah di palang saat jam sebelas tak boleh ada orang yang masuk dan keluar sesuai perjanjian dengan pihak RT RW.
"Kamu merasa gak sih kalau hari ini suasananya sedikit aneh dan dingin gitu," tanya salah satu hansip.
"Halah... kamu kayak gak pernah jadi pengantin baru saja, sudah lanjut keliling, karena aku dengar di desa sebelah kemarin ada yang kemalingan, meski yang hilang burung dan penutup got, tapi ya bikin resah," kata kedua hansip itu.
"Memang orang gila yang mencuri, oh ya apa kita bisa minta rokok gak nih ke siapa gitu, aduh kecut nih mulut ku," kata salah satu hansip yang sedikit lebih pendek.
Tapi saat melewati jalan tembusan dari perumahan itu, mereka melihat seseorang mengunakan jaket hitam bertudung.
"Siapa, woi.. maling ya!!" teriak kedua hansip itu yang langsung mengejar pria itu
Pria itu pun sebisa mungkin lari, dia tak menyangka jika perumahan itu di jaga keamanan.
__ADS_1
Dia melihat sebuah rumah yang ada di ujung desa, rumah itu gubuk itu ternyata milik seorang wanita buta sepertinya.
Beruntung setelah masuk dia bersembunyi agar tak ketahuan, tapi tanpa terduga wanita itu terbangun
"Siapa itu, kamu siapa," kata wanita itu yang malah membuat keributan.
Karena takut wanita itu mengundang dua hansip yang sedang mengejarnya.
Dia pun berjalan dan membuat wanita itu pulang dengan memukul tengkuk leher wanita itu.
Setelah itu dia menidurkan wanita itu di ranjang yang terbuat dari galaran bambu itu.
Akhirnya dia bisa bersembunyi dengan tenang, akhirnya hansip itu pun pergi meninggalkan tempat itu.
Pria itu ingin pergi, tapi dia melihat wanita yang sedang pingsan, karena dia melihat jika wanita itu punya bentuk tubuh yang lumayan.
Akhirnya pria itu pun tergoda dan untuk mulai mendekat dan menikmati tubuh wanita itu.
Tapi dia tak bodoh, dia meninggalkan wanita itu begitu saja setelah memastikan bahwa semua ini aman.
Tapi tanpa terduga, sepertinya suami dari wanita yang baru dia nikmati itu pulang.
"Siapa kamu!!"
"Sialan," maju pria itu yang langsung mendekat ke arah pria itu dan langsung merebut clurit dan mengorok nya dengan keji hingga tewas.
__ADS_1
Setelah itu dia pun pergi meninggalkan tempat itu, dan tak lupa membuang clurit itu ke sungai untuk menghilangkan barang bukti.
Beruntung tadi dia mengunakan sarung tangan, jika tidak semua bisa ketahuan.