
saat di sekolah Via, Silvi memarkirkan mobilnya di tempat yang cukup teduh dan tidak di jalan raya.
setelah dia menjemput via di sekolah, dia pun mengajak putrinya itu pulang.
tapi sayangnya via malah minta jajan terlebih dahulu pada ibunya itu, "mama via mau beli es buah dong,boleh ya yang di dekat lapangan kecamatan itu loh," kata via memohon.
"baiklah sekarang kita beli untuk ayah juga ya, karena ayah pasti juga suka,"
"yey .. terima kasih mama," kata Via
keduanya menuju ke penjual es yang di maksud, tapi saat sampai di sana dan sedang antri.
tanpa di duga mereka malah melihat adegan tak senonoh dari pria dan seorang wanita yang begitu Silvi kenal.
dia pun menutup mata putrinya itu agar tak melihat adegan itu, "itu kok ngilani ya, pak itu tetangganya lagi habis ya obatnya, bisa-bisanya berbuat begituan di teras rumah," kata para pembeli es buah.
"ya mau bagaimana lagi neng, orang bapak itu orang kaya, lagi pula mereka melakukannya di dalam halaman rumahnya, karena saya pernah dengar kalau istrinya menolak pasti akan di hajar," jawab penjual es itu.
putri dan suaminya yang di maksud, ya wanita yang dulu di sekolahkan oleh Silvi dengan berjualan apapun.
kini menjadi istri juragan kaya tapi di perlakukan sangat tidak baik, bagaimana tidak, dia harus melayani pria tua itu dimana pun.
__ADS_1
tak peduli itu di teras rumah atau bahkan saat menyiram halaman. meski rumah berdinding tinggi dan memiliki gerbang.
tapi masih ada celah untuk orang bisa menyaksikan keduanya, Silvi tak habis pikir lagi.
putri pun hanya bisa pasrah, dia sudah tak punya harga diri lagi di tangan suaminya yang tua ini.
"hei sialan, kamu itu ku berikan uang pakailah jamu atau apapun yang membuat milik mu itu kencang dan menghisap, bukan malah longgar tak enak begitu," marah pria itu.
"tapi aku sedang hamil," kata putri menangis sedih.
"tak peduli, jika aku masih merasa milik mu tak enak, aku akan memberikan mu pada semua anak buah ku, dan kemudian menjual mu ke tempat pelacuran, cih..." marah pria itu yang kemudian pergi.
Silvi tau benar jika putri pasti di nikahkan bukan karena cinta, tapi karena uang, terlebih lagi dia mengenal keluarga itu selama tujuh tahun lamanya.
tadi dia bahkan tak peduli Menik sedang apa, langsung saja di goyang.
dia memang sekarang memiliki stamina prima berkat bantuan jamu herbal.
tiba-tiba terdengar pesan masuk dari adiknya, dan dia mengiyakan permohonan putri.
dan nanti akan memberikan jamu yang aman agar wanita itu tak di ceraikan, jika tidak bisa repot.
__ADS_1
Silvi sudah pulang bersama Via, sesampainya di rumah gadis kecil itu sudah menikmati es yang di beli.
sedang Silvi malah memuntahkan semua yang dia makan, setelah itu dia ke dapur dan mencari buah pir.
dan langsung memakannya tanpa banyak bicara sambil menemani putrinya.
Mbok Jum sudah pamit pulang karena jam lima sore, via juga sudah pergi haji tadi.
sedang Silvi duduk santai di teras menunggu suaminya itu pulang, tapi malah dia kedatangan sepupu suaminya yang datang bersama adik dari Mulyadi.
"selamat sore mbak Silvi," sapa gadis yang masih duduk di kelas dua SMA itu.
"sore, Nanda kamu datang dengan siapa, dan kamu tak takut datang kesini," tanya Silvi yang berusaha terlihat tenang
"ini Reza kekasih ku mbak, tentu aku tak takut, kan mas Khairi tak akan marah karena aku adik kesayangannya," kata gadis itu terlalu polos cenderung bodoh.
mobil Khairi datang dan pria itu kaget melihat sosok pemuda yang pernah dia temui saat pernikahannya dengan Silvi akan segera dilangsungkan kapan hari.
"Nanda kamu datang dengan siapa?" ketus Khairi.
"ini kekasih ku mas, sudah aku tadi kesini mau minta buah nangka muda yang ada di depan tuh, maklum ibu kekasihku ini menyukainya, boleh ya," kata gadis itu.
__ADS_1
"ambil saja, kemudian pulang tak baik anak gadis keluyuran tak jelas seperti ini," kata Khairi.